Politik Menang-menangan

Penulis: Ono Sarwono sarwono@mediaindonesia.com Pada: Minggu, 31 Des 2017, 04:30 WIB PIGURA
Politik Menang-menangan

Dok MI

KETUA Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyebut politik di negeri ini cenderung tidak mengindahkan etika dan keadaban. Politik menang-menangan. “Menyebarkan (isu) SARA dan kebencian,” ujar Mega memberikan contoh perilaku politik menang-menangan dalam suatu acara di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, belum lama ini. Politik menggiriskan seperti itu pernah terjadi di Negara Wiratha dalam cerita wayang. Pemimpin Wiratha ketika itu, Prabu Matswapati, menghadapi gerakan radikal lawan-lawan politiknya, yang bukan hanya mengancam kedudukan dan nyawanya melainkan juga persatuan bangsa. Namun, pada akhirnya Wiratha selamat. Kekuasaan Matswapati dapat dipertahankan dari upaya pendongkelan berdarah yang dipilari tiga elite bangsa yang sedang memegang amanah. Inilah noda hitam yang tidak pernah terhapus dalam sejarah Negara Wiratha.

Berita bohong
Kisahnya, tiga elite penganut mazhab politik menang-menangan itu ialah Kencakarupa, Rupakenca, dan Rajamala. Mereka berkongkalikong membangun koalisi dengan target menjatuhkan kekuasaan Matswapati. Strateginya mengombinasikan antara memfitnah dan aksi kekerasan. Secara struktural pemerintahan, ketiganya memiliki jabatan tinggi sebagai senapati perang. Mereka pun masih ada hubungan keluarga dengan Matswapati karena ketiganya ialah adik-adik Dewi Rekatawati, istrinya. Namun, akibat terbius oleh nafsu berkuasa, mereka bersekongkol merebut singgasana Wiratha. Mereka bersumpah mati-hidup bersama-sama.

Secara berkala, pengkhianat itu mengadakan pertemuan rahasia mulai dari menyusun taktik, eksekusi, hingga mengevaluasi setiap langkah. Selain ketiganya, ada sejumlah pengikut yang mereka rekrut dari kalangan preman dan para bekas narapidana. Para begundal itulah yang menjadi ujung tombak menyebarkan fitnah atau berita bohong ke masyarakat hingga ke pelosok gunung lewat berbagai media. Mereka juga memanas-manasi warga untuk membenci Matswapati. Kabar hoaks yang mereka tabur di antaranya tentang utang negara yang kian membengkak, defisit neraca perdagangan yang kian menganga, dan cadangan devisi semakin menipis. Kemudian stok pangan komplang (kosong) sehingga harga sembako tidak terkendali. Memprioritaskan pekerja asing daripada anak bangsa sendiri. Padahal, pengangguran dalam negeri bertumpuk-tumpuk tanpa masa depan yang jelas.

Bukan itu saja, secara pribadi Matswapati juga diserang habis-habisan. Misalnya, terkait dengan asal usul serta keyakinannya. Ia juga disebarluaskan sebagai pemimpin ingah-ingih (tidak meyakinkan) dan tidak becus mengurus bangsa dan negara. Tidak luput keempat putra-putrinya, yakni Seta, Utara, Wratsangka, dan Utari, juga menjadi bulan-bulanan target aksi-aksi kotor. Memang tidak semua rakyat termakan oleh isu-isu provokatif tersebut. Namun, tidak bisa dibantah bahwa kondisi sosial kemasyarakatan menjadi tidak tenteram dan cenderung mencekam. Warga jadi tidak bebas beraktivitas karena suasananya saling curiga. Instabilitas demikian inilah yang dijadikan modal Kencakarupa dan Rupakenca mengultimatum Matswapati. Caranya, mereka mengajukan desakan agar diadakan adu jago. Siapa yang jagonya menang adalah yang berhak memerintah Wiratha. Kencakarupa mengajukan Rajamala sebagai jagonya.

