Bisnis Makanan semakin Mendigital

Penulis: Riz/M-4 Pada: Sabtu, 13 Jan 2018, 05:51 WIB Teknopolis
Bisnis Makanan semakin Mendigital

DOK. GO-JEK

SUDAH hampir dua tahun sejak diluncurkan April 2015, fitur Go-food oleh Go-jek memanjakan penikmat kuliner di Indonesia.

Tidak hanya itu restoran dan usaha menengah, kecil, dan mikro (UMKM) bidang kuliner pun mendapatkan keuntungan.

Terbukti sudah 125 ribu merchant seluruh Indonesia tergabung dalam Go-Food.

"Kalau dari komposisi merchant, 80% itu adalah UMKM yang bergerak di sektor makanan, sedangkan 20% itu diisi perusahaan-perusahaan yang sudah punya nama besar," jelas CEO and Founder Go-Jek Nadiem Makarim dalam konferensi pers yang digelar di acara Go-Food Festival di kawasan Blok M, Jakarta, Selasa (9/1).

Nadiem menjelaskan sejak peluncurannya, fitur Go-Food hanya beranggotakan 5.000-10.000 merchant yang mayoritas berada di kawasan Jabodetabek, Bandung, dan Bali.

"Pengguna pesannya itu makanan-makanan lokal kesukaan mereka di warung-warung kecil. Bahkan mayoritas perusahaan besar order makanannya dari Go-Food sekarang. Rata-rata 30% omzet mereka sekarang berasal dari Go-Food," imbuhnya.

Saat awal merintis Go-Food, Nadiem mengaku sulit.

Pria kelahiran Singapura, 4 Juli 1984 itu sempat memasukkan nama-nama menu secara diam-diam, lalu driver Go-Jek datang pesan makanan.

"Kalau dulu yang bisa buka restoran itu orang-orang kaya, karena harus pinjam modal ke bank, sewa toko di mal. Tapi, kalau sekarang cukup dengan bakat memasak saja," tambahnya.

Bermodalkan bakat memasak, masyarakat yang ingin mencoba merintis bisnis kulinernya dapat memulainya dengan mensubmit aplikasi di situs Go-Jek.

Selanjutnya akan diberikan panduan mengenai tata cara pendaftarannya.

"Untuk setiap merchant, fee yang ditarik itu 10%-20% dari harga setiap menu," jelas Chief Commercial Expansion Go-Jek, Catherine Hindra Sutjahyo dalam kesempatan yang sama.

Guna mendukung merchant yang sudah menjadi rekanan perusahaan teknologi itu pada 19 Desember 2017-19 Januari 2018 di Pasaraya Blok M Jakarta.

Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 30 merchant dari kawasan Jabodetabek.

Seperti Goedkoop, Kibo Cheese,Panggang Butet, Mister Lie, Bebek Kaleyo, atau Sate Hadori Bandung ikut dalam festival ini.

"Festival ini menggunakan konsep food court, yakni para pengusaha UMKM dapat menawarkan produk kulinernya. Berbeda dengan food court pada umumnya, para pengusaha tidak perlu menyiapkan dana besar di muka untuk biaya sewa booth dan jasa pelayan. Kami juga akan menyiapkan seluruh kebutuhan peralatan masak, jadi mereka tinggal berjualan saja" ujar Catherine.

Meski tidak ada biaya sewa yang dibebankan kepada para merchant, tapi Go-food menggunakan metode bagi keuntungan atau revenue sharing.

Selama dua minggu pelaksanaan, setiap merchant mencatat penjualan secara daring dan non dating sebesar 50-100 order per hari. Jumlah pengunjung pun mencapai 4.000 orang per harinya.

"Tanggapan yang kami terima dari pengunjung dan merchant yang datang sangat baik dan menggembirakan. Melalui kegiatan ini, pelanggan Go-Food bisa lebih dekat dengan merchant kesukaannya dan bisa mencoba makanan baru," imbuh Catherine.

Dalam kesempatan yang sama Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengapresiasi komitmen Go-Jek membantu UMKM.

Dukungan itu merupakan salah satu prioritas utama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengembangkan usaha mikro dan salah satu bisnis mikro yang paling berkembang adalah kuliner.

"Kami akan selalu mendukung upaya-upaya yang dilakukan berbagai pihak, termasuk swasta, dalam mendukung pengembangan UMKM," pungkas Sandi.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More