Latih Daya Nalar bukan dengan USBN

Penulis: Dhika Kusuma Winata Pada: Jumat, 12 Jan 2018, 09:30 WIB Humaniora
Latih Daya Nalar bukan dengan USBN

ANTARA/Arif Firmansyah

UPAYA meningkatkan daya nalar siswa idealnya tidak hanya dilakukan melalui soal ujian sekolah berstandar nasional (USBN) berbentuk esai.

Upaya itu seharusnya lebih banyak dilakukan pada proses belajar mengajar di kelas.

"Soal esai merupakan bagian dari proses pembelajaran, tapi kemampuan nalar untuk menganalisis maupun menyelesaikan persoalan ada pada proses pembelajaran, bukan pada ujian," ujar pakar pendidikan Mohammad Abduhzen di Jakarta, kemarin.

Ia mengatakan hal itu terkait dengan perubahan model soal USBN tingkat SD tahun ini, yaitu 10% berbentuk esai, bukan hanya pilihan ganda seperti tahun-tahun lalu.

Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, perubahan itu antara lain dilakukan untuk meningkatkan daya nalar para siswa.

Menurut Abduhzen, upaya untuk meningkatkan daya nalar siswa akan jadi sia-sia jika hanya mengandalkan soal berbentuk esai pada saat ujian akhir, tapi ketika proses pembelajaran, sistem berpikir tingkat tinggi tidak diterapkan.

"Jika pembelajaran represif, anak tidak diberi kesempatan dialogis. Maka apa yang kita inginkan, yakni anak yang memiliki daya nalar tinggi, tidak akan tercapai," imbuh penasihat Institute for Education Forum Universitas Paramadina itu.

Idealnya, ujian yang berbentuk esai melengkapi proses pembelajaran yang mengedepankan daya nalar tinggi.

Abduhzen menilai proses pembelajaran yang mengedepankan kemampuan berpikir tingkat tinggi belum terlaksana di sekolah-sekolah.

Sampai saat ini, kata Abduhzen, belum ada kebijakan besar dari pemerintah untuk mengelola pendidikan yang mengedepankan daya nalar tinggi.

Padahal, UU Sistem Pendidikan Nasional mengamanati sekolah untuk menerapkan proses pembelajaran yang mengedepankan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

"Nanti kita akan lihat bagaimana hasil USBN ini dan akan dievaluasi. Namun, yang pasti, jangan hanya menerapkan pada akhirnya (ujian akhir) ," ucap Ketua Litbang Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) itu.

Pelatihan guru

Secara terpisah, Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi mengatakan salah alamat jika USBN digunakan untuk meningkatkan kemampuan guru.

"Kalau USBN untuk meningkatkan kemampuan guru, itu salah alamat karena USBN itu untuk siswa bukan guru," kata Unifah di Jakarta, kemarin.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan USBN dapat meningkatkan kemampuan guru dalam membuat soal ujian.

Menurut Mendikbud, saat ini peran guru dalam pembuatan soal seperti hilang karena soal-soal disediakan dinas pendidikan atau dari LKS dan lembaga bimbel.

Menurut Unifah, upaya meningkatkan kemampuan guru seharusnya dilakukan pemerintah melalui pelatihan.

Unifah mengatakan selama ini pelatihan guru belum terstruktur, belum ada suatu rancangan besar (grand design) pelatihan guru.

PGRI juga menilai seharusnya anak tingkat SD tidak perlu mengikuti USBN karena pemerintah memiliki program wajib belajar sembilan tahun.

"Yang seharusnya diberikan ialah akses pendidikan bermutu supaya semua anak bisa sekolah sembilan tahun." (Ant/H-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More