Kolaborasi Vokasi dan Industri di Cikarang

Penulis: Administrator Pada: Minggu, 31 Des 2017, 19:00 WIB MI Muda
Kolaborasi Vokasi dan Industri di Cikarang

MI/IIS ZATNIKA

SMK Mitra Industri sudah tampak bergeliat pada Jumat (26/12) pukul 07.00. Puluhan anak muda berseragam hitam putih berjajar rapi di pagar depan, menunggu jadwal pelaksanaan tes rekrutmen di Bursa Kerja Khusus (BKK) yang juga bersinergi dengan SMK di Kawasan Industri MM 2100, Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat, itu.

Bergeser ke belakang, 13 siswa kelas 10 anggota Duta Lingkungan H-Mind, organisasi pegiat bisnis hidroponik, bekerja dengan mesin semai dan memanen kangkung.

Sementara itu, di aula, para guru tengah mengikuti pelatihan Kaizen Goes to School dari PT Toyota Astra Motor. Materinya kali ini, quality control circle (QCC). Pembelajaran bagi para guru ini merupakan kelas ketiga yang diikuti para guru setelah sebelumnya mengikuti pelatihan penelitian tindakan kelas (PTK) serta training horenso, teknik membangun komunikasi efektif dalam organisasi.

Semua kesibukan itu mengesankan, tak ada libur akhir tahun nan panjang, seperti yang kini tengah berlangsung di sekolah-sekolah lainnya.
"Karena kami, guru-guru, juga harus belajar. Ketika ada tawaran dari pihak industri yang ingin berkontribusi meningkatkan kemampuan para pengajar, kami memanfaatkan waktu liburan ini supaya guru yang mengasah anak-anak tidak lantas tumpul," ujar Ketua Jurusan Teknik Sepeda Motor (TSM) Agus Pranoto yang pada liburan ini juga menjalani magang keduanya di PT Astra Honda Motor (AHM) di seberang sekolah untuk memperkaya keterampilan mengajarnya.

Piagam kerja sama

Kolaborasi antara sekolah dan industri menjadi pemacu para siswa dan pengajar terus bertumbuh. "Kami punya piagam kerja sama dengan lebih dari 100 industri di kawasan ini dan didukung pula 300 industri lainnya. Bentuknya, mulai kesempatan siswa untuk PKL, rekrutmen, pengadaan alat, kunjungan industri, guru tamu hingga kurikulum," kata Lispiyatmini, Kepala SMK Mitra Industri.

Kurikulum hasil kolaborasi dengan industri, yang kini diterapkan di sekolah dengan 1.332 siswa itu, kata Lis, yang jadi kebanggaan sekolahnya dan telah diaplikasikan di jurusan TSM, berasal dari AHM.

"Ada teknik tune up, kelistrikan, overhaul, serta semua teknik yang menjadikan anak-anak kita terampil dalam menangani sepeda motor. Kami, para guru, pun mendapat pelatihan dua kali dalam setahun pada Juli dan Desember selama seminggu, bersama SMK-SMK lain di bawah binaan AHM," ujar Agus.

Sedikitnya ada pula lima unit sepeda motor Honda, lengkap dengan bike lift-nya yang jadi wahana pembelajaran sehari-hari di ruangan workshop.
Dari sistem kurikulum, pengadaan peralatan, guru tamu bagi siswa dan guru, kolaborasi itu terus berlanjut hingga rekrutmen yang lazim dilakukan di awal kelas 12.

"Mungkin bisa disebut sistem ijon, anak-anak masih sekolah tapi sudah diterima bekerja. Hingga Desember ini saja, siswa kami yang diterima bekerja sedikitnya 160," ujar Lis.

Proses rekrutmen berjalan kontinu, industri datang silih berganti ke sekolah untuk melakukan tes, termasuk korporasi ternama yang jadi favorit salah satunya AHM. Bukan cuma karena gaji yang diperoleh, siswa pun melihat peluang pengembangan karier.

