Menyebarkan Cinta pada Kain Tradisi

Penulis: Administrator Pada: Kamis, 04 Jan 2018, 12:50 WIB Inspirasi
Menyebarkan Cinta pada Kain Tradisi

DOK PRIBADI

RIUHNYA persaingan batik di Yogyakarta, memacu Krisni Kuntari buat berinovasi dengan mengolah kain produksinya menjadi syal, selendang, sajadah, hingga melayani pesanan alat-alat membatik.

"Di tempat saya juga selalu diadakan pelatihan membatik untuk anak-anak sekolah juga orang awam yang ingin belajar," ujar Kuntari yang menerima peserta privat maupun berkelompok.

"Rata-rata mereka belajar selama tiga hari, masing-masing dua sampai tiga jam. Pelatihannya mulai membuat desain motif, pengetahuan dasar, teknik membatik, mewarnai, ngelorod, malam hingga selesailah satu helai batik," terangnya.

Ngelorod, kata Kuntari, adalah tahapan terakhir dalam proses pembuatan batik tulis maupun cap.

"Dalam tahap ini, pembatik melepaskan seluruh malam atau lilin dengan cara memasukkan kain yang sudah cukup tua warnanya ke dalam air mendidih," ujarnya.

Pun, kerajinan kain lainnya, seperti tas, juga ia buat dengan desain sendiri.

"Saya juga menerima pesanan batik sesuai desain yang diinginnya pemesannya."

Aktif di organisasi

Tak cuma bergelut dengan bisnis, Kuntari juga aktif di Asosiasi Profesi Batik dan Tenun Nusantara (APBTN) serta Komunitas Organik Indonesia (KOI) DIY-Jawa Tengah hingga terpilih sebagai Ketua APBTN cabang Bantul, serta Wakil Sekretaris APBTN DIY.

"Saya juga terlibat di Masyarakat Pertanian Organik Indonesia, sebagai pengurus di bidang pelatihan. Bahan-bahan organik itu salah satunya menjadi bahan pewarna yang saya gunakan," jelas Kuntari.

Kecintaan pada batik, pun tradisi membuatnya, gencar dilakukan Kuntari dan organisasinya, termasuk pada anak-anak sekolah melalui aneka lomba.

"Ini warisan leluhur, adiluhung dan sudah diakui dunia. Jangan sampai dirusak ulah orang yang mencari keuntungan dengan semena-mena."

Batik dan perempuan, lanjut Kuntari, memang terhubung kuat.

Nama-nama pengusaha batik perempuan, termasuk Kuntari menjadi pelaku bisnis yang eksis.

"Tidak hanya di batik, banyak bidang usaha yang kini dipimpin perempuan. Saya lihat memang perempuan punya kekuatan untuk maju, pintar berbisnis, di sektor pendidikan, apalagi berkomunikasi dan memiliki kemampuan. Banyak perempuan kini bisa mandiri atau menjadi kepala keluarga di tengah situasi serbaketerbatasan," ujar Kuntari yang mengaku ketika tiba-tiba ditinggal suaminya untuk selamanya, sempat jatuh bangun merintis usaha dan perjalanan itu, memperkaya pengalaman hidupnya. (Nda/M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More