Arisan Mapan Ajari Masyarakat Disiplin Menabung

Penulis: (Aya/H-2) Pada: Jumat, 29 Des 2017, 04:16 WIB BIG CIRCLE
Arisan Mapan Ajari Masyarakat Disiplin Menabung

MI/ADAM DWI

MAHIR membidik peluang di masyarakat ialah salah satu kunci keberhasilan bisnis. Tidak masalah bila usaha itu harus dimulai dari peralatan rumah tangga yang terkesan remeh-temeh, padahal penting. Seorang lulusan Master of Business Administration Harvard University, Aldi Haryopratomo, 35, menemui fenomena masyarakat perdesaan yang punya kebiasaan membeli barang secara kredit. Barang-barang itu di antaranya panci, penggorengan, bahkan baju, dan dibeli secara mencicil selama 10 bulan.

Setelah menemukan fakta tersebut, Aldi kemudian menciptakan wadah agar masyarakat berpenghasilan rendah dapat mengakses produk dan layanan demi taraf hidup yang lebih baik. Perusahaan yang ia dirikan untuk menginovasi budaya arisan itu bernama PT Rekan Usaha Mikro Anda (RUMA) dengan brand bernama Mapan. Sebelum mendirikan Ruma, Aldi bekerja di salah satu startup peer to peer lending di California, Amerika Serikat. Suatu ketika ia dihadapkan pada kondisi kehabisan peminjam, padahal pemberi pinjaman sangat banyak. Oleh karena itu, ia pun berpikir untuk melakukan hal sama di Indonesia, dengan tujuan menaikkan derajat masyarakat.

Saat ini, Ruma beranggotakan 800 ribu orang di 90 kota yang tersebar di Pulau Jawa dan memiliki 80 ribu ketua arisan (KA). Arisan Mapan dilakukan sebulan sekali, dengan periode arisan selama 10 bulan (10 kali pertemuan). Harga barang yang dicicil anggota Mapan adalah 1 per 10, dikalikan harga barang yang mereka kehendaki.

Dalam penyediaan peralatan rumah tangga yang dibutuhkan, Ruma menggandeng pabrik-pabrik kecil ataupun besar. Produk-produk tersebut seperti panci, seprei, dan handuk. Organisasi manajemen terdiri dari sepuluh orang. Pendapatan perusahaan diperoleh dengan mengutip fee dari penjualan barang-barang rumah tangga.

Ruma menargetkan untuk memiliki puluhan juta anggota dalam beberapa tahun mendatang. Aldi optimistis hal itu bisa dilakukan karena arisan merupakan budaya gotong royong masyarakat yang sudah berlangsung turun-temurun. Kendati demikian, ia tidak menampik masih banyak orang meragukan bahwa ekonomi gotong royong bisa mendulang keuntungan. (Aya/H-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More