Atasi Penipuan Daring, Polisi Bentuk Satgas e-Commerce

Penulis: Akmal Fauzi Pada: Jumat, 12 Jan 2018, 19:52 WIB Megapolitan
Atasi Penipuan Daring, Polisi Bentuk Satgas e-Commerce

ANTARA FOTO/Reno Esnir

DIREKTORAT Tindak Pidana Siber Bareskrim Mabes Polri membentuk Satuan Tugas (Satgas) e-commerce untuk menekan angka kejahatan bisnis di dunia maya.

Satgas ini juga menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Asosiasi Financial Technology (Fintech) dan Ikatan Digital Ekonomi. Satgas tersebut bakal diketuai Kasubdit II Ditsiber Bareskrim Polri Kombes Asep Safrudin.

"Karena sekarang banyak kerawanan. Kita tahu financial technology ada beberapa celah digunakan orang tidak bertanggung jawab untuk melakukan kejahatan. Karena di situ banyak terjadi transaksi secara digital yang tentu polisi harus hadir," kata Asep di Jakarta, Jumat (12/1).

Asep mengatakan kerugian konsumen yang timbul akibat kejahatan e-commerce pada akhir 2017 mencapai Rp2,2 miliar. Angka itu berasal dari laporan polisi terkait kejahatan e-commerce dari September hingga Desember lalu.

"Contohnya kasus soal jual beli barang elektronik semisal telepon seluler secara daring atau barang lainnya. Itu bisa diadukan ke kami," tutur Asep.

Untuk korban penipuan e-commerce yang ingin melakukan pengaduan rencananya Satgas ini akan membuat satu aplikasi. Namun, hal ini hanya sebagai data base Satgas saja. Masyarakat tetap membuat laporan resmi kepada polisi.

"Tetap (buat laporan resmi), tapi menginformasikan dulu baru ditindaklanjuti dengan membuat LP Bareskrim," ujar Asep.

Dalam pengungkapan kasus kejahatan e-commerce, diakui ada kesulitan karena pelaku dapat menghilangkan identitasnya usai beraksi. Namun dengan kerja sama antar stakeholder, lanjut Asep, polisi dapat memonitor pergerakan akun e-commerce para pelaku.

"Kami sampaikan kepada pelaku-pelaku atau operator, ada teknik dari mereka misalnya jual barang A satu kali, ternyata melakukan penipuan. Lalu berikutnya pelaku tidak bisa masuk lagi ke akun tersebut. Nah itu kita kerja sama memonitor akun itu," tegasnya. (OL-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More