Buruknya Potret Hukum di Mata Seniman

Penulis: Abdillah M marzuqi Pada: Minggu, 07 Jan 2018, 08:56 WIB Tifa
Buruknya Potret Hukum di Mata Seniman

MI/ABDILLAH M MARZUQI

DEWI Themis memang tidak hadir. Tak terlihat sesosok perempuan dengan mata tertutup hampir selalu diterima sebagai simbol dari keadilan. Ia biasa digambarkan dengan sosok perempuan yang memegang pedang di tangan kanan dan timbangan di tangan kiri.

Sang dewi hanya mengirimkan pesan lewat timbangannya untuk menjadi titik fokus utama dalam lebaran kanvas. Meski tanpa sosok sang dewi, wujud timbangan cukup mewakili.

Begitulah hampir sebagian besar sistem hukum mengakui Dewi Themis sebagai simbol Dewi Keadilan. Begitu pula lukisan itu cukuplah untuk dimengerti ketika timbangan yang dimunculkan dalam kanvas lukisan itu, bahwa lukisan itu memang hendak bercerita keadilan.

Itulah karya Idris Brandy berjudul Timbang Menimbang tak Seimbang. Karya Idris menjadi salah satu dari banyaknya karya seniman yang berturut dalam Pameran Solidarity, Peace, & Justice di Balai Budaya Jakarta. Pameran itu berlangsung pada 4-11 Januari 2018.

Kembali pada lukisan, simbol timbangan itu tidak hanya sendiri dalam bingkai kanvas berukuran 80 cm x 110 cm. Figur-figur kecil manusia takpah tercecer dari timbangan. Figur-figur gepeng orang kecil yang tak terwadahi dalam timbangan keadilan sang dewi.

Menilik judul karya juga cukup menarik. Timbang Menimbang tak Seimbang. Judul itu seolah mengungkap proses dan hasil yang tak sesuai. Pertama, untuk membuat sesuatu seimbang, proses penimbangan harus dilakukan secara seksama dan berulang kali. Kedua, ternyata setelah proses yang demikian melelahkan itu dilalui, hasilnya tetap saja tak seimbang.

Tidak seimbang

Menimbang sesuatu yang terus diusahakan agar seimbang dengan proses penimbangan secara berulang-ulang. Namun, hasilnya tetap tidak seimbang. Idris Brandy memaknai karya itu sebagai potret hukum di negeri ini. Bagaimana ketika hukum yang idealnya seimbang, tapi nyatanya tidak seimbang.

Berbincang tema pameran. Secara sederhana, tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia berkutat pada tiga hal, yakni solidaritas, kedamaian, dan keadilan. Bahkan, bukan hanya Indonesia, melainkan juga terjadi ke berbagai belahan dunia.

Sekretaris Jenderal Balai Budaya Jakarta Aisul Yanto mengungkapkan bahwa menilik keadaan era kini yang masih jauh dari tiga nilai tersebut. Kelompok minoritas cenderung ingin menguasai dan memanipulasi situasi. Begitu pula kelompok mayoritas menginginkan keunggulannya untuk menguasai pihak lain. Keduanya berhadapan untuk saling mengusai. Mereka saling menegaskan keberadaan masing-masing sekaligus menegasikan kelompok lain.

"Yang seharusnya hal tersebut seyogianya tidak terjadi, bila masing-masing mengedepankan rasa kebersamaan, perdamaian, dan keadilan bagi setiap keberadaan," terang Aisul Yanto.

Karena itu, menurut Aisul, tata kehidupan baru harus dilakukan dengan berdasarkan konsensus yang telah ada. Tata kehidupan itu harus mengutamakan keselarasan hubungan antarsesama individu, antarnegara, dan bangsa berdasarkan pada prinsip kebersamaan, perdamaian, dan keadilan. Menyikapi situasi seperti itu, para seniman pun berbicara dengan caranya.

"Mereka menggelar hasil pergulatan kreativitasnya, di-ground-zero-nya kebudayaan Indonesia pascaproklamasi, Theresia 47 Menteng Jakarta," tegasnya.

Gempuran globalisasi

Ika Ismurdiyahwati dalam catatan pengantar pameran menyebut bahwa saat ini gempuran globalisasi dan universalitas teknologi terjadi semakin masif, gencar, dan terus-menerus. Hal ini lalu membuat kecenderungan bahwa satu bangsa dengan bangsa lain cenderung mirip satu dengan yang lain. Itulah yang menjadikan pentingnya identitas dari suatu bangsa.

Banyak negara dan bangsa di dunia sedang berjuang dan mempelajari identitas bangsanya untuk membedakan dirinya dengan diri bangsa lain,

sedangkan di Indonesia berlaku sebaliknya, masyarakat malahan sudah cenderung lupa dengan asal-usul budayanya. Masyarakat usia produktif lebih bangga dengan orientasi pandangan Barat daripada semangat nasionalisme.

"Ada keterkaitan dengan kondisi saat ini yang sdh banyak sekali problem dalam berbangsa dan bernegara, yang sebenarnya sangat membutuhkan identitas bangsa yg semakin menipis," terang Ika. Oleh karena itu, pameran itu bertujuan untuk menggali kebersamaan menghadapi 2018 yang baru berumur beberapa hari.

"Pameran ini bertujuan untuk menggali kebersamaan, dalam menghadapi tahun baru 2018. Saya berharap ada peningkatan kualitas dalam memahami berbangsa dan bernegara melalui identitas bangsa dalam berkesenian dan berkebudayaan," pungkasnya. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More