Ragam Budaya dalam Pusaran Jarak dan Waktu

Penulis: Galih Agus Saputra Pada: Sabtu, 30 Des 2017, 02:05 WIB Humaniora
Ragam Budaya dalam Pusaran Jarak dan Waktu

MASJID Sheikd Zayed yang megah dan putih bersih di Abu Dhabi itu terpampang jelas dengan latar langit biru jernih. vDi dalamnya, salat Zuhur telah berakhir. Fazal Karim, sopir taksi Afghanistan berusia 53 tahun, seperti biasa, mengamati kemewahan di sekelilingnya.
Di luar pekarangan, mata Fazal menelanjangi pilar-pilar pualam tinggi, dengan ukiran bertatahkan permata, pola daun emas, dan desain kaligrafi Arab. Tak lama kemudian istri Fazal, Gulchara, menyampaikan kabar keluarga di kampung halaman.

"Babajaan (baca: Ayah) Noorie, harap pulang ke rumah! Kumohon, jangan menunda pernikahan Noorie setahun lagi. Akan runyam jika itu kita lakukan," katanya, disusul Fazal yang tampak terkejut, sementara mata biru kelabunya tampak dingin di wajah kecokelatan yang terbakar matahari. Fazal merupakan buruh migran yang menggantungkan hidup sebagai sopir taksi di Abu Dhabi. Ia salah satu tokoh rekaan Qaisra Shahraz dalam novel Train to Krakow (2017) yang sepenggal kisahnya telah diceritakan di paragraf awal tadi.

Qaisra dikenal sebagai salah satu penulis yang cukup produktif di skala internasional. Ia lahir di Pakistan dan kini tinggal di Manchester, Inggris. Sejumlah buku yang pernah ditulisnya, seperti The Holy Woman (2002), Typhoon (2007), Revolt (2013), dan A Pair of Jeans and Other Stories (2013), serta novel berbahasa Indonesia Train to Krakow (2017) yang diterjemahkan dari novel The Concubine and the Slave Catcher: And Other Stories dan diterbitkan Mizan Publika. Melalui novel terbarunya Train to Krakow (2017), Qaisra mencoba mengajak pembaca untuk memahami pengalaman hidup para migran.

Koleksi 10 cerita pendek yang ia suguhkan ditulis secara berani dan cukup mengesankan. Kisah yang membahas benturan budaya, ia balut dengan kemanusiaan dan empati yang mendalam. Dengan membaca novel Train to Krakow (2017), pembaca akan diajak melewati perjalanan dari Abu Dhabi, Pakistan, India, Amerika, Peru, Britania Raya, hingga Polandia. Balutan kisah yang disajikan Qaisra dapat memancing tawa, tetapi di sisi lain juga menunjukkan kesedihan, sekaligus hasrat mendalam para migran untuk pulang. Kilauan cerita yang direka Qaisra memiliki kualitas yang cukup tinggi.

Pembentukan tokoh, penyusunan plot, ketajaman konflik, dan pertemuan antarbudaya di dalamnya dibingkai menggunakan kehidupan yang biasa kita jalani. Perjalanan melintasi kehidupan manusia itulah yang mengagumkan, campur aduk antara kesedihan, kadang bahagia, dan kerinduan para migran menjadi momen yang tak mudah lekang. Berbagai macam fenomena seperti perbudakan kulit hitam, penaklukan bangsa Inka oleh Spanyol, pemisahan wilayah di India, dan migrasi zaman modern, semuanya dikupas Qaisra. Gairahnya mencoba membawa kita bertamasya di berbagai macam dimensi kehidupan manusia yang terdapat di beberapa benua dan berlangsung selama beberapa abad.

Empati dan kemanusiaan
Dalam novel Train to Krakow (2017), selain diceritakan kisah Fazal Karim dan keluarganya, diceritakan pula kisah persahabatan antara Faiza dan Salma. Faiza yang tengah hamil muda diperintahkan mertuanya agar tidak berteman dengan Salma yang telah tiga kali mengalami keguguran. Melalui kisah ini, Qaisra mencoba mendobrak mitos tentang kegagalan kehamilan pada perempuan. Ia hendak mematahkan mitos tersebut dengan pengetahuan abad ke-21 yang seharusnya diketahui pula oleh perempuan pada zaman tersebut.
"Itu tidak adil bagi perempuan yang pernah mengalami keguguran. Aku merasa seakan-akan diriku tidak bersih. Aku tidak bisa menjelaskan kepadamu penderitaan yang kualami, bukan hanya karena kehilangan bayiku tercinta, melainkan juga karena cara perempuan lain, seperti ibu mertuamu, memperlakukanku. Alih-alih menawarkan simpati, mereka menolakku," tutur Salma, dalam cerita yang ditulis Qaisra.

