Kontroversi Teknologi Rekayasa Genetika

Penulis: (AFP/Nature/Hnf/L-2) Pada: Sabtu, 30 Des 2017, 00:45 WIB Eksplorasi
Kontroversi Teknologi Rekayasa Genetika

grafis

PADA awal bulan ini, para ilmuwan dan aktivis lingkungan berkumpul di Montreal, Kanada, untuk membahas rekayasa genetika yang dapat berdampak pada lingkungan. Meskipun banyak pro dan kontra, teknologi rekayasa genetika yang disebut gene drive tersebut cenderung disetujui banyak pihak. Sebagian pihak beranggapan teknologi tersebut mampu meng­halau spesies yang menimbulkan kematian pada spesies lain, seperti nyamuk malaria yang menewaskan hampir setengah juta orang pada tahun lalu. Pihak lain khawatir rekayasa genetika tersebut akan menjadi gerbang menuju kekacauan ekologi atau menjadikan tujuan kesehatan dan konservasi sebagai alibi untuk tujuan industri dan militer.

Salah satu pihak yang setuju ialah Badan Penelitian Lanjutan Lembaga Pertahanan Militer AS (Defense Advanced Research Projects Agency/DARPA) dan Yayasan Bill and Melinda Gates. Mereka telah mengalokasikan ratusan juta dolar AS untuk penelitian gene drive dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan Yayasan Gates mengeluarkan US$1,6 juta pada musim panas tahun ini untuk memukul mundur moratorium penelitian gene drive yang diserukan pada akhir tahun lalu oleh ratusan LSM yang kontra terhadap penelitian tersebut.
Peneliti asal North Carolina State University dan anggota komite pakar teknis ad hoc tentang biologi sintetis, Ad-hoc Technical Experts Committee/AHTEG, Todd Kuiken berada di pihak yang kontra terhadap moratorium tersebut. Ia menganggap moratorium itu tidak masuk akal.
Ia juga tidak setuju dengan adanya dana militer dalam proyek tersebut. Kuiken mengundurkan diri ketika mengetahui DARPA mengucurkan dana hibah untuk universitasnya terkait dengan penelitian genetika tersebut. Menurutnya, ada kemungkinan DARPA akan menguasai hasil penelitian.

Namun, juru bicara DARPA Jared Adams membantah. Ia menyatakan langkah militer AS merupakan pencegahan dalam menghadapi risiko yang timbut dari pesatnya perkembangan teknologi pengeditan genetika. Adalah kewajiban DARPA untuk mendukung penelitian dan mengembangkan teknologi yang dapat melindungi dari penyalahgunaan.

Tujuan rekayasa
Teknologi gene drive pertama kali dianggap sebagai penyelamat potensial bagi hewan yang dimusnahkan spesies nonasli seperti tikus dan nyamuk. Hal itu disampaikan dalam studi oleh sekelompok ilmuwan pada 2014 yang dipimpin ilmuwan asal Massachusetts Institute of Technology (MIT) Kevin Esvelt.

‘Mengurangi populasi spesies invasif yang merusak lingkungan dan ekonomi merupakan salah satu dari banyak peluang menarik yang ditawarkan dalam teknologi tersebut’, tulisnya dan rekan-rekannya pada saat itu. Dalam studi yang diterbitkan pada Prosiding National Academy of Science tersebut, para peneliti menggunakan teknologi rekayasa genetika yang disebut gene drive untuk memastikan para nyamuk mutan, yang telah direkayasa gennya, mampu meneruskan gen resistansi baru tersebut ke hampir seluruh keturunannya. Hasilnya gen akan bisa menyebar ke populasi nyamuk liar.

Anthony James, ahli biologi molekuler di University of California, selama ini telah berusaha membangun alat molekuler untuk menghentikan malaria. Ia dan timnya telah berhasil menciptakan nyamuk transgenik dan gen yang terisolasi. Akan tetapi, ia belum dapat memastikan apakah langkahnya mempan pada populasi liar. Ia optimistis nyamuk mutan tersebut akan dapat disebar dalam waktu kurang dari setahun ke depan. (AFP/Nature/Hnf/L-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More