Bali Ndesa Mbangun Desa

Penulis: Liliek Dharmawan Pada: Minggu, 31 Des 2017, 20:57 WIB Features
Bali Ndesa Mbangun Desa

Akhmad Sobirin, 29, Ketua Kelompok Usaha Bursama (KUBE) Manggar Jaya tengah melakukan pengecekan terhadap produksi gula semut di Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah. MI/LILIEK DHARMAWAN

LELAKI setengah baya asal Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) merasakan benar bagaimana pahitnya menjadi seorang petani penderes, meski menghasilkan gula kelapa yang manis.

Selepas subuh, ia sudah membawa pongkor atau wadah air nira ke perkebunan kelapa. Dipanjatnya pohon kelapa satu per satu. Memang berbahaya karena memiliki risiko terjatuh. Setidaknya ada 10 pohon kelapa yang ia panjat.

Wadah air nira itu dibawanya naik untuk menggantikan pongkor yang dipasang di sekitar buah kelapa sehari sebelumnya.

Begitulah keseharian yang dilakukan oleh para penderes di desa setempat, tak terkecuali Sakrun, 52. Sejak puluhan tahun silam, ia menjadi petani penderes yang memproduksi gula merah berbahan baku air nira pohon kelapa.

"Dulu sampai sekarang saya tetap sebagai petani penderes. Hanya saja, nasib saya sekarang lebih baik. Sebab, setelah ikut kelompok usaha bersama (KUBe) Manggar Jaya, saya tidak lagi membuat gula merah melainkan gula semut atau gula kristal. Apalagi, kalau dulu kami terperangkap tengkulak. Saat itu, harga gula merah hanya Rp5 ribu. Dengan hasil 5 kilogram (kg) per hari hanya mendapat Rp25 ribu. Kalau sekarang, harga gula semut mencapai Rp15 ribu per kg. Sehingga kalau menghasilkan 5 kg saja, sudah Rp75 ribu," jelasnya.

Sakrun juga difasilitasi kelompok agar dapat mengakses kredit usaha rakyat (KUR). Tahun ini, ia mendapatkan Rp15 juta dari bank untuk menambah modal. Pengembalian juga lancar, karena ada pendapatan dari pembuatan gula kristal untuk setoran.

Tak hanya Sakrun, Darto, 53, juga demikian. Ia mendapatkan KUR senilai Rp10 juta sebagai tambahan permodalan. "Kami dibantu KUBe Manggar Jaya untuk memperoleh akses kredit. Inilah salah satu keuntungannya menjadi anggota. Keuntungan lainnya yang pasti adalah, kami terlepas dari tengkulak serta mendapatkan harga yang bagus. Karena, harga gula semut yang kami produksi disetorkan ke kelompok untuk kemudian diekspor," tutur Darto.

Dua petani penderes itu merupakan bagian dari 150 petani lainnya di Desa Semedo dan Petahunan, Kecamatan Pekuncen, yang telah merasakan berubahnya pendapatan. Ketua KUBe Manggar Jaya Akhmad Sobirin mengakui kalau petani belum sejahtera, tetapi sudah mulai berubah, setidaknya ada pendapatan yang meningkat.

"Dari 150 petani penderes yang tercatat anggota KUBe Manggar Jaya, umumnya cukup konsisten produksinya. Hingga kini, setiap bulan kelompok mampu memproduksi hingga 10 ton gula semut lebih. Omsetnya lebih dari Rp150 juta setiap bulannya. Mudah-mudahan tahun depan bisa mencapai 20 ton-30 ton setiap bulan," ungkap Sobirin saat ditemui Media Indonesia, Jumat (29/12).

Sobirin bukanlah sosok pemuda biasa. Di Desa Semedo yang cukup terpencil dengan tingkat pendidikan yang belum tinggi, Sobirin termasuk pemuda yang maju. Apalagi, dia adalah alumni sekolah vokasi atau setara diploma tiga (D3) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Setelah lulus pada 2010, Sobirin yang mengambil jurusan teknik mesin tersebut bekerja di salah satu perusahaan ternama. Namun, ia hanya betah selama dua tahun sebelum akhirnya memutuskan ke luar dan kembali ke kampung halaman. Sikap itu sesuatu yang tidak biasa bagi warga kampung, apalagi telah mengenyam pendidikan tinggi.

Pada umumnya, mereka yang telah lulus setingkat SLTA saja langsung merantau apalagi lulus dari perguruan tinggi dan telah diterima kerja di sebuah perusahaan ternama.