Rajamala lebur
Kencakarupa dan Rupakenca mempridiksi Rajamala tidak akan kalah oleh siapa pun jagonya Matswapati. Mereka yakin tidak ada satu pun warga Wiratha yang akan mampu menandingi Rajamala. Oleh karena itu, mereka yakin singgasana Wiratha segera jatuh ke tangan.
Apalagi, berkat propaganda hitam mereka, sebagian rakyat sudah tidak percaya kepada Matswapati. Mereka mengampanyekan pergantian kekuasaan untuk membawa perbaikan kehidupan. Namun, warga tidak sadar telah dikapitalisasi koalisi Rajamala demi hasrat politik mereka.

Matswapati sempat ketar-ketir. Pun ia tidak kuasa menolak desakan Kencakarupa dan Rupakenca. Namun, setelah putranya, Seta, yang ia perintahkan mencari jago akhirnya sudah mendapatkannya, degup jantungnya berangsur normal. Jagonya bernama Jagalbilawa, yang sejatinya Bratasena yang menyamar sebagai anak jagal Walakas, juru masak istana Wiratha. Pada waktu dan tempat yang sudah disepakati, terjadilah duel dua jago, yakni antara Rajamala dan Jagalbilawa. Berulang kali Rajamala mati dihunjam kuku pancanaka Jagalbilawa. Namun, ia selalu bisa hidup kembali setelah diceburkan dalam sendang tidak jauh dari arena peperangan. Itulah yang mengakibatkan Bratasena kewalahan dan terancam jiwanya.

Melihat situasi kritis tersebut, Wrahatnala (nama samaran Arjuna), melepaskan panah sakti ke sendang tersebut. Ketika Rajamala mati lagi di tangan Jagalbilawa, lagi-lagi Kencakarupa dan Rupakenca beserta para pengikutnya menggotongnya untuk diceburkan ke sendang dengan harapan lukanya sembuh dan hidup kembali. Namun, apa yang terjadi, jasad Rajamala hancur lebur.Serta-merta Kencakarupa dan Rupakenca mengamuk. Keduanya mengeroyok Jagalbilawa. Namun, mereka dapat disirnakan. Dengan matinya semua anggota koalisi Rajamala itu, Wiratha kembali tenteram dan Matswapati tetap kukuh duduk di singgasana raja. Terkuaklah bahwa yang berjasa mengembalikan ketenteraman Negara Wiratha ialah Pandawa yang sedang menyamar pascamenyelesaikan hukuman 12 tahun di Hutan Kamyaka akibat kalah main dadu dengan Kurawa. Sebagai balas jasa, Matswapati berjanji akan membantu Pandawa dengan seluruh kekuatan angkatannya dalam perang Bharatayuda.

Politik mulia
Poin yang bisa digarisbawahi dari kisah itu ialah betapa tengiknya praktik politik menang-menangan. Dalam aliran ini segala cara halal dilakukan asal untuk menang. Tidak peduli hal itu maracuni atau merusak norma dan tatanan kehidupan dan mengancam keutuhan bangsa. Dalam konteks kebangsaan, inilah yang dikhawatirkan akan menyubur dalam kegiatan politik pada tahun depan, yakni pemilihan kepada daerah (pilkada). Pilkada yang semestinya dijadikan budaya memilih pemimpin terbaik, bukanlah tidak mungkin akan dijadikan gelanggang mati-matian ‘adu syahwat’.

Siapa pun, terutama bagi para elite, janganlah menggelindingkan politik menang-menangan hanya untuk kepentingan pragmatis sesaat. Hindari cara-cara dengan memolitisasi isu SARA, misalnya. Jangan pula mengapitalisasi rakyat yang belum terdidik karena itu akan melahirkan ‘generasi hoaks’ yang sangat berbahaya. Bangunlah peradaban politik yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan dan keluhuran. (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More