Pesan Berharga untuk Ibu dan Anak

Penulis: Ferdian Ananda Majni Pada: Sabtu, 06 Jan 2018, 23:46 WIB Hiburan
Pesan Berharga untuk Ibu dan Anak

DOK. STARVISION PLUS

TIADA yang menandingi kasih ibu. Pepatah 'Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang masa' menunjukkan betapa kasih sayang ibu itu tiada jarak dan waktu.

Hubungan antara ibu dan anak itu ditangkap dengan jeli oleh Ernest Prakasa. Ia menyoroti hubungan ibu dan anak dengan sentilan khasnya melalui film Susah Sinyal.

Film berdurasi 110 menit itu bercerita tentang Ellen (Adinia Wirasti), sebagai orangtua tunggal sekaligus pengacara sukses yang jarang meluangkan waktu dengan anak tunggalnya, Kiara (Aurora Ribero). Keterbatasan waktu dan intensitas pertemuan keduanya menjadi bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu.

Kiara akhirnya tumbuh sebagai remaja pemberontak yang lebih banyak melampiaskan emosi di media sosial. Begitu juga di sekolah, ia kerap berbuat ulah hingga bermasalah dengan gurunya.

Kelakuannya menjadi-jadi ketika Agatha (Niniek L Karim), ibunda Ellen yang sangat menyayangi Kiara, meninggal dunia. Kiara frustrasi karena satu-satunya orang yang peduli dengannya pergi.

Suasana berkabung tidak membuat ibu dan anak ini membaik. Sebaliknya, Ellen dipanggil ke sekolah menghadap guru bimbingan konseling (BK). Kiara berseteru dengan guru akibat gawainya dipecahkan.

Alih-alih menasihati Kiara, guru BK justru menyoroti kehidupan Ellen. Selepas kematian Agatha, perilaku Kiara semakin susah dikendalikan. Kiara sering melawan dan bermain gawai di dalam ruang ketika belajar.

Guru BK menasihati Ellen dan menyarankan untuk berlibur dan memperbaiki hubungan mereka. Pasalnya, akar masalah itu berasal dari buntunya komunikasi ibu dan anak.

Ellen mengajak Kiara pergi berlibur agar mereka berdua memiliki quality time dan membayar kesibukan Ellen selama ini. Mereka akhirnya pergi ke Sumba. Di sana, bukannya menghabiskan waktu liburan yang indah, keduanya justru terlibat pertikaian kecil.

Dalam kondisi mood yang buruk, Kiara biasanya meluapkan perasaan itu di media sosial. Namun, itu tidak bisa lakukan karena jaringan komunikasi sangat susah dan gawai pun tidak bisa digunakan. Untungnya, Abe (Refal Hady) pelayan resor mampu menghiburnya. Kiara menghabiskan liburannya bersama Abe keliling Sumba.

Sekembalinya ke Jakarta, Ellen dihadapkan dengan masalah besar. Proyek besar yang ditanganinya bersama Iwan (Ernest Prakasa) terancam berantakan. Ellen tengah mengurus kasus perceraian dan perebutan hak asuh anak artis papan atas, Cassandra (Gisella Anasthasia), dan suaminya Marco (Gading Martin). Karena ini kasus perdana perusahaan yang ia dirikan, Ellen memilih fokus dalam persidangan hingga sore.

Akibatnya, Ellen lupa ia harus menghadiri dan menonton Kiara tampil di audisi ajang pencarian bakat di televisi yang sudah Kiara persiapkan sejak lama.

Mengetahui ibunya ingkar janji, Kiara pun marah dan memutuskan untuk kembali ke Sumba sendirian. Kiara memilih tempat itu, terakhir kali ia bisa merasakan secercah kebahagiaan bersama Abe. Ellen yang terkejut memutuskan menyusul Kiara ke Sumba. Tapi apakah hubungan mereka berhasil diperbaiki?

Antara drama dan komedi

Ernest kembali berhasil mengangkat hubungan ibu dan anak itu secara emosional. Film bergenre drama komedi itu lebih didominasi drama ibu dan anak. Semakin didramatisasi saat sosok sang nenek meninggal.

Bila di film Ngenest dan Cek Toko Sebelah, komika itu memilih sterotipe etnik tertentu untuk mengocok perut pemirsa. Kali ini ia keluar dari zona tersebut. Ia memercayakan sosok Adini Wirasti dan Aurora Ribero menjadi tokoh utama hingga menghilangkan kesan film komedi secara utuh dan menghilangkan kultur Tionghoa yang lebih dominan.

Meski begitu, suguhan drama dalam film itu tidak sepenuhnya solid. Tidak ada pengembangan drama yang lebih mendalam selain konflik ibu dan anak sehingga unsur drama lain, seperti hubungan antara Aurora Ribero dan Refal Hady, kurang berwarna.

Layaknya film sebelumnya, Ernest kembali melibatkan sang istri Meira Anastasia untuk menyelipkan genre komedi. Tidak hanya itu, unsur komedi semakin kuat dengan kehadiran kembali sejumlah komika sebagai pendukung, seperti Arie Keriting, Dodit Mulyanto, dan Aci Resti, alih-alih mengubah alur filmnya lebih ke sisi human dengan pesan-pesan moral yang berharga. Para penonton lebih mengingat Susah Sinyal sebagai film komedi satir lanjutan dua film sebelumnya milik Ernest. (M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More