Milenial Jangan Tunda Beli Properti

Penulis: Administrator Pada: Selasa, 26 Des 2017, 10:40 WIB Properti
Milenial Jangan Tunda Beli Properti

ANTARA /RAISAN AL FARISI

GENERASI milenial dalam beberapa tahun ke depan akan menciptakan bonus demografi bagi Indonesia. Kesempatan itu dapat menjadi peluang besar bagi industri properti karena saat ini lebih dari 40% kelompok pembeli ialah milenial.

Namun ternyata, membeli properti belum menjadi prioritas bagi generasi milenial. Country Manager Rumah123.com Ignatius Untung mengatakan, generasi milenial dalam rentang usia 23 tahun-27 tahun justru lebih memprioritaskan untuk menggunakan uang membeli gadget dan jalan-jalan (traveling). Hal itu tentu menjadi lampu merah bagi industri properti karena 10 tahun ke depan, milenial ialah kelompok terbesar pembeli rumah.

Kondisi memprihatinkan juga terjadi pada generasi milenial yang terus menunda untuk membeli properti. Hal itu karena tiap tahun milenial yang menunda pembelian properti berpotensi kehilangan 4%-8% ukuran properti. Artinya rumah yang bisa dibeli ialah rumah ukuran kecil atau yang berada di dalam gang-gang sempit.

“Kalau ditunda memang tetap bisa dibeli, tapi ukurannya kebih kecil. Karena itu jangan menunda membeli rumah. Dibandingkan menyewa, selisih biaya sewa dan cicilan saat ini tidak berbeda jauh,” kata Untung saat peresmian kantor baru Rumah123.com di Jakarta, Rabu (20/12).

Persoalan penghasilan yang tidak cukup terkadang menjadi alasan milenial juga ditepis Untung. Menurutnya, selama masih memiliki gaji, rumah pasti bisa terbeli. Terlebih potensi kenaikan gaji setiap tahun dan potensi kenaikan jabatan dalam 3 tahun akan memudahkan membayar cicilan rumah.

“Menunda pembelian properti tidak akan membantu meningkatkan daya beli. Pemikiran tidak mampu kebanyakan adalah persepsi, karena tidak akan pernah jadi lebih mampu. Mencicil saat ini hanya akan terasa sedikit berat pada 3 tahun pertama, setelah itu daya beli kembali,” ujarnya.

Di sisi lain, kurangnya dorongan milenial untuk membeli properti, lanjut Untung, juga disebabkan kurangnya edukasi. Pengembang juga dinilainya belum secara serius menggarap dan menguasai benar cara menyasar kaum milenial. Karena itu, Untung juga menyarankan pengembang untuk berusaha mengerti karakter milenial. (Gnr/S-4)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More