Lelaki Penyair dan Perempuannya

Penulis: Risen Dhawuh Abdullah cerpenmi@mediaindonesia.com Pada: Minggu, 31 Des 2017, 04:01 WIB Cerpen
Lelaki Penyair dan Perempuannya

PA

IA seorang penyair, lelaki, penyuka kopi, namun tak terlalu suka dengan sepi ia tahu sepi bagian dari puisi. Rambutnya tak panjang, tidak seperti kebanyakan penyair muda. Lelaki itu sebenarnya tak pernah menyebut dirinya sendiri penyair. Sehari saja tanpa bergelut dengan kata-kata, lelaki itu tak akan tenang dalam mengarungi waktu. Dan ke mana-mana ia selalu membawa buku. Tentu saja yang dimaksud buku adalah buku puisi. Singkatnya, jiwa kepenyairannya sudah mendarah daging. Jika keluar rumah, terutama saat menghadiri acara kesastraan yang di mana di situ ada puisi, lelaki itu pasti mengenakan topi berwarna coklat, secoklat kayu yang warnanya pekat karena usia yang begitu tua. Tak pernah yang namanya ia mengenakan sepatu. Ia selalu memakai sandal. Kekasihnya beberapa kali menegurnya, namun ia tak peduli. Baginya, masalah penampilan, orang lain tidak boleh ikut campur.

Sore ini ia memandang langit jingga, tangannya tak membawa apa-apa, dan mungkin memang ia sedang tak mau apa-apa. Lelaki itu diam, khusyuk, seakan di balik langit jingga ada teka-teki dan ia sedang berusaha memecahkannya. Tak jauh dari lelaki itu berdiri, ada kafe. Namanya Kafe Pura-pura Sepi penulis sama seperti lelaki itu, tidak habis pikir, kenapa nama kafe itu, Kafe Pura-pura Sepi. Memandang langit jingga di dekat kafe adalah rutinitasnya, namun bukan berarti hal itu ia lakukan setiap hari. Biasanya bila sudah menikmati sajian alam yang begitu melankolis, ia akan melangkahkan kaki ke kafe itu, menunggu kekasihnya. Tentu saja sebelum pertemuan tercipta, ada pertemuan lain, pertemuan itu di alam maya.

***
Perempuannya sangat cantik, ia seorang model papan atas, pinggulnya indah setengah mati. Jika ia kata-kata, ia lebih indah dari puisi romantis manapun. Tak jarang lelaki itu menulis puisi tentang perempuannya sendiri. “Sudah lama?” Lelaki itu kaget, begitu ia merasakan lehernya dililit kelembutan tiada tara. Tapi ia segera menghilangkan kekagetannya. Sudah biasa lelaki itu diberlakukan seperti itu oleh kekasihnya. “Terlambat lagi?” Lelaki itu bertanya, nadanya mengandung kekesalan. “Maaf, tadi ada pemotretan dadakan. Aku harus profesional.”

Lelaki itu ingin berkata-kata, namun keinginan itu hanya keinginan belaka. Dipandanginya cangkir yang ada di hadapannya. Tak berisi, isinya sudah habis sejak setengah jam lalu. Perempuannya menyibakan rambut, seketika menguar aroma perempuan.
Suasana kafe sendiri tak begitu ramai. Kekasih lelaki itu memanggil pelayan, memesan apa yang diinginkan. Sesungguhnya beberapa hari setelah memacari perempuan yang kini menjadi pacarnya, dada lelaki itu tak tenang, hari-harinya diliputi kabut kegelisahan. Lelaki itu tak habis pikir dengan perempuannya yang sangat sulit diberi pengertian. Sesungguhnya gelisah yang ada di dada lelaki itu gelisah cemburu, tapi apa mau dikata? Lelaki itu tak pernah berpikir panjang dulunya, rasa senang telah membuatnya tak dapat berpikir waras.
Setiap malam, perempuan itu ke klab malam, menari-nari dengan botol bir, atau kalau tidak minuman biasa. Bersama para lelaki yang kehausan perempuan—pacar lelaki itu bukan kupu-kupu malam. Lelaki itu pernah diajak. Pada awalnya ia senang menikmati kehidupan malam yang semacam itu. Namun lambat laun ia tak habis pikir, karena perempuannya seenaknya berciuman dengan para teman lelakinya. Itu sungguh tak dapat diterima akal sehatnya.\

“Bisakah kau berhenti bergaul pada malam hari?” Akhirnya lelaki itu tak dapat menahan gejolak yang ada di balik dadanya. Jantungnya berpacu cepat. “Kenapa?” Padahal perempuannya tahu isi hati lelaki itu, ia masih saja bertanya kenapa. “Aku tidak ingin moralmu rusak.”
“Hah rusak?” Hampir saja perempuannya tersedak, perempuan itu sedang menikmati gelas pesanannya. “Aku tidak ingin kau terlalu mengaturku.” “Kehidupan model telah membuat hatimu gelap. Sulit ternyata menyadarkan orang yang berjalan di jalan yang tidak benar.”
“Lho berjalan di jalan yang tidak benar bagaimana? Kan yang penting tidak kelewatan.” Tiba-tiba saja lelaki itu membayangkan perempuannya pulang malam-malam, lewat tengah malam. Lalu di jalan, kendaraan yang dikendarai dicegat oleh begal. Tak ada orang yang menolong, tak ada siapa pun. Tiba-tiba saja ia tak kuat membayangkan. Lelaki itu mengibaskan kepalanya.

