Bertahan di Tengah Minimnya Order

Penulis: M Taufan SP Bustan Pada: Minggu, 31 Des 2017, 15:30 WIB Jeda
Bertahan di Tengah Minimnya Order

MI/TAUFAN SP BUSTAN

MESKI perangkat musik yang terdiri dari klarinet, piston, trombon, saksofon, hingga tambur itu tampak usang, Minan dan kelompoknya tetap bersemangat tampil. Kamis (28/12), kelompok yang bernama Tanjidor Tiga Bersaudara tersebut memperlihatkan rutinitas berlatih kepada Media Indonesia. Nyatanya, melodi demi melodi yang mereka sajikan memang masih nikmat di telinga.

Namun sayang, latihan itu bukan bagian persiapan penampilan malam tahun baru. Seperti juga yang mereka alami beberapa bulan ini, order penampilan tidak lagi menghampiri. Tersingkir dengan seni yang lebih modern dan merakyat, seperti dangdut.

"Ini sekadar latihan, kebetulan anak-anak di lingkungan ini mau belajar musik tanjidor, ya, kita ajarkan, alhamdulillah mereka sekarang yang jadi penerus kelompok ini," terang Minan.

Di masa jaya, kelompok yang berdiri pada 1971 ini laris di panggung pesta rakyat pemerintah, acara pernikahan, sunatan, dan di acara-acara komunitas Betawi.

Minan menyebut saat ini tinggal empat kelompok tanjidor tersisa di Jabodetabek. Dua di antaranya berada di Jakarta Timur, satu kelompok di Tangerang Selatan, dan satu kelompok di Jakarta Selatan. Untuk tarif, mereka umumnya menyesuaikan dengan skala acara. Pada acara-acara besar, kelompok Minan mematok harga hingga Rp7 juta.

Sementara itu, untuk hajatan biasa mereka mematok harga Rp1 juta hingga Rp2,5 juta. Pendapatan itu pun masih dipotong lagi dengan sewa kendaraan. Hingga praktis, profesi pemain tanjidor memang sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dengan minimnya order, Minan mengatakan kelompok-kelompok tanjodir yang lain pun sulit bertahan. "Hampir semua kan teman di kelompok-kelompok itu, makanya saya tahu," ujarnya. Mewakili kelompok tanjidor yang tersisa, Minan berharap adanya perhatian serius dari pemerintah terkait.
Keluhan soal order juga dirasakan Sanggar Seni Irama Fannan yang menampilkan gambang keromong. Pemimpin Sanggar Seni Irama Fannan Prana Aditya Putra Yomi mengatakan sudah sejak lama sanggar yang dikelolanya tidak menerima panggilan, termasuk dari Pemprov DKI Jakarta.

Kelas untuk anak

Di tengah kondisi sulit, komunitas tanjidor maupun gambang keromong itu tetap berupaya melestarikan budaya dengan membuka kelas bagi anak-anak.
Saat ini kelompok Tanjodir Tiga Bersaudara memiliki tiga anak SMP yang menjadi harapan regenerasi. Namun, anak-anak ini sebenarnya bukan orang luar, melainkan masih kerabat kelompok itu sendiri.

Sementara itu, Sanggar Seni Irama Fannan tidak hanya mengajari anak didiknya dengan lagu lawas menggunakan gambang keromong, tetapi juga mereka mencoba menggarap lagu-lagu yang tengah populer dari grup band pop atau dangdut. Itu sebagai bentuk mengikuti kemajuan zaman.
"Kami juga lakukan inovasi karena gambang keromong bisa mengiringi sejumlah lagu. Ya termasuk pop dan dangdut," ungkapnya.

Prana mengandalkan rekan-rekannya untuk mengajar walau tidak memberikan upah sepeser pun. Ia berharap Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta bisa lebih menyeluruh lagi membina seluruh sanggar seni tradisional yang ada.

"Ini harus betul-betul diseriusi dinas sehingga kepedulian dan pembinaan kepada seluruh sanggar yang mempertahankan kesenian Betawi benar-benar tepat sasaran," ucap Prana.

Melihat selera pasar

Nasib lebih menggembirakan ada di kesenian lenong. Seperti terlihat di panggung tahun baru yang dibuat Pemprov DKI, seni lenong hampir selalu ada.

Masih baiknya eksistensi kesenian tersebut juga diakui pengurus Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) DKI Jakarta Yahya Andi Saputra. Menurutnya, salah satu kunci keberhasilan seni ini ialah kemampuan beradaptasi dengan selera pasar.

"Semisal, permintaan pasar dalam setiap penampilan lenong memperbanyak humor harus diikuti, termasuk pula ketika pasar ingin memperbanyak lakonnya, sanggar lenong harus mengiyakan," ujarnya.

Sejauh ini, Yahya melihat lenong Betawi sudah lebih jauh berkembang. Namun, perhatian dari pemerintah sangat kurang. Menurutnya, perhatian pemerintah hanya terasa sebagai penuntasan anggaran. Dengan begitu, program minim tindak lanjut dan hanya bersifat momentum saja.

Sampai saat ini pun, lenong Betawi yang dibawahkan langsung oleh Yahya di LKB masih kurang mendapatkan bantuan dari pemerintah. Meski begitu, sejumlah lenong tersebut masih bertahan hingga kini.

Beberapa sanggar yang berada di bawah pembinaan LKB ialah Sinar Pusaka, Jali Putra, Setia Muda, dan Naga Putih. Seluruh sanggar tersebut masih banyak menerima order dari masyarakat.

Tingginya minat tersebut dapat digarap dengan baik oleh pemerintah dengan memberikan stimulan untuk inovasi kekinian dari seni tersebut. Yahya pun bersyukur pada acara penutupan tahun baru nanti Pemprov DKI kembali memberdayakan sejumlah pelaku kesenian Betawi. Ia berharap sanggar kesenian Betawi lainnya juga mendapat kesempatan dan pemberdayaan agar dapat berkembang. (M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More