Pengawasan terhadap Buku Dinilai Sangat Lemah

Penulis: (Pro/H-3) Pada: Kamis, 04 Jan 2018, 06:31 WIB Humaniora
Pengawasan terhadap Buku Dinilai Sangat Lemah

DOK BCA

PENGAWASAN terhadap buku yang diterbitkan di Indonesia hingga saat ini dianggap masih sangat lemah. Khususnya buku bacaan anak. Pemerintah diminta mengatasi hal itu dengan membentuk badan perbukuan nasional. “Selama ini belum ada yang mengawasi ketat buku-buku yang akan terbit. Di Kemendikbud sendiri yang diawasi baru sebatas buku pelajaran sekolah,” ujar Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti, di Jakarta, rabu (3/1). Ia mengungkapkan hal itu terkait kasus buku Balita Langsung Lancar Membaca terbitan Pustaka Widyatama yang diduga memuat propaganda mendukung gaya hidup lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

Retno mengatakan, saat ini pengawasan buku pendamping belajar pada anak belum dilakukan. Akibatnya, kerap ada materi yang tidak sesuai dengan tujuan edukasi anak. “Sekarang kan (wewenang pengawasan buku) adanya di bawah Kemendikbud digabung dengan yang menangani kurikulum. Ke depan seharusnya berdiri sendiri agar bisa lebih fokus dan cakupannya luas tidak sebatas buku pelajaran,” ujar Retno. Dikatakan Retno, dalam waktu dekat KPAI akan memberikan rekomendasi pada Kemendikbud untuk membuat pedoman pengawasan bagi buku-buku yang akan diterbitkan untuk anak-anak. Karena selama ini, pemerintah terkesan terlambat. Buku berkonten negatif baru diketahui setelah tersebar di masyarakat.

Sementara itu, terkait kasus buku Balita Langsung Lancar Membaca, sang pengarang, Intan Noviana, mengatakan dirinya menyesal atas apa yang telah terjadi. “Saya akui saya salah kemudian saya datang ke KPAI ini adalah salah satu bentuk tanggung jawab saya sebagai penulis dan permohonan maaf saya sebesar-besarnya kepada masyarakat luas,” ujar Intan di Kantor KPAI, Jakarta, rabu (3/1),

Intan mengatakan, tidak ada motif khusus dalam penulisan kalimat seperti ‘opa bisa jadi waria’, ‘fafa merasa dia wanita’, dan ‘ada waria suka wanita’ di bukunya itu. Dirinya hanya menghindari pengulangan kata yang sama dengan bukunya yang lain.
“Tidak ada motif apa pun, saya memikirkan agar tidak ada kata yang sama karena saya juga sedang banyak menulis buku dan kehabisan kata-kata,” ujar Intan. Ia menambahkan, buku yang ditulisnya tersebut saat ini sudah tidak ada di pasaran karena terakhir kali cetak pada 2012. Intan juga mengaku telah menulis banyak buku lain untuk anak. Di antaranya 9 seri buku belajar membaca anak yang juga diterbitkan Pustaka Widyatama. Serta beberapa buku permainan yang ia buat berdasarkan kebutuhan usia dan gender anak. (Pro/H-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More