Cerita Secangkir Kopi

Penulis: Retno Hemawati retnoretno@mediaindonesia.com Pada: Jumat, 05 Jan 2018, 05:31 WIB Humaniora
Cerita Secangkir Kopi

MI/ADAM DWI

BERJUTA kisah menarik yang hadir lewat secangkir kopi. Bermula dari kopi untuk tetangga sekitar hingga sampai ke pelosok Papua. Kopi menjadi alat mempererat koneksi. Kopi yang terus tumbuh mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, mampu bertahan di era modern. Di episode kali ini, Big Circle menghadirkan para pelaku usaha kreatif di bidang kopi, yakni Kopi Tuku, Garuda Mas, dan Amores Specialty Coffee (vending machine). Mereka akan didampingi mentor Danton Sihombing (brand consultant) & Billy Boen (Founder Young On Top) yang akan memberikan banyak insight kepada narasumber dengan dipandu Andy F Noya dan Amanda Zevannya.

Yang pertama akan kita bahas ialah Kopi Tuku, salah satu kopi yang sedang digandrungi masyarakat. Kopi Tuku telah menjadi bagian dari gaya hidup di kalangan anak muda. Lewat menu andalan kopi susu tetangga, nama Tuku terus melambung dan menjadi salah satu ritel kopi yang diperhitungkan di Indonesia. Semula, Andanu Prasetyo (Tyo), 28, berbisnis restoran pada 2010-2015. Kemudian ia ingin melakukan pengembangan usaha. Lulusan S-1 Bisnis Manajemen Universitas Prasetya Mulya itu memiliki interes kepada kopi. Akhirnya ia memulai dengan pilot project dengan mendirikan kedai kopi sederhana di Jalan Cipete Raya Blok B No 7 Cipete Selatan, Cilandak, RT 6/RW 3, Jakarta Selatan.

Tuku sendiri berasal dari bahasa Jawa yang artinya 'beli'. Tyo melakukan riset di kalangan petani kopi. Petani lebih senang jika kopi mereka dibeli dalam jumlah besar sekaligus, seperti yang dilakukan eksportir. Namun, kemampuan Tuku yang terbatas. Oleh karena itu, Tuku melakukan penetrasi pasar dengan cara research and development dengan para tamu. Kini, Tuku mengambil kopi sebanyak 5 ton kopi per bulan langsung dari petani.

Kopi saset
Kopi Tuku yang pernah didatangi keluarga Presiden Joko Widodo itu memiliki misi ingin mendorong industri kopi untuk lebih besar lagi. Jika industri kopi semakin kuat, konsumsi nasional juga meningkat dan harga kopi menjadi murah sehingga bisa dinikmati seluruh orang Indonesia. Dengan harga Tuku yang cukup terjangkau, Tuku ingin mulai mengajak masyarakat meninggalkan kebiasaan mengopi saset. Usaha Kopi Tuku juga memiliki kendala. Yang pertama mereka ingin perizinan permukiman jelas, mana permukiman yang boleh dijadikan tempat usaha dan mana yang tidak boleh, dan yang kedua terkait dengan sumber daya manusia. Tyo ingin semua barista-nya berlaku seperti pemilik Tuku, yang selalu menyapa konsumen dan ramah.

Tuku saat ini memiliki cabang di Bintaro, Jalan Abdul Majid, Pasar Santa. Penjualan kopi Tuku mencapai 1.000 gelas per gerai. Dengan kisaran harga antara Rp5.000 dan Rp30 ribu, omzet Tuku di atas Rp 1 miliar per bulan. (H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More