Peluang di Balik Tahun Politik

Penulis: Ghani Nurcahyadi Pada: Selasa, 02 Jan 2018, 08:10 WIB Properti
Peluang di Balik Tahun Politik

ANTARA

SEJUMLAH kalangan sepakat bahwa tahun baru ini sekaligus tahun politik membawa angin segar bagi pasar properti.

Permintaan terhadap properti bakal meningkat di Tahun Anjing Tanah ini.

Bahkan, tahun politik merupakan dianggap sebagai waktu yang pas untuk membeli properti.

Apalagi, pada tahun sebelumnya pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan yang akan menopang bisnis hunian pada tahun ini.

Penurunan suku bunga Bank Indonesia, penutupan program pengampunan pajak, penyesuaian fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP), dan kebijakan lain--menurut Kepala Pemasaran Rumah.com Ike Hamdan--akan mendorong pasar properti nasional lebih positif pada tahun ini.

Sejatinya, hal itu melanjutkan tren yang telah terbentuk sepanjang 2017. Berdasarkan data Rumah.com Property Index 2017, indeks properti nasional selalu naik di tiap kuartal.

Secara umum pasar properti Indonesia di tahun baru akan lebih menarik dan prospektif jika dibandingkan dengan 2017.

Ike memaparkan bahwa dari sisi suplai mungkin terjadi perlambatan pasar properti pada pertengahan 2018 sebagai dampak Hari Raya Idul Fitri serta pilkada serentak 2018.

Begitu juga menjelang Pemilu Legislatif & Pemilihan Presiden 2019.

Jangan khawatir, hal tersebut tidak berpengaruh besar terhadap pasar properti Tanah Air.

Di sisi permintaan, khususnya sektor residensial, porsi terbesar akan datang dari rumah tipe menengah dengan harga di bawah Rp700 juta.

Pertumbuhan apartemen akan terjadi secara moderat seiring pertumbuhan suku bunga kredit pemilikan apartemen.

Ini juga tecermin dari survei Rumah.com Affordability Sentiment di semester II 2016 yang menunjukkan apartemen sudah menjadi pilihan utama dalam membeli rumah di kota-kota besar di Indonesia.

Bukan cuma Ike, Ketua Realestat Indonesia (REI) Jawa Tengah MR Prijanto juga optimistis penjualan rumah pada 2018 meningkat jika dibandingkan dengan realisasi tahun ini.

Dalih Prijanto, hal tersebut seiring dengan berbagai upaya pemasaran yang dilakukan para pengembang.

"Untuk tahun ini realisasi penjualannya sekitar 8.500 unit, tahun depan

kami menargetkan sebanyak 10 ribu unit," katanya.

Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN) Maryono juga yakin permintaan terhadap properti terus meningkat di tahun politik, khususnya pada segmen rumah subsidi.

Menurutnya, pasar terbesar properti saat ini ialah generasi milenial.

Saatnya membeli

Ike berpendapat bahwa setahun sebelum tahun politik 2019, pasar properti akan sedikit lebih bergairah.

"Ini merupakan kesempatan yang tepat untuk membeli properti, baik untuk dihuni sendiri maupun sebagai sarana investasi," papar Ike.

Wakil Ketua Umum Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia Mualim Wijoyo mendukung pendapat Ike.

Menurut Mualim, kondisi ekonomi pada 2018 dipandang tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya.

Dengan demikian, industri properti belum akan menunjukkan geliat yang signifikan pada 2018.

"Namun bisnis properti juga tidak akan terlalu turun karena pengembang akan memasarkan produk properti dengan sejumlah fasilitas dan harga serta cara bayar yang sangat menarik," tutur Mualim.

Melihat kondisi tahun politik dan ekonomi itu, Mualim menyarankan masyarakat bahwa sekarang saat yang tepat untuk membeli properti.

Soalnya, ketika pemilu selesai dan berbagai infrastruktur transportasi tuntas dibangun pemerintah, harga rumah memiliki kecenderungan naik secara signifikan.

Kalau kita menoleh ke pemilu yang lalu, khususnya pada 2009, harga properti memang mengalami lonjakan setelah tahun politik tersebut.

"Harga properti mencapai puncaknya pada 2013. Kenaikannya bisa 200% sampai dengan 300% di daerah tertentu yang potensial dan daerah lain minimum bisa 50%," ungkap Jeffry Yamin, Marketing Director of Green Pramuka City.
(Ant/S-4)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More