Optimisme E-commerce di 2018

Penulis: Rizky Noor Alam Pada: Sabtu, 06 Jan 2018, 12:11 WIB Teknopolis
Optimisme E-commerce di 2018

MI/Novin

PERTUMBUHAN sektor e-commerce Indonesia pada 2018 diprediksi akan semakin menjanjikan. Demikian optimisme yang dikemukakan Ketua Umum Indonesian E-commerce Association (Idea) Aulia Marinto. Sementara itu, masuknya e-commerce raksasa Amerika Serikat diyakini tidak akan menggo­yahkan e-commerce lokal.

Berbicara kepada Media Indonesia, Selasa (19/12), Aulia mengatakan optimisme pertumbuhan e-commerce tersebut berkaca pada stabilitas ekonomi dan politik yang cukup baik. “Kita sudah melewati beberapa kali tahun politik biasa saja kok, keramaian itu justru memunculkan perputaran bisnis. Dari sisi consumer business-nya sendiri, kita melihat memang ada perlambatan daya beli, tapi kita melihat pemerintah sudah tanggap dan sudah tahu sehingga sekarang sedang diperbaiki, dan itu yang membuat kita semakin percaya. Overall, saya melihat industri e-commerce akan semakin berkembang,” jelasnya.

Optimisme itu, tambahnya, juga disebabkan gaya bertransaksi e-commerce yang semakin tinggi di masyarakat. Meskipun begitu, data akurat dikatakan Aulia belum dapat diberikan karena masih dalam proses riset digital. “Namun, secara umum industri digital itu akan berkembang dengan berbagai deriva­tifnya, apakah itu di musik, fintech, e-commerce, maupun mobile apps, yang namanya digital itu semakin muncul ke permukaan dan bukan hanya dilakukan pemain-pemain besar, melainkan juga pemain kecil dengan munculnya berbagai teknologi baru,” tambahnya.

Terkait dengan rumor akan masuknya raksasa e-commerce asal Amerika Serikat, Amazon, ke Indonesia, Aulia tetap percaya diri karena para pelaku e-commerce lokal memiliki kelebihan dengan mengetahui medan Indonesia.

Keberhasilan Amazon di India dinilai bukan jaminan untuk hasil sama di Indonesia. Geografi Indonesia yang merupakan negara kepulauan memberikan tantangan lebih untuk arus distribusi.

“Kalau mereka masuk tentu saja kompetisi semakin ketat dan mengindikasikan hal yang bagus buat e-commerce Indonesia. Akan tetapi, daripada kita fokus kepada asing, lebih baik kita fokus pada pemain lokal. Bagaimana lokal ini menjadi lebih meningkat daya saingnya dalam bentuk apa pun sehingga digital service kita betul-betul bisa mulai merambah regional tahun depan,” imbuh Aulia.

Dalam kesempatan berbeda, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira memprediksi nilai transaksi e-commerce Indonesia pada 2018 akan menembus nilai Rp100 triliun.

“Nilai transaksi e-commerce itu diperkirakan tahun depan akan menembus Rp100 triliun. Ini berkaca dari 2016, yaitu Rp75 triliun dari data Bank Indonesia, kita memprediksikan akan dapat tumbuh sampai Rp100 triliun. Kalau 2017 sekitar Rp85 triliun,” jelas Bhima saat dihubungi Media Indonesia, Rabu (27/12).

Peningkatan jumlah transaksi tersebut bagi Bhima sangat memungkinkan terjadi karena jika berkaca dari jumlah transaksi pada Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2017, nilai transaksinya meningkat hingga mencapai Rp4 triliun, sedangkan pada Harbolnas 2016 transaksinya hanya mencapai Rp3,3 triliun.

Di sisi lain, Bhima mengingatkan laju konsumsi masyarakat di e-commerce belum tentu memberikan kesempatan pada UMKN untuk berkembang. Itu terjadi karena 90% dari barang yang diperjualbelikan merupakan barang impor.

“Dengan masuknya Lazada, Tokopedia yang mendapat suntikan dari Alibaba, sekarang di Lazada dan Tokopedia itu ada marketplace Tiongkok yang muncul di aplikasinya Lazada dan Tokopedia yang artinya barang impor dari Tiongkok makin masuk ke Indonesia. Lalu rencana masuknya Amazon dan E-Bay ke sektor e-commerce Indonesia yang dikhawatirkan pangsa dari e-commerce bisa sampai 98% diisi barang-barang impor,” jelas Bhima.

Peta jalan e-commerce
Sebelum hal tersebut terjadi, pemerintah diharapkan segera memperjelas roadmap e-commerce terutama soal usaha mikro, kecil, dan menengah yang masuk ke e-commerce. Salah satu regulasi penting yang harus dibuat pemerintah, menurut Bhima, ialah mengenai jumlah maksimal barang impor yang diperjualbelikan.

“Saya sarankan kepada pemerintah harus buat regulasi misalnya minimun 20% barang yang dijual di e-commerce itu barang-barang lokal atau produk UMKM,” imbuhnya.

Di tahun-tahun mendatang, jumlah perusahaan yang bergerak di sektor e-commerce diyakini akan berkurang. Namun, nilai transaksinya yang akan meningkat. Berbeda dengan Aulia, Bhima mengkhawatirkan persaingan yang timbul dari makin banyaknya e-commerce asing ataupun e-commerce dengan permodalan besar.

Bhima menuturkan mayoritas barang-barang yang dijual perusahaan e-commerce adalah barang-barang yang sama dengan perbedaan harga yang tipis. Pola tersebut harus dimodifikasi agar dapat terus bersaing terutama dengan berbagai perusahaan yang akan masuk dengan modal yang besar.

Jika diferensiasi tidak digenjot, ia mengkhawa­tirkan pasar e-commerce yang ada akan tergerus. Keunggulan e-commerce lokal soal medan juga tidak dapat membantu banyak terhadap kelangsungan mereka.

Menurutnya, nantinya cara memenangi persaingan e-commerce bisa melalui pelayanan, termasuk after sales service. Hal ini juga yang menjadi kunci kesuksesan Amazon dan E-Bay. Faktor lain yang dapat menjadi senjata e-commerce lokal untuk dapat terus bersaing adalah masalah perlindungan konsumen, pelayanan konsumen, serta sistem pembayaran yang beragam. (M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More