Bursa Naik Kelas dengan Catatan

Penulis: (Raja Suhud/E-2) Pada: Kamis, 04 Jan 2018, 05:01 WIB Ekonomi
Bursa Naik Kelas dengan Catatan

ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

BURSA Efek Indonesia (BEI) mencatatkan prestasi yang cemerlang pada 2017. Tercatat kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) berada di urutan keempat untuk level Asia Pasifik. Kenaikan IHSG yang mencapai 19,9% hanya kalah dari bursa Korea Selatan yang naik 21,76%, Filipina 25,11%, dan Hong Kong 35,99%. Hal yang juga dapat dicatat sebagai kinerja positif BEI ialah kinerja dari para investor dalam negeri yang menjadi motor bagi pergerakan indeks. Di tengah arus keluar dana asing dari bursa Indonesia yang mencapai Rp40, 32 triliun, investor dalam negeri baik institusi maupun ritel sanggup mengangkat indeks terus merangsek naik hingga mencapai rekor tertinggi pada penutupan akhir tahun di 29 Desember di posisi 6.355,65.

Sebuah rekor yang melampaui prediksi banyak pihak di awal tahun bahwa bursa paling tinggi akan bertengger di level 6.200. Tidak kurang Presiden Joko Widodo menyampaikan apresiasinya atas pencapaian yang gemilang itu. Dirut BEI Tito Sulistio memaparkan bahwa pencapaian perusahaan yang melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) di bursa pada 2017 mencapai 37 perusahaan. Minat investor pun berlipat-lipat dan termasuk tertinggi di Asia Tenggara. Nilai kapitalisasi bursa pun telah melambung menembus Rp7 triliun.

Melihat rangkaian data positif yang ada, se pintas tidak terlihat adanya problem serius di bursa. Padahal di situlah tantangannya. Bursa memang naik kelas, tapi dengan catatan. Catatan yang diberikan ialah pada kualitas perusahaan yang masuk bursa. Tanpa bermaksud mengecilkan, para emiten baru itu didominasi perusahaaan skala kecil. Tidak ada perusahaan kakap yang masuk. Alhasil emisi dana IPO dari 37 emiten itu hanya Rp9,6 triliun. Padahal emisi IPO 2016 dengan 14 emiten bisa menghasilkan dana hingga Rp12,1 triliun.
Kecilnya skala perusahaan yang IPO berdampak pada rendahnya multiplier yang dihasilkan ke bursa. Padahal kehadiran eminten-emiten baru inilah yang diharapkan mampu meningkatkan nilai kapitalisasi bursa lebih besar lagi.

Bila hanya mengandalkan pada perusahan berskala kecil, berarti dibutuhkan lebih banyak lagi calon emiten yang harus masuk ke bursa. Selain itu, emiten yang memulai debutan di level harga ratusan perak itu tidak mampu menarik dana-dana besar untuk masuk.
Dalam seremoni pembukaan perdagangan awal tahun Selasa (2/1) lalu, Tito berjanji untuk membawa banyak perusahaan berskala besar masuk bursa. Data BEI menunjukkan ada 52 perusahaan kakap berpotensi listing di bursa. Target minimalis ada di tiga perusahaan besar.

Kita berharap unicorn fintech Indonesia seperti Go-Jek, Tokopedia, atau Bukalapak bisa mencatatkan saham mereka. Demikian juga Newmont yang kini beralih nama menjadi PT Amman Mineral Nusantara yang merupakan anak usaha Medco bisa segera listing di bursa.
Bila itu terjadi, bursa tahun ini dapat naik kelas tanpa perlu catatan lagi. (Raja Suhud/E-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More