Periksa Jantung Janin Sentuh Pelosok Negeri

Penulis: (Aya/H-2) Pada: Jumat, 29 Des 2017, 04:31 WIB BIG CIRCLE
Periksa Jantung Janin Sentuh Pelosok Negeri

MI/ADAM DWI

TARGET penurunan angka kematian ibu saat kehamilan dan melahirkan yang ditetapkan 5,5% per tahun oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals/MDGs) selama 1990 hingga 2015 ternyata kini masih kurang dari 1% per tahun.

Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan pada 2010 sekitar 536 ribu ibu di dunia diperkirakan meninggal karena mengalami komplikasi selama kehamilan dan kelahiran. Sebanyak 99% masalah kematian ibu itu terjadi di negara berkembang.
Sementara itu, jumlah dokter di seluruh Indonesia belum ideal bila dibandingkan dengan jumlah ibu hamil. Padahal, kondisi kesehatan ibu hamil dan bayinya harus terus dipantau, antara lain dengan menggunakan cardiotocography atau biasa disebut CTG. Yakni, alat yang digunakan untuk mengetahui gerakan janin dan denyut jantung janin di dalam rahim.

Berangkat dari kondisi tersebut, Abraham Auzan, 29, dan Ari Waluyo menciptakan inovasi untuk para ibu hamil di seluruh pelosok negeri. Keduanya mengembangkan teknologi Tele-CTG sebagai alat untuk mengetahui gerakan janin dan denyut jantung janin tersebut.
Tele-CTG ialah aplikasi yang dapat membantu pasien, khususunya ibu hamil, dan paramedis (bidan atau dokter) untuk mengukur denyut jantung janin secara efektif, real-time, dan ekonomis. Salah satu ide yang digagas adalah Tele-CTG. Selain ekonomis, itu praktis karena berbentuk portabel dengan sistem pembacaan hasil yang lebih mudah.

Alat tersebut memiliki dua sensor untuk ditempelkan pada perut ibu hamil. Kedua sensor terhubung dengan mesin di rumah sakit. Melalui Tele-CTG, peran mesin digantikan ponsel pintar. Selanjutnya, hasil dari pemeriksaan berupa data grafik dan angka dapat diteruskan ke rumah sakit (RS) terdekat dari tempat pasien.

Dokter di RS akan merespons hasil pemeriksaan Tele-CTG dan mengeluarkan rekomendasi, apakah kondisi janin baik-baik saja atau ibu hamil direkomendasikan segera mendatangi RS untuk pemeriksaan lebih lanjut. Ke depan Tele-CTG diyakini menjadi andalan alat bantu paramedis, terutama di pelosok Tanah Air, untuk memenuhi kebutuhan tenaga medis yang saat ini tercatat hanya sebanyak 3.500 orang. Dari sisi harga, CTG konvensional dijual distributor kesehatan mulai Rp40 juta hingga Rp50 juta per unit. Untuk merek tertentu, alat ini bahkan mencapai Rp100 juta. Sementara itu, Tele-CTG dijual lebih murah sekitar Rp10 juta hingga Rp15 juta dengan tingkat akurasi 99% bila dibandingkan dengan CTG konvensional. (Aya/H-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More