Para alumnus

Semengat itulah yang dikisahkan Diki Apandi, Rifai Prasetyo, Riffan Galuh, Edi Wijaya, serta Suhendra. Kelimanya alumnus SMK Mitra Industri dari jurusan TSM dan elektronika yang kini bekerja di AHM. Menyempatkan datang ke sekolah, seperti juga alumni lainnya yang rutin diundang untuk memberi masukan pada pihak sekolah, mereka optimistis menjadi pengatrol kehidupan keluarga.

Sehari-hari bekerja dengan aneka tombol dan peranti di line produksi pabrik, kemudi forklift hingga administrasi gudang pun tak mengikis semangat mereka buat berkreasi. Status sebagai operator dan tenaga teknis serta administrasi tak membuat mereka berjauhan dengan inovasi.

Ditantang untuk mengajukan ide proposal, sebutan buat inisiatif untuk mengembangkan kinerja timnya, mereka mengidentifikasi masalah yang muncul dalam keseharian serta mengajukan solusi.

"Sudah ada 30 ide proposal yang saya ajukan agar kerja di tim saya lebih cepat dan aman. Coba dibuat juga layout-nya, nanti dinilai berjenjang oleh department head dan jika dinilai bagus, diimplementasikab," ujar Rifai Prasetyo, 20, operator forklift di warehouse AHM.

Berikhtiar untuk meraih penilaian terbaik, tantangan mereka bukan cuma soal keterampilan teknis, melainkan juga disiplin, inisiatif, kerja keras, serta inovasi. "Adik saya juga masuk ke SMK ini, saya yang membayarkan uang sekolahnya, jadi harus berjuang supaya terus bekerja atau bahkan karyawan tetap," kata Riffan.

Optimisme dan syukur serupa juga diungkapkan Diki yang telah menabung agar dapat kuliah sambil bekerja, serta Edi yang membiayai adiknya ke pesantren. Hingga tiga angkatan yang diluluskan SMK Mitra Industri, sebanyak 95 bekerja di AHM dan 325 siswa menjalani PKL yang dilakukan setahun penuh di kelas 2.

Belajar bisnis

Industri dan sekolah yang terhubung, agar keduanya saling mendapat manfaat, juga terlihat dari hijaunya daun selada dan kangkung di kebun H-Mind, kependekan Hidroponik Mitra Industri. Komunitas bisnis ini telah membukukan omzet Rp4 juta dari hasil panen yang mereka jual ke kantin sekolah hingga orangtua.

"Selain karena suka tanaman, rata-rata kami yang jumlahnya ber-30 ini memang ingin belajar juga soal bisnis, jadi tertarik juga mempelajari soal bisnis ini," kata Herwin. Sebelumnya, mereka bergotong royong mengaplikasikan keterampilan yang dipelajari di kelas, terutama mereka yang jurusan elektronika, menyusun peranti penyemaian. Ada mesin pompa air serta paralon aneka ukuran yang mereka rangkai berdasarkan pelatihan yang mereka peroleh dari divisi pertanggungjawaban sosial AHM.

Bukan cuma terampil

Berbagai harmoni industri dan sekolah, selain menjadi pengayaan aneka keterampilan teknis buat siswa, juga memperkuat kepandaian emosional, yang justru menjadi kunci kesuksesan mereka di masa depan. "Kalau soal teknis, kami siapkan di sini, tetapi juga di dunia kerja akan dilatih kembali. Namun, yang paling dicari adalah siswa yang berwawasan, kreatif, disiplin. Keterampilan itu yang mereka dapat dari berbagai kegiatan hasil kolaborasi sekolah dengan berbagai pihak," kata Lis. Dari kelas, workshop, hingga kebun hidroponik di Cikarang, mereka merangkai cita-cita, mengungkit masa depan, juga keluarga. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More