Motivasi Putri Sampah di Bantargebang

Penulis: Gana Buana Pada: Selasa, 09 Jan 2018, 09:39 WIB Megapolitan
Motivasi Putri Sampah di Bantargebang

Resa Boenard (kedua kiri) yang dijuluki Putri Sampah berfoto bersama lima relawan mancanegara---MI/Gana Buana

BAGAI sebuah oasis di tengah gunung sampah, sebuah rumah bercat merah jambu berdiri di atas lahan seluas 304 meter persegi di sudut kawasan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi.

Resa Boenard, pemilik rumah, tampak sibuk. Lima relawan mancanegara tengah membantunya menyiapkan sebuah ruang pameran (workshop) di loteng atas rumah. Relawan tersebut datang dari berbagai negara, Australia, Irlandia, dan Inggris.

Perempuan yang dijuluki princess of the dump atau Si Putri Sampah itu merupakan salah satu pendiri sekolah motivasi Bantargebang Biji (BGBJ). Ia merasa perlu mendukung anak-anak Bantargebang yang merasa rendah diri lantaran stigma sebagai warga tempat pembuangan sampah.

“Dulu waktu saya kuliah, julukan itu melekat karena di kampus hanya saya yang berasal dari Bantargebang,” ungkap Resa di basecamp The Kingdom of BGBJ, Jalan Pangkalan 5, Bantargebang, Kamis (4/1).

Sejak kecil anak pengusaha biji plastik ini memang berniat membangun wilayahnya. Ia melihat banyak tetangganya yang tidak peduli terhadap pendidikan. Itulah yang memacunya untuk berbagi. “Karena hanya dengan bersekolah mereka bisa merubah nasib,” kata Resa.

Awalnya, Resa ingin menjadi dokter agar dapat mengabdikan ilmunya dan mengajarkan hidup sehat kepada warga TPST Bantargebang. Sayangnya, nasib berkata lain, Resa hanya meraih gelar Sarjana Teknik Informasi dari universitas swasta di Depok, Jawa Barat.

Siapa mengetuk akan dibukakan pintu baginya. Begitulah prinsip Resa. Lewat Sanggar Satu untuk Semua yang berdiri sejak 2004, ia terus membangun jaringan hingga ke mancanegara. Akhirnya, ada saja relawan yang mau membantu dan BGBJ pun beroperasi sejak 2015.

“Sanggar Satu untuk Semua bentuknya kelas resmi belajar. Kalau BGBJ, kita memotivasi dan menyediakan tempat bermain agar anak-anak menganggap tempat ini rumah kedua mereka,” imbuhnya.

Benih-benih unggul
Resa memberi nama BGBJ karena rindu ada benih-benih unggul muncul dari Bantargebang. Anak-anak Bantargebang banyak yang tidak bersekolah. Sama dengan ayah dan ibu mereka. Status ayah dan ibu yang tidak berpendidikan itu pula selalu menjadi alasan anak-anak menolak sekolah.

Kelas motivasi digelar setiap Minggu. Setelah itu, anak-anak diajar bahasa Inggris melibatkan relawan mancanegara. “Pesertanya beragam mulai 30 hingga 60 orang. Kadang selesai belajar mereka tetap di sini, main atau melakukan kegiatan lain bahkan bisa sampai sore, karena memang kegiatannya ada di hari Minggu,” kata dia.

Perempuan 31 tahun ini tidak pernah mengandalkan bantuan dari pihak mana pun untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan. Seluruh kegiatan BGBJ tetap terlaksana atas usaha sendiri. Anggaran diambil dari hasi penjualan produk, seperti pelembab bibir, losion antinyamuk, dan minyak aromaterapi.

John Devlin, 35, salah satu relawan mengaku tertarik berkecimpung dalam kegiatan sosial BGBJ atas panggilan hati. Ia bertemu Resa ketika menyelesaikan tugas akhir kuliahnnya di salah satu universitas di Australia. “Kami (berlima) dalam rangka liburan, sekalian membantu menjadi relawan sosial,” ungkap John. (J-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More