Ojek Daring Abaikan Tempat Tunggu Sementara

Penulis: Gana Buana Pada: Jumat, 12 Jan 2018, 18:49 WIB Megapolitan
Ojek Daring Abaikan Tempat Tunggu Sementara

Dok MI

RUAS jalan protokol di Kota Bekasi masih belum steril dari ojek daring yang mangkal sembarangan. Pemberian Tempat Tunggu Sementara (TSS) yang disediakan pemerintah daerah (pemda) diabaikan para pengemudi.

Saat ini pemda telah menyediakan delapan titik TSS untuk para pengemudi ojek daring. Di antaranya terletak di Stasiun Kranji yang memiliki kapasitas 60 unit sepeda motor, Stasiun Bekasi Timur 50 sepeda motor, Bulak Kapal 100 unit sepeda motor, tol Timur 60 unit sepeda motor, Bekasi Cyber Park 150 unit sepeda motor, Hypermall Giant 75 unit sepeda motor, dan Stasiun Bekasi 319 unit sepeda motor.

"Seluruh titik tunggu itu sudah kami berikan. Tapi sayangnya masih banyak ojek daring yang memarkirkan sepeda motor mereka sembarangan, sambil menunggu pelanggan," kata Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Kota Bekasi Fatikhun di Kota Bekasi, Rabu (9/1).

Menurut Fatikun, saat ini pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kepolisian atas keberadaan ojek daring tersebut. Sebab, untuk penindakan angkutan daring domain tersebut ada di ranah Kepolisian. "Kita tidak memiliki kewenangan untuk menindak ojek daring tersebut," tuturnya.

Dia menjelaskan, pemetaan titik kumpul ini untuk mengurai kepadatan kendaraan di kawasan protokol, di antaranya di Jalan Ahmad Yani, Jalan Sudirman dan Jalan Ir H Juanda Bekasi Timur. Hal ini sesuai dengan Peraturan Wali Kota (Perwal) Bekasi Nomor 49 tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Roda Dua Berbasis Aplikasi.

Penetapan titik kumpul itu sudah diberlakukan sejak awal November 2017. "Aturan ini sudah kami sampaikan ke paguyuban ojek daring. Semuanya diberikan pemahaman soal pelarangan wilayah untuk dijadikan pangkalan," paparnya.

Sementara itu, menurut salah satu satu pengemudi ojek daring Rahmat, 32, penyediaan titik pangkalan sama saja mempersempit ruang kerja pengemudi. Sebab penumpang yang memesan angkutannya selalu melalui daring. "Kalau kami kan terserah penumpangnya mau dijemput di mana. Karena kami hanya menjemput," kilahnya.

Riyan mengaku, hanya di Kota Bekasi yang harus mewajibkan pengemudi daring berkumpul di satu titik. Padahal, aktivitas ojek daring tidak berpatokan satu daerah. "Kalau mereka antar penumpang ke luar kota ya harus dilakukan. Itu risiko kami," tandasnya. (OL-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More