Edarkan Obat Keras tanpa Resep Toko Kosmetik Digerebek

Penulis: Administrator Pada: Jumat, 12 Jan 2018, 10:30 WIB Megapolitan
Edarkan Obat Keras tanpa Resep Toko Kosmetik Digerebek

ANTARA/Wahdi Septiawan

JAJARAN Polsek Bekasi Utara kembali mendalami peredaran obat keras secara ilegal di toko kosmetik.

Hal itu dilakukan setelah menyita ribuan butir pil eximer dan tramadol dari toko kosmetik dan obat di wilayah Kampung Asri RT 04 RW 03, Kelurahan Teluk Pucung, Bekasi Utara, Selasa (9/1) kemarin.

"Dua jenis obat ini tidak boleh diperjualbelikan secara bebas. Harus dengan resep obat," ujar Kapolsek Bekasi Utara Komisaris Dedi Nurhadi, kemarin. Namun, di toko itu dua jenis obat tersebut dapat dijual tanpa resep dokter.

Dedi menjelaskan pil jenis itu bisa merusak saraf bila disalahgunakan dan dikonsumsi secara rutin tanpa konsultasi dokter.

"Karena itu, obat ini tidak bisa dijual sembarangan tanpa izin dokter," tambahnya.

Dalam penggerebekan itu, polisi menangkap pengelola toko berinisial AM, 23.

Dua jenis obat tersebut diakui AM dijual sejak lima bulan lalu.

Selain itu, lanjut Dedi, polisi masih menggali keterangan pemilik toko.

Diduga, tersangka AM menjual pil tersebut tanpa sepengetahuan pemiliknya.

"Pelaku menjual pil ini sembunyi-sembunyi, tetapi dijual secara bebas," kata Dedi.

Polisi menyita sebanyak 13 bungkus plastik berisi 13 ribu butir pil eximer dan 16 bungkus plastik berisi 74 butir pil tramadol.

Satu paket pil eximer sebanyak empat butir dijual tersangka sebesar Rp10 ribu.

Dalam sebulan, kata dia, AM bisa mengeruk keuntungan hingga Rp5 juta.

"Modal dia beli pil ini Rp9 juta, dan keuntungan bisa Rp5 jutaan," jelasnya.

AM mengaku obat-obat tersebut ia peroleh dari Herman.

"Pemasok obat tersebut masih kami buru," kata Dedi.

Akibat perbuatannya tersangka AM dijerat Pasal 197 Jo Pasal 106 ayat 1 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman hukuman penjara 15 tahun dan denda Rp1,5 miliar. (Gan/J-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More