Faiza punya empati yang mendalam terhadap Salma. Namun, pada saat yang sama, ia merasa tidak memiliki kemampuan untuk mendobrak mitos yang telah bertahan secara turun-temurun. Akhirnya, Faiza pun merasa sama bersalah, seperti yang dilakukan ibu mertuanya.
Namun, Salma punya kabar baik, ada secercah harapan baginya untuk mendapat keturunan. "Dua hari yang lalu, aku pergi ke Peshawar untuk menemui dokter perempuan, seorang ginekolog. Dia mengatakan penyebab aku mengalami keguguran adalah karena aku punya semacam rahim yang longgar sehingga sulit bagiku untuk menjalani kehamilan secara penuh. Dia menyarankan pengobatan selama enam bulan. Setelah itu, segalanya akan baik-baik saja. Aku akan bisa menjalani kehamilan normal yang sehat," imbuh Salma.

Nukilan fenomena perpisahan antara India dan Pakistan juga diceritakan Qaisra dalam tokoh Riaz. Riaz ialah anak pertama dari pasangan penganut ajaran Islam, Sarwar Hussein dan Zarine yang mulanya tinggal di Kota Badal Khan, dekat Distrik Nakodar, India, ketika perselisihan antara kaum Sikh dan muslim berkecamuk. Pada suatu waktu, perselisihan sudah tak terelakkan. Sarwar pun memutuskan untuk membawa keluarganya, termasuk Riaz untuk pindah ke tempat warga seiman lainnya tinggal, yaitu di Pakistan. Dalam tengah perjalanan, ketika Sarwar sekeluarga beristirahat di sekitaran semak-semak, melintaslah beberapa orang dari kaum Sikh.

Pada saat yang sama, Riaz kecil meminta air minum kepada Sarwar lantaran merasa tenggoroknya kering. Sarwar tidak memberikan air minum. Ia malah menutup mulut Riaz agar keberadaan mereka sekeluarga tidak diketahui kaum Sikh. Namun, malang, Riaz kecil yang haus kini malah tampak lemas dan tidak bernapas karena Sarwar terlalu kuat menyekap mulutnya.Sarwar kemudian merasakan ada suara yang hendak keluar dari kerongkongannya. Namun, sebelum itu, ia menyorongkan ujung selendang wolnya ke dalam mulut, serta menggigitnya keras-keras lalu berteriak.

Ia berpikir telah membunuh putranya sendiri, selagi menyelamatkan nyawa seluruh keluarganya. Singkat cerita, Riaz telah tumbuh dewasa dan berubah nama menjadi Raju. Pasutri itu juga telah menceritakan bagaimana orangtua Raju meninggalkannya di depan rumah. Raju yang telah dewasa kemudian ingin mencari orangtuanya di Pakistan. Raju akhirnya menemukan keluarganya di Pakistan. Zarine amat bahagia mengetahui anaknya tidak meninggal dan telah menjadi dewasa, begitu juga dengan Sarwar dan keluarga besarnya. Namun, sekarang kondisi telah berubah, Riaz kecil sudah berubah menjadi Raju dengan likaliku kehidupannya.

Kisah itu ditutup dengan kebahagiaan di satu sisi keluarga Riaz dan di sisi lain keluarga Raju, yang menyaksikan anak itu menikahi seorang gadis. Pada saat itulah, dengan memperhatikan air mata satu sama lain, kedua wanita itu menemukan kebahagiaan besar seorang anak. Riaz untuk ibu kandungnya dan Raju untuk ibu yang lain. Atas kiprahnya, Qaisra telah mendapatkan beberapa penghargaan di skala internasional. Ia menjadi salah satu dari 100 wanita Pakistan paling berpengaruh dalam Pakistan Power 100 List. Novelnya, The Holy Woman (2002), pernah mendapat Golden Jubilee Award dan mendapat penghargaan sebagai best book of the month di Inggris, Waterstones. The Holy Woman (2002) juga sempat bertengger dalam jajaran buku terlaris di Turki dan Indonesia. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More