"Saya pulang ke kampung secara sadar. Terus terang, saya tertarik mengembangkan gula kelapa. Apalagi, pada umumnya petani penderes itu miskin dan tidak berdaya. Sebagian awalan usaha di desa, saya memulai dengan budi daya jamur tiram putih. Ternyata, dengan modal Rp30 juta, usaha jamur tiram putih gagal dan menanggung utang," kenang Sobirin.

Tidak hanya itu, ia mengaku terpaksa jualan es. "Saya ingat, banyak cemoohan yang datang. Kenapa sih, lulusan UGM kok pulang hanya jualan es. Saya terima saja, habis mau bagaimana lagi? Namun, justru itu menjadi lecutan buat saya untuk terus maju," kata pemuda berusia 29 tahun tersebut.

Pada 2012 itulah ia mulai memberanikan diri mengumpulkan para petani penderes untuk membuat kelompok. Sobirin kemudian mengajak para petani membuat gula semut, karena kalau hanya gula merah saja, harganya tidak bakal beranjak naik. Apalagi umumnya mereka telah terjerat oleh para tengkulak.

"Setelah berbulan-bulan, usaha pembuatan gula kristal menemukan setitik harapan ketika Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Banyumas membuatkan situs klaster UMKM. Dari situlah, kami mengenal eksportir. Apalagi kemudian, Bappeda Banyumas membantu peralatan oven. Alhamdulillah jalan. Dari awal produksi hanya 0,5 kuintal, dan setelah 4-5 tahun berjalan, kini telah menembus 10-15 ton per bulan," ungkap Sobirin.

Kiprah Sobirin dalam memberdayakan petani penderes di desanya itu menempatkan dirinya sebagai salah satu pemuda inspiratif dan mendapat penghargaan SATU Indonesia Awards 2016. Jelas saja ia cukup terkejut, karena ternyata aktivitasnya mendapat apresiasi dari perusahaan berkelas internasional.

Penghargaan dari Astra Internasional itu tidak membuat dirinya jemawa, melainkan semakin memantapkan dirinya untuk mengabdi pada desanya. Atau istilahnya dalam bahasa Jawa bali ndesa mbangun desa atau pulang ke kampung membangun desa.

"Apresiasi dari Astra tersebut semakin membuat saya bersemangat untuk terus berinovasi dalam memberdayakan masyarakat. Alhamdulillah, dari awal pembentukan KUBe Manggar Jaya 2012 yang hanya diikuti belasan orang, kini anggotanya mencapai 150 orang. Kami akan terus merekrut petani untuk menjadi mitra," jelas Sobirin yang tahun ini mendapatkan penghargaan Adikarya Pangan Nusantara dari Pemprov Jateng.

Selain mendampingi para petani agar lebih berdaya, Sobirin juga menyisihkan keuntungan kelompok untuk membantu anak-anak yatim maupun piatu di desa setempat, terutama dalam bidang pendidikan.

"Kami menyisihkan keuntungan dari kelompok untuk memberikan santunan kepada anak-anak yatim maupun piatu, terutama pada anak usia sekolah. Jumlahnya ada sekitar 30 anak. Selain santunan uang, biasanya pada waktu tahun ajaran baru, kami juga membantu peralatan sekolah. Intinya, kami mendorong agar anak-anak di sini sekolah setinggi-tingginya. Karena pendidikan itu penting untuk mengubah nasib lebih baik," ujar juara pertama pemuda pelopor tingkat Jateng tersebut.

Bahkan, ia juga mengumpulkan anak-anak yang kini sekolah di jenjang SMP dan SMA untuk dimotivasi khususnya dalam bidang pendidikan. "Kami memotivasi mereka agar sekolah setinggi-tingginya. Kalau soal biaya, itu nanti bisa dicarikan beasiswa. Yang penting ada niat untuk sekolah tinggi dulu, pasti ada jalannya."

Sobirin mengungkapkan masih banyak rencana yang perlu direalisaiskan. Salah satunya adalah sertifikasi bagi para petani penderes yang masuk KUBe Manggar Jaya.

"Sementara ini, kami masih menggandeng eksportir untuk memasarkan produk-produk ke Eropa dan AS. Kalau nantinya telah sertifikasi, kami bisa mengekspor langsung. Sehingga pendapatan bakal lebih meningkat. Semoga pada 2018 dapat terealisasi, termasuk asuransi ketenagakerjaan bagi petani penderes. Di sisi lain, kami juga ingin diversifikasi hasil pertanian lainnya, tidak hanya gula kelapa, melainkan juga pengembangan pertanian lainnya," tandasnya. (OL-4)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More