Indonesia dalam Keluarga

Penulis: Abdillah M Marzuqi Pada: Minggu, 24 Des 2017, 12:15 WIB Tifa
Indonesia  dalam Keluarga

Para pemain yang tergabung dalam Teater Gumilar beradu akting dalam pertunjukkan Bukan Rumah Gue, di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta pada 19-20 Desember 2017---Abdillah M Marzuqi

INI ialah kisah tentang rumah. Namun, tidak melulu hanya sekadar rumah. Ini ialah cerita tentang konflik antarmanusia dalam sebuah biduk setengah besar bernama keluarga. Namun, konflik itu diolah menjadi sedemikian rupa. Ada banyak nilai dan pesan yang termaktub di sana. Setiap ­adegan ialah cermin dari sebuah kehidupan yang sangat dekat. Setiap dialog ialah pelajaran yang menarik untuk disimak.
Itulah yang ada dalam pentas Teater Gumilar yang berjudul Bukan Rumah Gue.

Pementasan itu dihelat di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta pada 19-20 Desember 2017. Pentas ini disutradarai R Mono Wangsa dan naskah ditulis Yanto Le Honzo. Yaser Arafat didapuk untuk tata musik.

“Bukan Rumah Gue tetap ingin membicarakan persoalan yang bisa terjadi di setiap rumah dengan semua ketegangan hubungan antaranggota keluarga yang bisa dialami siapa pun, untuk melihat ‘rumah’ lain dalam perspektif dan tafsir yang lebih terbuka,” tulis Yanto Le Honzo.

Bukan Rumah Gue bercerita tentang sebuah keluarga besar yang mempunyai tradisi, yaitu pertemuan keluarga besar dalam sebuah acara ruwatan yang diadakan lima tahun sekali. Tradisi itu terus dipertahankan.

Namun, pada ruwatan kali ini, suasananya menjadi lain. Semua keburuk­an masa lalu dan tiap-tiap anggota keluarga yang meng­huni dan pernah menghuni rumah itu terbongkar, justru oleh keluarga itu sendiri. Maka jadilah tradisi pertemuan lima tahuan sekali itu, menjadi sebuah pertemuan keluarga yang suram dan muram.

“Itu pentas tentang sebuah keluarga. Konflik keluarga. Konflik itu terjadi antara penghuni keluarga dan konflik internal antara keluarga itu sendiri,” terang sutradara R Mono Wangsa.

Mitos kembar dampit
Konflik itu diawali dengan mitos tentang adanya kembar dampit. Mitos itu menyebut bahwa anak yang kembar dampit harus segera dipisahkan. Namun, ternyata sang ayah tidak melakukan keharusan seperti dalam mitos sehingga dari 14 penghuni rumah satu persatu pergi karena konflik internal antara mereka.

Tradisi pertemuan keluarga menyatukan mereka kembali. Meski demikian, momen pertemuan malah menjadi ajang pembongkaran kebobrokan masing-masing anggota keluarga. Masalah pun menjadi semakin runyam sebab setiap orang punya borok. “Semua aib itu dibongkar dan terbongkar oleh masing-masing anggota keluarga,” lanjut Mono.

Menurut Mono, pentas ini gambaran kecil dari rumah kebanyakan di Indonesia. Meski demikian, ada idiom konkret yang menyebut rumah besar yang boleh diartikan sebagai negara. Apalagi, ditambah dengan pemecahan persoalan yang dilakukan dengan tidak sungguh-sungguh sehingga persoalan-persoalan tersebut tersimpan menjadi bara dan suatu saat bisa meledak. Pada akhirnya yang bisa memberi jalan keluar hanyalah kesadaran untuk saling menyim­pan semua dendam dan kebencian.

“Sebuah kesadaran dari seluruh anggota keluarga itu untuk menyimpan semua dendam, menghapus semua benci, menjadikan hari depan lebih baik,” tambah Mono.

Kesadaran itulah yang membuat mereka akhirnya mereka berdoa lewat nyanyian. Mereka pun bersepakat untuk menatap masa depan yang lebih baik. Sebait lagu itu berbunyi.

Telah kupendam semua mimpi. Telah kusimpan semua doa. Telah kupendam semua dendam. Kemarahan yang tersembunyi. Pada dinding dan udara rumah ini. Jernihkan semua.

“Inti dari nyanyian itu ­adalah mereka semua menyadari kekeliruannya, menyadari kesalahannya, dan menghapus itu semua untuk masa depan lebih baik,” pungkas Mono.

Pentas ini mengandung sebuah pesan yang sangat dalam. Seburuk apa pun rumah kita. Harus ada upaya sungguh-sungguh untuk memperbaikinya. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More