Lebih Nyaman dengan KB Implan

Penulis: Eni Kartinah Pada: Rabu, 03 Jan 2018, 03:45 WIB Kesehatan
Lebih Nyaman dengan KB Implan

thinkstock

PROGRAM Keluarga Berencana (KB) merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak dengan penggunaan alat kontrasepsi. Salah satu indikator keberhasilan program KB Ialah angka fertilitas total (total fertility rate/TFR).
Di 2016, TFR Indonesia masih sebesar 2,3. Angka itu belum mencapai target yang ditetapkan Millenium Development Goals (MDGs) sebesar 2,1 pada 2015. Salah satu penyebabnya ialah tidak efektifnya alat kontrasepsi yang digunakan karena berbagai faktor.
Saat ini, metode KB yang sering digunakan di Indonesia ialah yang berjangka pendek, yakni KB suntik dan pil KB. Pengguna kedua metode itu mencapai sekitar 50% dari seluruh akseptor KB.

Sebenarnya, ada beberapa pilihan alat kontrasepsi jangka panjang yang lebih efektif dengan angka kegagalan rendah. Seperti IUD (alat kontrasepsi dalam rahim) dan implan atau yang dikenal dengan susuk KB. Data WHO menunjukkan, tingkat kegagalan dengan pil KB sekitar 90 per 1000 orang dan suntik 60 per 1000 orang. Implan memiliki angka kegagalan hanya 0,5% atau terkecil, bahkan jika dibandingkan dengan IUD yang 8,5 orang dari 1000 pengguna. “Pil dan suntik KB memiliki tingkat kegagalan lebih tinggi daripada alat KB jangka panjang seperti implan dan IUD, karena pil harus diminum setiap hari pada waktu yang sama. Demikian pula dengan suntik yang harus diulang baik 1 maupun 3 bulan sekali,” jelas dr Julianto Witjaksono SpOG, Konsultan Fertilitas, Endokrinologi, dan Reproduksi dari Rumah Sakit Universitas Indonesia, dalam diskusi tentang metode kontrasepsi di Jakarta, bulan lalu.

Sayangnya, lanjut dia, di Indonesia implan kurang populer. Padahal, dulu di era Orde Baru, penggunaan implan cukup banyak. Ia menjelaskan, dulu di tahun 80-an, digunakan implan KB 6 batang. “Karena implan KB dipasang di bawah kulit, jika jumlahnya mencapai 6 batang, akan kesulitan untuk pengambilannya setelah masa pakainya habis,” jelas staf pengajar FKUI/RSCM ini. Implan KB 6 batang saat ini sudah tidak digunakan lagi. Generasi implan KB terbaru hanya terdiri dua atau satu batang. Semakin kecil jumlah batangnya, pemakaian semakin mudah tanpa mengurangi manfaatnya. Implan dipasang di lengan atas di bawah kulit. Pemasangan implan KB dilakukan dokter kebidanan dan kandungan atau bidan yang sudah mendapatkan pelatihan, menggunakan alat pemasang (trocar). Diameter implan sangat kecil, hanya 1-2 mm.

Cara kerja hormon progestin yang terdapat dalam implan ialah mengentalkan lendir di bibir rahim sehingga sperma tidak dapat masuk ke rahim dan membuahi sel telur. Dengan teknologi tinggi, hormon progestin akan dilepaskan sedikit demi sedikit dari pori-pori batang implan dengan masa kerja 3-5 tahun.

Keunggulan implan KB antara lain efektif (99,95%), mudah digunakan, kesuburan segera pulih setelah implan KB diangkat, serta aman digunakan pada ibu menyusui. “Implan direkomendasikan pada perempuan sehat semua usia, tetapi untuk yang berusia di atas 40 tahun sangat baik karena mengurangi risiko kanker payudara. Karena, implan KB hanya berisi hormon progestin dan sama sekali tidak mengandung hormon estrogen yang selama ini dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara,” terang Julianto.

Harga mahal
Penyebab kurang populernya implan di Indonesia ialah harganya yang mahal. Padahal, papar Julianto, sebenarnya ada kesepakatan global yang didanai Bill and Melinda Gates Foundation menetapkan harga sama yaitu us$8,5 (belum termasuk biaya masuk dan distribusi) untuk implan jenis satu batang.

“Sayangnya kita di Indonesia belum secara optimal mengikuti kesepakatan itu. Di Indonesia implan yang digunakan ialah jenis dua batang dengan harga sekitar Rp275 ribu, padahal harga implan satu batang di bawah harga tersebut,” katanya. Ketua Kelompok Kerja Keluarga Berencana dan Abortus, Perhimpunan Obstetrik Ginekologi Indonesia (POGI), dr Ilyas Angsar SpOG, menambahkan pihaknya berharap masa kejayaan implan seperti di era Orde Baru dapat kembali lagi. “Dulu bahkan Jakarta pernah menjadi pusat pelatihan Internasional untuk pemasangan dan pencabutan implan. Tetapi, di era reformasi popularitas implan menurun drastis karena harga implan yang mahal,” katanya. (*/H-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More