Syukrillah Syarif, Binaraga Penjaga Jebor

Penulis: Suryani Wandari Putri Pada: Sabtu, 06 Jan 2018, 13:10 WIB KICK ANDY
Syukrillah Syarif, Binaraga Penjaga Jebor

Syukrillah Syarif---MI/Usman Iskandar

BINARAGAWAN mungkin identik dengan pusat kebugaran. Nyatanya tidak semua binaragawan lahir dari pusat kebugaran seperti di kota-kota besar. Seperti halnya binaragawan di Majalengka. Mereka lahir dari pabrik genteng tradisional alias jebor.

Mereka tidak lain pegawai-pegawai jebor di Jatiwangi yang terbiasa menggunakan ototnya untuk bekerja. Jatiwangi memang identik dengan genting, sejak 1905 genting sudah mulai diproduksi di desa ini.

Sebagai upaya agar eksistensi Jatiwangi sebagai daerah penghasil genteng tidak hilang ditelan zaman, Syukrillah Syarif, mencetuskan idenya untuk membuat lomba binaraga. Sebagaimana yang diketahui masuknya industri garmen membuat jumlah jebor dan perajinnya terus berkurang.

“Dari 500 jebor, sekarang hanya ada 250-270 jebor yang ada, selain permintaan yang berkurang karena ada genting diganti dengan aluminium dan material lainnya,” kata pria yang akrab dipanggil Illa ini.

Ia pun mengatakan, selain untuk mempertahankan genting Jatiwangi, acara ini menjadi ajang silaturahim pegawai dari berbagai jebor sehingga menjadi tontonan bagi masyarakat luas. “Karena kompetisi ini hiburan maka kriterianya ada beragam seperti binaraga termuda, tertua, terlucu, tergendut, dan lainnya,” kata Illa.

Lomba ini diikuti para pekerja jebor, minimal sudah bekerja selama tiga bulan. Nantinya pemenang akan dihadiahi piala bergilir berbentuk otot tangan mengangkat genting dan hadiah total Rp10 juta.

Lomba binaraga antarjebor yang sudah berlangsung sejak 2015 itu dilakukan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Setiap tahunnya, jumlah peserta terus mengalami peningkatan.

Melalui kegiatan ini, Ila berusaha melestarikan kebudayaan genteng Jatiwangi dan mengajak warga Jatiwangi untuk bangga akan identitasnya, yaitu perajin genting. “Kita ngotot untuk menjadi pahlawan peneduh untuk Indonesia,” tutup Illa. (Wan/M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More