Menengok Warisan dari Pendahulu Bangsa

Penulis: Abdillah M Marzuqi/M-2 Pada: Minggu, 07 Jan 2018, 05:31 WIB Weekend
Menengok Warisan dari Pendahulu Bangsa

MI/ABDILLAH MARZUQI

BUKAN rahasia lagi Indonesia mempunyai kekayaan seni dan budaya yang begitu berlimpah. Namun, sayangnya semua itu hanya dapat dibayangkan. Tidak ada bukti fisik ataupun sumber pengetahuan yang bisa memperjelas bayangan itu.

Beberapa waktu lalu, terdapat sebuah helatan yang bisa dijadikan sekelumit pemerjelas gambaran tentang masa lalu Indonesia, tentu saja dengan kekayaan dan kecantikannya. Sejumlah koleksi unik dari Perpustakaan Universitas Leiden Belanda dipamerkan di Erasmus Huis Jakarta dalam tajuk Treasures of the Asian Library at Leiden University pada 11 Desember 2017-5 Januari 2018.

Ragam rupa manuskrip, peta, hingga foto-foto koleksi ditampilkan, lengkap dengan narasi apik dan sederhana. Itulah sebabnya, tidak butuh banyak tenaga untuk terbawa masuk dalam ragam koleksi. Narasi itu menjadi panduan untuk memasuki ruang Indonesia tempo dulu. Menjelajah setiap bagian dan relung keindahan dan kecantikan masa lampau.

Ternyata masa lalu leluhur bangsa Indonesia juga telah akrab dengan bahasa tulis. Sekumpulan manuskrip berisikan sastra yang dipadu dengan gambar. Manuskrip seolah menyimpan keindahan tersendiri dalam dirinya. Sebab, manuskrip itu dulunya bersifat tertutup yang dibuat dan diperuntukkan secara khusus. Biasanya hanya untuk beberapa pasang mata, sekelompok kecil pembaca, atau malah hanya untuk pemilik atau empu yang membuatnya.

Dalam helatan ini, kekhasan manuskrip ialah seni menghias dengan ragam ornamen dekoratif. Hiasan itu diletakkan secara simetris melingkupi teks. Beberapa bagian memakai struktur mirip candi yang rumit dengan tambahan simbol dan motif yang kaya.

Hiasan itu biasa terletak di pinggiran kertas dan menjadi pembatas dari teks. Hiasan lain yang mudah ditandai ialah yang terletak di awal teks. Itu menjadi simbol visual tentang awal pembahasan.

Seperti dalam ilustrasi adegan bergerak yang terjadi dalam narasi prosa Melayu Hikayat Angkawijaya. Dalam satu bagian digambarkan Lurah Semar alias Sangyang Lila dan Raden Angkawijaya alias Raden Panji Wirang. Naskah itu merupakan bagian dari perpustakaan di Batavia pada abad ke-19.

Geguritan Gunawati

Masih ada pula ilustrasi dari cerita Bali tentang Geguritan Gunawati. Seekor harimau mencoba menyerang Papaka yang sedang bersembunyi di balik dedaunan. Gambar lain menunjukkan situasi berubah. Harimau telah diikat dan ditodongi pisau oleh Papaka. Gambar itu dibuat seniman Bali untuk Herman Neubronner Van der Tuuk saat berada di Bali pada 1870-1894.

Beralih pada koleksi tentang musik dan tari. Indonesia memiliki warisan yang kaya di bidang musik dan tari. Orkestra gamelan dari Jawa dan Bali serta penari dari kedua wilayah tersebut paling dikenal masyarakat Eropa. Sebagian disebabkan seniman Eropa banyak yang menampilkan konser gamelan atau penari Bali dalam lukisan mereka.

Di antara seniman Belanda yang mengunjungi Indonesia pada abad ke-20 Isaac Israels (1865-1934). Fokus seni Israels selalu tentang manusia. Itu tidak berubah saat ia berada di Indonesia. Dia mengisi buku sketsanya dengan potret dan gambar. Dia membuat sejumlah skech dari sebuah orkestra gamelan.

Masih ada foto dari sebuah kelompok tari kecil yang terdiri atas penari wanita dan beberapa musikus perkusi. Biasanya mereka dikenal sebagai komunitas seni keliling yang menampilkan hiburan saat ada keramaian. Walter Woodbury dan James Page ialah salah satu fotografer pertama yang aktif di Hindia Timur.

Selain itu, masih ada Marius Bauer. Ia seniman Belanda yang terkenal. Dia melakukan perjalanan secara ekstensif melalui India dan Indonesia. Gambar-gambar yang dibuatnya di tempat sering menghasilkan adegan figur imajiner dan eksotis, cocok untuk khalayak Eropanya. Terkadang karyanya memiliki nilai yang lebih dokumenter, seperti penggambaran pagelaran wayang, disertai dengan orkestra gamelan.

Selain itu, dalam helatan ini, turut ditampilkan pula litograf yang menggambarkan gapura Kampung Jawa. Itu bukan berada di Indonesia, melainkan di Paris World Fair 1889. Saat itu musisi angklung didatangkan dari sebuah desa di Jawa Barat. Penari Serimpi pun didatangkan dari Solo. Spot itu menjadi favorit selama Paris World Fair 1889.

Direktur Perpustakaan Universitas Leiden Kurt De Belder mengungkapkan koleksi dikumpulkan sejak lama dari berbagai macam sumber. Kini koleksi itu berada di bawah pengelolaan Perpustakaan Asia Universitas Leiden Belanda. Sebelumnya beberapa koleksi tersebar di beberapa perpustakaan seperti The Kern Institute Library (Asia Selatan), The East Asian library (Tiongkok, Jepang, Korea), Royal Tropical Institute (KIT), dan The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies (KJTLV).

Untuk membuat semua koleksi itu berada di bawah satu atap, diperlukan usaha yang begitu besar. Seperti memindahkan bahan pustaka yang jika dijejer bisa mencapai 70 km. Selain itu, juga usaha untuk membuat katalog ratusan ribu item yang belum ada dalam sistem perpustakaan, mengklasifikasi ulang sekitar 5km. Akhirnya Asian Library berdiri dengan tumpukan koleksi sampai 4 km, rak penyimpanan lebih dari 38km.

"Hasilnya, Asian Library dapat mencocokkan koleksi dan layanannya dengan perpustakaan penelitian utama lainnya di Asia secara internasional. Koleksi di Indonesia, termasuk dari the Royal Tropical Institute (KIT) dan The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies (KITLV), adalah yang terbesar di seluruh dunia," terang Kurt de Belder dalam pengantar pameran.

Begitulah warisan kekayaan Indonesia yang tak ternilai. Bukti itu juga menunjukkan bangsa Indonesia mempunyai modal besar untuk menjadi bangsa yang besar, tinggal bagaimana modal tersebut dimanfaatkan untuk mencapai cita-cita seluruh anak bangsa.

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More