***
Berhari-hari sudah lelaki itu mengoceh ini dan itu di depan perempuannya. Tak pernah bosan, tak henti-henti. Pernah pada suatu malam, lelaki itu mengasari perempuannya, menyeretnya pulang dari dunia malam itu. Tapi itu tak membuatnya jera. Hari berikutnya ia mengulangi lagi. Tersirat di benaknya, bagaimana jika hubungan ini diakhiri saja. Lelaki itu yang tak kuasa bila itu direalisasikan atau terealisasikan, ia sudah terlanjur mencintai perempuannya. Kemudian ia membiarkan saja, ia juga meminta maaf, dan perempuannya tak sekeras batu, ia mau memaafkan, untuk yang kesekian kalinya. Mereka tetap seperti dulu, akan apel bila ada waktu yang tak mengganggu aktivitas masing-masing. Mereka juga masih sering mengunjungi Kafe Pura-Pura Sepi. Dan perempuannya pun terlihat bahagia. Ya, kehidupannya sudah tak begitu diurusi oleh lelakinya. Lelaki itu sendiri bukan berarti merelakan perempuannya begitu saja dengan kehidupan malam harinya. Lelaki itu justru berpikir keras seiring berjalannya waktu. Dan pada suatu hari yang dipenuhi air hujan, ia tersenyum.
“Ya, aku harus segera melakukannya,” ucapnya mirip gumaman, rekahan senyumnya penuh kemenangan.

***
Sore ini lelaki itu duduk melamun di teras dengan layar laptop menatapnya. Sore ini ia tak apel. Kopi yang diraciknya sendiri telah mendingin, dan agaknya sebentar lagi hujan akan turun begitu deras karena langit yang begitu hitam. Mungkin saja malam nanti akan ditemani hujan. Bersamaan dengan angin yang berembus kencang, lamunan lelaki itu buyar. Jari-jarinya kemudian mengetuk tuts laptop. Matanya sesekali ditajamkan. Lelaki itu sedang membuat puisi sekaligus mengutak-atik file-file puisinya untuk dijadikan satu file—untuk dijadikan sebuah naskah. Lalu naskah itu nantinya akan ditawarkan ke penerbit. “Aku harus segera menyelesaikannya, supaya hatiku tentram. Tunggulah, Ana. Aku akan segera memasukanmu ke dalam puisiku,” ucapnya.

Memasukan perempuannya ke dalam puisi? penulis pun mengerutkan dahi. Tapi yang ada di dalam otak lelaki itu memang itu. Ia ingin memasukan perempuannya ke dalam puisinya sendiri ia mendapat ilmu memasukan sesuatu ke dalam puisinya dari guru lamanya.
Lelaki itu berusaha mengatur keadaan seolah tidak akan terjadi apa-apa. Perempuannya, senja kali ini lebih manja dari biasanya. Telapak tangan lelaki itu meremas telapak tangan perempuannya begitulah cara mereka mengisi waktu sebelum pesanan minuman sampai ke meja mereka. Senyum tersungging di bibir perempuannya. Lelaki itu tak ingin sesegera mungkin melaksanakan hasratnya. Ia mencoba menasehati sekali lagi. Dan yang ada, perempuannya naik darah. Cepat-cepat lelaki itu menenangkan.
“Kalau kau masih saja membahas itu, aku tak segan-segan mengakh…” Ucapan perempuannya terpotong.

“Cukup… Cukup… Aku tidak akan mengusikmu lagi. Aku janji, bila masih mengusik kehidupanmu itu, kau boleh melakukan apa saja terhadapku, termasuk mengakhiri hubungan ini.” “Aku sangat mencintaimu, Egi.” Tiba-tiba saja tanpa alasan yang jelas, perempuannya berkata dengan nada sendu. “Kau juga mencintai aku kan?” “Tentu saja, Ana.” “Kalau kau sangat mencintai aku, tolong jangan usik aku lagi soal itu. Aku tak bisa meninggalkannya. Aku janji, akan baik-baik saja.” Lelaki itu tak menanggapi ujaran perempuannya. Lalu ia membuka laptop, dibukanya file naskah puisi yang sudah siap untuk ditawarkan ke penerbit. Lelaki itu komat-kamit mulutnya. “Kau kenapa, sih?” Lelaki itu terus komat-kamit, tak menghiraukan pertanyaan perempuannya. Beberapa saat kemudian kata-kata yang terlontar dari mulutnya amat misterius, tak lebih dari sebuah mantra.

“Egi?” Tubuh perempuannya berubah menjadi bercahaya, lelaki itu belum juga berhenti mulutnya. “Lho, tubuhku… Egi… Egi…” Kemudian terdengar teriakan yang begitu panjang. Setelah teriakan itu hilang, perempuannya sudah tak ada lagi di hadapannya. Lelaki itu lega, ia telah berhasil, memasukan perempuannya ke dalam salah satu puisinya. Sekarang ia tak perlu khawatir lagi, hari-harinya tak akan ia lewati dengan gelisah. Kalau semisal ia rindu dengan perempuannya, ia tinggal membuka puisinya. Tapi sayangnya lelaki itu telah teledor. Amarah telah membuatnya tak sadar. Ia tidak tepat memasukan perempuannya ke dalam puisinya. Keteledoran itu baru ia sadari tiga hari setelah perempuannya masuk ke dalam puisinya. Seharusnya ia tak memasukan ke dalam puisinya yang berjudul, “Lelaki Mata Keranjang”. Lelaki itu kembali tak tenang, ia memikirkan perempuannya. Ia tahu, di dalam puisi ada kehidupan. “Ana…” Ia menyebut nama perempuannya dengan lirih pada suatu malam yang tak berbeda dari malam-malam sebelumnya. Seketika di pikirannya timbul pertanyaan, bagaimana bila kekasihku digagahi oleh tokoh ciptaanku sendiri?

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More