Benturan Logika di Ayat-Ayat Cinta 2

Penulis: Administrator Pada: Minggu, 31 Des 2017, 20:00 WIB Hiburan
Benturan Logika di Ayat-Ayat Cinta 2

DOK. MD PICTURES

FILM ini merupakan kelanjutan dari film Ayat-Ayat Cinta sebelumnya, adaptasi novel karya fenomenal Habiburrahman El Shirazy, bercerita tentang Fahri Abdullah (Fedi Nuril) yang saat ini hidup sendiri di Edinburgh bersama asistennya, Hulusi (Pandji Pragiwaksono).

Fahri kehilangan istrinya, Aisha, tujuh bulan lalu, saat Aisha menjadi sukarelawan di Jalur Gaza, Palestina. Sejak saat itu Fahri tidak pernah lagi mendengar kabar tentang Aisha.

Fahri terus menunggu dalam kesedihan dan masih berharap Aisha kembali. Kesedihan yang mendalam, ia siasati dengan kesibukannya sebagai seorang dosen dan pengusaha di kota tersebut. Sekonyong-konyongnya kedua aktivitasnya itu menuai kesuksesan besar. Ia menjadi dosen teladan dan pengusahan ritel sukses. Fahri mencoba untuk terus menjalankan amanah Aisha agar dia bisa membantu orang-orang di sekelilingnya. Niat baik Fahri ini sering kali malah membuat salah paham dan menyeretnya ke persoalan yang lebih rumit dan membahayakan hidupnya.

Fahri masih teguh, ia memang telah terbiasa menghadapi berbagai karakter orang, baik berkelainan budaya dan keyakinan. Namun, ia tetap yakin semua dapat dilalui, apalagi tinggal di lingkungan itu kesepakatannya bersama sang istri.

Selain polemik dalam kehidupan sosial, Fahri lagi-lagi diuji dengan persoalan cinta dan kesetian. Hadirnya Hulya (Tatjana Saphira) keponakan Aisha yang sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang cerdas dan cantik. Hulya bersedia menggantikan peran Aisha dalam kehidupan Fahri. Awalnya ia ragu untuk membuka hatinya kepada Hulya, itu sama saja dia mengakui bahwa Aisha sudah meninggal. Fahri masih berharap Aisha kembali muncul dalam hidupnya.

Kehilangan roh

Sosok Fahri di Ayat-Ayat Cinta 2 mengalami perubahan drastis. Sosok yang identik sebagai pria pemalu, sederhana, dan masih memperlihatkan sisi-sisi manusia biasa sudah jauh meninggalkan Fahri. Kini, Fahri lebih tajir dan tinggal bersama asistennya di sebuah perumahan yang berlatar belakang budaya dan keyakinan berbeda di Inggris.

Secara keseluruhan film ini masih terjebak dari bayang-bayang Ayat-Ayat Cinta Pertama yang mampu menggebrak dan suskses besar. Betapa tidak, secara ide cerita, visual dan audio film garapan Hanung Bramantyo sebelumnya mampu menjadi salah satu yang terbaik di Tanah Air. Meski diperankan pemain-pemain film yang profesional dan artis papan atas Indonesia, film Ayat-Ayat Cinta 2 seakan tidak menemukan roh dan di luar ekspektasi, bahkan menuai banyak kritik dari warganet.

Sepanjang film itu, alih-alih menutupi kekurangan karena peran Fahri yang terlihat menonjol, sebagai pemeran utama, penampilan dan sosok Fahri terlalu dipaksakan bahkan cenderung berbenturan dengan realitas. Sosok Hulya juga mampu mengimbangi akting Fahri. Pasalnya sebagai pendatang baru, kualitas aktingnya mengalami peningkatan.

Untuk karakter Fahri, setiap adegan dan dialognya begitu memukau dan menenangkan. Seakan penulis naskah begitu selektif memilih dialog untuk Fahri. Jika Anda telah menonton kedua film ini, dipastikan Anda akan menemukan banyak perbedaan, baik dalam ide, mengupas dialog, hingga angle-angle pengambilan gambar juga sangat berbeda. Jika harus memilih, film perdana Ayat-Ayat Cinta lebih baik daripada yang kedua ini.

Akan tetapi, Yudi Datau mampu mengabadikan setiap detail momen dan keindahan alam Edinburgh dengan baik dari pelbagai sudut pengambilan gambar udara.

Alur cerita Ayat-Ayat Cinta 2 mudah ditebak, seperti adegan saat Hulya ditusuk pisau, penonton langsung bisa menebak. Kondisi Huluya yang sedang hamil tua, mengalami kritis, dan dilarikan ke rumah sakit. Dalam kebiasaan scene film, cerita selanjutnya dapat dipastikan jika perempuan itu akan mati dan anaknya akan selamat.

Begitu juga Fahri yang tidak mengenal sosok Sabina yang justru istrinya, Aisha. Namun, ia begitu mudah mengenali Keira yang mengendap-endap di tengah keremangan malam untuk mencoret-coret mobilnya. Selain itu, ada beberapa pergantian gambar yang terlihat jumping, bahkan perpindahan adegan terasa kasar sehingga mengganggu fokus penonton yang ingin menikmati film tersebut. (FD/M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More