Kisah Sedih untuk Musik Indonesia

Penulis: Adib Hidayat, Wartawan musik Pada: Sabtu, 06 Jan 2018, 09:51 WIB Humaniora
Kisah Sedih untuk Musik Indonesia

MI/Adam Dwi

KABAR duka datang dari Koes Plus. Salah satu personel grup band le-gendaris itu, Yon ­Koeswoyo, wafat dalam usia 77 tahun, kemarin. Informasi wafatnya Yon Koeswoyo datang dari Nomo Koeswoyo, saudara Yon yang juga memperkuat Koes Bersaudara sebelum manjadi Koes Plus. Nomo tinggal di Magelang. Konfirmasi berita pun saya dapat dari keluarga dekat Koes Plus kemudian.

Yon Koeswoyo lahir dengan nama Koesjono pada 27 September 1940. Penulis musik senior Denny Sakrie pernah menulis bahwa cikal bakal Koes Plus berawal dari Koes Bersaudara yang mengawali karier pada 1958.

Darah seni lima bersaudara itu mengalir dari sang ayah, Koeswojo Djojowasito Teruno Semito. Mereka ialah dari yang tertua Koesdjono (John) yang bermain bas, Koestono (Tonny) yang bermain gitar, Koesnomo (Nomo) bermain drum, serta Koesjono (Yon) dan Koesrojo (Yok) yang bermain gitar rhythm sambil menyanyi.

Band yang awalnya bernama Koes Brothers atau Koes Bros itu memang banyak terpengaruh dengan penonjolan harmoni vokal menawan, seperti The Everly Bro­thers dan The Beatles.

Koes Bersaudara kemudian me­rekam lagu-lagu mereka pada perusahaan rekaman Irama yang digagas Soejoso Karsono.

Album Koes Bersaudara muncul pertama kali pada 1963 di saat Tonny Koeswoyo berinisiatif mengganti nama Koes Brothers menjadi Koes Bersaudara.

Sejak saat itu, lagu-lagu Koes Bersaudara mulai berkumandang di Radio Republik Indonesia (RRI).

Demam Koes Bersaudara pun mulai melanda Nusantara. Pada 1967 Koes Bersaudara berpindah label dari Irama ke Dimita Moulding Company milik pengusaha Dick Tamimi. Di label itulah kemudian salah satunya muncul album fenomenal dari Koes Bersaudara bertajuk To The So Called Guilties.

Pada 1969 mulai terjadi pergeseran dalam tubuh Koes Bersaudara dengan mundurnya Nomo Koeswoyo. Nomo bahkan membuat proyek solo dengan nama No Koes. Seolah sebuah antitesis dan protes untuk Koes Plus. Posisi drum lalu diisi Kasmuri atau yang dikenal dengan Murry. Masuknya Murry yang berasal dari band Patas itu membuat nama Koes Bersaudara menjadi Koes Plus.

Koes Plus menyelesaikan kontrak dengan label milik Dick Tamimi hingga volume 7 dan berhasil mencetak banyak hit, seperti Manis dan Sayang, Kembali ke Jakarta, Kisah Sedih di Hari Minggu, Andai Kau Datang, Pelangi, dan Nusantara.

Koes Plus kemudian pindah ke per­usahaan rekaman Remaco milik Eugene Timothy, ayah dari produser film Sheila Timothy dan artis Marsha Timothy. Lewat label Remaco nama Koes Plus melambung menjadi grup besar di Indonesia.

Pergeseran salera musik membuat Koes Plus sempat menghilang. Namun, Koes Plus tetap ada. Vokal emas Yon Koeswoyo masih bisa didengar bersama tiga musisi muda, yaitu Danang (gitar, keyboard), Sonny (bas) dan Seno (drum), melanjutkan bendera Koes Plus dan menjalani pentas.

Sesekali di pentas khusus Yon reuni dengan Yok. Terkadang juga hadir Nomo dan John. Namun, praktis Yon yang keliling Indonesia bertemu ‘Jiwa Nusantara’, sebutan penggemar Koes Plus. Yon ibarat Paul McCartney, mantan personel The Beatles yang masih menggelar tur dunia membawakan karya sendiri dan The Beatles.

Sejumlah musisi Indonesia menuliskan kabar duka tentang Yon Koeswoyo lewat akun Twitter, Instagram, dan Facebook. Salah satunya Dewa Budjana. Ia mengunggah video lagu Ya Allah, lagu lama dari album Qasidahan Bersama Koes Plus Vol 1 (Re­maco, 1974), yang dibawakan Yon Koeswoyo dan Dewa Budjana pertengahan 2017.

“Aku ketemu Mas Yon itu rencana pengen bikin Koes akustik dengan string, dan Mas Yon/ Yok yang nyanyi,” kata Budjana.

David Bayu, vokalis Naif, menulis ‘Selamat jalan Om Yon Koeswoyo, pulang dengan damai di sisi Allah, terima kasih atas karya-karya indahmu’.

Saya ingat pada 27 April 2014 saat peluncuran buku Kisah dari Hati Koes Plus karya Ais Suhana di Rolling Stone Indonesia, Yon Koeswoyo bilang, ‘Lagu-lagu Koes Plus banyak dibajak. Biarkan saja. Kami ikhlas’, katanya jujur dari atas panggung.

Penulis musik Denny Sakrie, salah seorang yang kerap menulis soal Koes Plus dan Koes Bersaudara di berbagai media dan buku, juga telah pergi selamanya pada Januari, (Denny Sakrie 3 Januari 2015 dan Yon Koeswoyo 5 Januari 2018).

Kini Yon telah pergi. Meninggalkan duka mendalam untuk musik Indonesia. Tidak akan ada lagi suara khas dan candanya yang selalu dia hadirkan di setiap pentas Koes Plus. Selamat jalan Yon Koeswoyo. Kepergianmu membawa kisah sedih untuk musik Indonesia. (X-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More