Energi Fosil tanpa Emisi Karbon

Penulis: Bintang Krisanti Pada: Sabtu, 06 Jan 2018, 10:42 WIB Jejak Hijau
Energi Fosil tanpa Emisi Karbon

Teknologi transformasi energi yang dibuat tim dari Ohio State University, Amerika Serikat, juga dapat diterapkan pada batu bara dan biomasa---AFP/GEORGE FREY/GETTY IMAGES

EMISI karbon dioksida (CO2) dan bahan bakar fosil sudah seperti dua sisi mata uang. Itu pula sebabnya bahan bakar fosil atau bahan bakar mineral (BBM) ikut menjadi biang kerok pemanasan global. Untuk mencegah pemanasan bumi yang kian parah, para peneliti pun terus mengambangkan energi terbarukan sebagai ganti bahan bakar yang berupa minyak bumi, batu bara, dan gas alam itu.

Namun, sekelompok peneliti di Ohio State University, Amerika Serikat (AS), tetap mengembangkan teknologi untuk memanfaatkan BBM. Begitu pun teknologi tersebut tidak seperti umumnya selama ini, tetapi dapat mengonversi BBM dan biomassa menjadi listrik tanpa mengemisi CO2 ke atmosfer.

Teknologi ini dihasilkan lewat penelitian panjang selama setidaknya lima tahun dan telah menghasilkan dua laporan di jurnal Energy & Environmental Science. Pada jurnal pertama, tim peneliti melaporkan merancang proses yang dapat mengubah shale gas menjadi metanol dan bensin. Hal itu dilakukan dengan sekaligus mengonsumsi CO2 yang dihasilkan. Shale gas sendiri merupakan gas alam yang terperangkap dalam formasi batuan serpih.

Transformasi tersebut juga dapat diterapkan pada batu bara dan biomasa. Pada kondisi tertentu, teknologi itu juga diklaim dapat mengonsumsi seluruh CO2 yang dihasilkan dan juga tambahan CO2 dari sumber luar.

Dalam jurnal kedua, tim peneliti menemukan cara untuk memperpanjang masa hidup partikel yang berfungsi menciptakan reaksi kimia untuk mengubah batu bara atau BBM lainnya untuk menghasilkan listrik dan produk lainnya. Masa hidup partikel ini memungkinkan pemanfaatan listrik tersebut untuk tujuan komersial.

Kini tim peneliti itu berhasil membuat kemajuan lain. Mereka berhasil menemukan dan mematenkan cara untuk menurunkan biaya untuk menghasilkan gas sintetis itu atau disingkat Syngas. Biaya itu bisa ditekan hingga 50% dari biaya umumnya.

Teknologi itu dikenal sebagai chemical looping dan menggunakan partikel oksida logam dalam reaktor bertekanan tinggi untuk membakar BBM dan biomassa tanpa adanya oksigen di udara. Partikel oksida logam itulah yang menyuplai oksigen untuk proses tersebut.

Bukan ganti energi terbarukan
Tim peneliti menyebutkan teknologi chemical looping itu hanya berfungsi mengisi kekosongan (­stopgap), bukan menggantikan energi terbarukan. Tim peneliti berharap nantinya energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin benar-benar bisa dimanfaatkan secara luas.

“Energi terbarukan ialah masa depan,” kata Kepala Tim Peneliti, Liang-Shih Fan yang juga profesor bidang teknologi kimia dan biomolekular sebagaimana dilansier Science Daily, Selasa (2/1). “Kita butuh jembatan yang memungkinkan kita menciptakan energi bersih; sesuatu yang bisa kita gunakan hingga 30 tahun atau lebih, sedangkan pembangkit angin dan tenaga surya dapat menjadi teknologi yang diandalkan,” tambahnya.

Tantangan
Meski teknologi mereka menga­gumkan, bukan berarti tanpa tantangan. Asisten Profesor Andrew Tong menjelaskan tantangan terbesar ialah menjaga agar partikel oksida logam tidak lekas usang. Setelah pembakaran batu bara terjadi, partikel ini mengambil oksiden dari udara dan kemudian siklus proses bisa berulang lagi.

Pada penelitian lima tahun lalu, partikel oksida logam untuk proses coal-direct chemical looping (CDCL) itu bisa bekerja hingga 100 siklus selama lebih dari delapan hari operasi tanpa henti. Sejak itu tim peneliti telah mengembangkan formulasi baru yang membuat partikel bisa bekerja hingga 3.000 siklus atau hingga delapan bulan tanpa henti. Formulasi serupa telah diuji di pembangkit percobaan.

Partikel itu seperti kendaraan yang membawa oksigen masuk dan keluar dalam proses ini dan kemudian akan rusak. Seperti truk yang membawa barang lewat jalan tol, suatu saat truk itu akan aus dan rusak. Kami mampu membuat partikel yang bertahan hingga 3.000 kali perjalanan dan masih dalam kondisi baik,” tutur Tong.

Kemampuan partikel tersebut merupakan yang terlama bagi sebuah pembawa oksigen. Langkah selanjutnya menguji partikel tersebut dalam proses chemical looping berjenis coal-fired terintegrasi.

Langkah maju lainnya yang berhasil dibuat tim ialah pengembangan teknik chemical looping untuk produksi Syngas. Pengembangan ini penting bagi pemanfaatan lainnya termasuk produksi ammonia, plastik dan bahkan serat karbon.

Jika berhasil, itu merupakan teknologi yang sangat menarik karena membuat CO2 berpotensi untuk dimanfaatkan industri untuk produk sehari-hari. Hal ini juga berarti membuat CO2 yang ditangkap dari pembangkit, tidak perlu lagi dikubur. CO2 itu dapat dimanfaatkan. (Big/M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More