Empat Srikandi Seni Teater Raih Penghargaan FTI

Penulis: (Abdillah M Marzuqi/M-2) Pada: Minggu, 31 Des 2017, 06:02 WIB Tifa
Empat Srikandi Seni Teater Raih Penghargaan FTI

MI/ABDILLAH M MARZUQI

PANGGUNG itu begitu tertata apik. Layaknya acara malam penghargaan, podium untuk juri berdiri dengan anggun di sebelah kiri. Di situlah nantinya, para juri akan membacakan keputusan penerima penghargaan. Di sisi lain, dua pengeras suara dipancang tegak untuk pembawa acara memandu jalannya malam penghargaan. Sebelah belakang panggung, deretan pemusik telah siap dengan alat masing-masing. Mereka tinggal menunggu aba-aba dari konduktor untuk mulai memecah suasana hening. Kursi-kursi masih menyisakan busa empuk untuk diduduki. Bahkan pandangan dari belakang dapat langsung menuju panggung. Tanpa harus mendapati rintang bulatan hitam kepala manusia.

Itu bukanlah gambaran suasana pentas teater. Sebaliknya, itu adalah Malam Anugerah Federasi Teater Indonesia (FTI) XII 2017 pada 27 Desember 2017 di Gedung Kesenian Jakarta. Ada banyak yang hal yang istimewa dalam pergelaran ini. Pertama, terdapat empat tokoh yang diberikan penghargaan. Semua tokoh itu adalah perempuan. Mereka telah memberi sumbangsih pada kehidupan dan perkembangan seni teater. Empat perempuan itu ialah Ratna Riantiarno yang terpilih sebagai Tokoh FTI 2017, Toeti Heraty Noerhadi Roosseno sebagai Maecenas FTI 2017. Sebagai Abdi Abadi FTI 2017, terpilih Tatiek Maliyati Sihombing. Sebuah penghargaan khusus juga diberikan kepada Yani M Sastranegara.

Federasi Teater Indonesia ialah lembaga nirlaba yang terbentuk atas dasar kesadaran bersama akan pentingnya kolektivitas, tidak berafiliasi politik dan menghimpun kelompok serta para pekerja teater: aktor, sutradara, penulis naskah, skenografer, produser, manajer seni pertunjukan, kritikus teater, dan profesi yang sejalur, dalam sebuah wadah yang bekerja secara kooperatif dan profesional dan terbentuk atas kesadaran bersama akan pentingnya kolektivitas demi kemajuan teater Indonesia.

Sepi dari rintangan
FTI didirikan di Teater Halaman Taman Ismail Marzuki pada 27 Desember 2004. FTI bermula dari gagasan dan inisiatif Radhar Panca Dahana, yang disambut Dindon WS dan kemudian didukung lebih dari 1.000 teaterawan dari 200-an lebih grup teater se-Jabotabek yang berkumpul di Teater Halaman. Namun, dengan sejarah panjang dan misi mulia itu, FTI masih belum sepi dari rintangan. Setidaknya itu tecermin dari ungkapan Ketua FTI Radhar Panca Dahana. Radar memperkirakan mungkin ini acara award yang terakhir dari FTI. Apakah akan membuat yang baru atau tidak sama sekali itu bergantung pada perjalanan berikutnya. Ia hanya ingin memberi imbauan kepada semua kalangan terutama government (pemerintah) untuk sungguh-sungguh memberikan perhatian kepada kerja-kerja seperti ini.
“Tidak hanya sebagai retorika. Tidak hanya sebagai slogan. ­Apalagi sebagai babel. Babel itu seperti balon harapan yang begitu besar. Seolah-olah kebudayaan itu adalah kekuatan terbaik di negeri ini. Tapi dalam urusan program sampai ke anggaran ternyata dia masih belum, menurut saya, dipedulikan dengan sungguh-sungguh,” ujar Radhar.

Senada dengan ungkapan itu, ­Ratna Riantiarno juga berharap agar teater bisa menjadi tuan di rumah sendiri. “Harapan saya, teater bisa menjadi tuan rumah di rumahnya sendiri. Itu yang paling penting. Itu salah satu impian saya. Mudah-mudahan FTI tetap bisa bertahan untuk tetap melanjutkan perjuangannya memberikan penghargaan kepada pekerja-pekerja teater,” ujar Ratna Riantiarno saat memberikan pesan apresiatif. (Abdillah M Marzuqi/M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More