Sidang Anggisrana

Penulis: Ono Sarwono Pada: Minggu, 24 Des 2017, 11:36 WIB PIGURA
Sidang Anggisrana

MESKI sudah berbekal ajian ‘ilmu belut putih’, Anggisrana tetap tertangkap. Ia tidak lagi bisa menyembunyikan hidungnya. Penyamarannya berakhir. Kandas pula pengembaraannya sebagai telik sandi (mata-mata) Negara Alengka di jantung pertahanan musuh.

Untuk mempertanggung­jawabkan perbuatannya, Anggisrana dihadapkan ke sidang pengadilan. Ia terancam hukuman mati atau seumur hidup. Pasalnya, yang dilakukan merupakan pelanggaran sangat berat.

Namun, bukan Anggisrana kalau hanya menyerah pasrah. Sejak awal ia terus berkelit menghindari tuduhan. Pun bersandiwara dan bertipu muslihat untuk mengelabuhi pengadil agar bisa bebas. Karakternya yang liat dan ulet itu merupakan produk sistem pendidikan spionase Alengka yang dikenal sangat keras. Akan tetapi, loloskah Anggisrana dari vonis?

Menyamar wanara
Alkisah, ribuan kera pasukan Goa Kiskenda bala Narpati Sugriwa sudah mendarat di Suwelagiri. Mereka menunggu komando dari Rama Wijaya menyerbu Istana Alengka. Untuk sementara, mereka membangun pesanggrahan (penginapan) sekaligus guna memulihkan stamina setelah perjalanan jauh dari Maliawan dengan melewati tambak (bendungan).

Gerakan masif tentara wanara ke Alengka itu dalam misi merebut Dewi Sinta dari cengkeraman Rahwana alias Dasamuka. Rahwana menculik Sinta, titisan Dewi Sri Widowati, di Hutan Dandaka sebagai upaya menjadikan Alengka sebagai negara adidaya.

Kedatangan pasukan Rama itu diketahui Rahwana dari laporan prajurit penjaga pantai. Ia lalu memerintahkan adiknya, Sarpakenaka, mencari informasi secara rahasia tentang seluk-beluk tentara monyet. Itu bertujuan mengukur seberapa besar dan sejauh mana kekuatan tentara wanara.

Sarpakenaka memanggil Anggisrana, tamtama yaksa berperawakan sedang. Kabar dari mulut ke mulut, Anggrisana merupakan salah satu gacoannya Sarpakenaka. Di kalangan internal istana, satu-satunya adik Rahwana yang berkelamin perempuan itu dikenal demen laki-laki simpanan.

Simpul ketertarikan Sarpakenaka kepada Anggisrana karena tampangnya relatif cakep untuk ukuran Alengka dan fisiknya atletis. Namun, faktor yang paling memikat hatinya ialah memiliki berbagai ilmu kesaktian serta kemampuan Anggisrana mengubah diri sesuai dengan kehendaknya. Itulah keistimewaan plus yang tidak dimiliki laki-laki simpanan Sarpakenaka lainnya.

Untuk memuluskan operasinya, Anggisrana menyamar menjadi monyet. Itu jelas untuk mengurangi kecurigaan pasukan wanara terhadap keberadaan dirinya. Apalagi, dari sekian batalyon kera pengikut Rama, wujud dan warna bulu atau kulit mereka memang tidak seragam, bermacam-macam.

Skenario Anggisrana tidak ada masalah pada awalnya. Ia mulus memasuki pesang­grahan pasukan musuh tanpa kendala. Tidak ada satu pun monyet yang curiga atas kedatangannya. Kondisi itu memudahkan kerjanya untuk mengais dan mengumpulkan segala data dan informasi yang dibutuhkan.

Namun, di tengah kesibukannya menjalankan misi berbahaya itu, ada sesuatu yang mengganggu konsentrasinya. Ia tidak memiliki ekor normalnya monyet, juga tidak bisa mere (bunyi pekikan khas) seperti kera pada umumnya. Pun belum menyiapkan nama yang pas.

Berkelit sakit
Pada suatu ketika, Gunawan Wibisana sedang berjalan di antara tenda-tenda tempat tinggal sementara pasukan wanara. Mendadak ia kaget dan curiga melihat satu ‘wanara’ yang keluyuran sendirian.

Gunawan menduga itu bukan anak buah Sugriwa. Gunawan adalah adik bungsu Rahwana yang membelot ke Rama karena menentang keangkaramurkaan kakaknya.

Gunawan melaporkan keganjilannya itu kepada Sugriwa sebagai komandan perang. Raja Goa Kiskenda tersebut lalu memerintahkan Anoman menangkap penyusup. Anoman dengan sigap memburu target dengan ciri-ciri yang telah ia dapat dari Gunawan.

Tidak kesulitan Anoman menemukan buron dan lalu digelandang ke tengah lapangan. Dalam kepungan ribuan wanara, Anoman menyelisik musuh berkedok wanara itu. Namun, upayanya mentah karena tertuduh bungkam.

Anoman lalu minta bantuan Petruk, salah satu panakawan, untuk mengulik siapa sesungguhnya warga asing tersebut. Petruk mengawali sidangnya dengan pertanyaan, siapa namanya. Anggisrana menjawab sekenanya, Kapi Sranggi. Umumnya, para wanara memang memiliki nama depan kapi.

Petruk lalu bertanya lagi, apa benar kera? Dijawab iya. Lalu diminta mere. Namun, Kapi Sranggi mengaku tidak bisa karena sedang sakit tenggorokan dan pilek. Ketika dipaksa berulang-ulang pun, Sranggi bergeming. Para wanara di sekelilingnya gegap gempita meneriaki.

Petruk tidak kehabisan akal. Ia meminta Sranggi menungging untuk dicek keaslian ekornya. Sranggi lagi-lagi emoh melakukan karena mengaku sakit perut dan sering mencret. Ketika Petruk memaksakan diri melongok, Sranggi pun dengan sekuat tenaga menyembunyikan pantatnya. Saat itulah Petruk memastikan bahwa pesakitan bukan kera, melainkan buta. Anoman lalu menggelandang yaksa berkedok kera itu ke hadapan Rama untuk mendapatkan keadilan.

Rama meminta Anoman melepaskan ikatan tangan Kapi Sranggi. Setelah itu, Rama bertanya kepada Sranggi, apakah benar kera Goa Kiskenda atau bukan. Sranggi mengaku dengan jujur bahwa dirinya prajurit Alengka bernama Anggisrana yang diperintahkan memata-matai pasukan Rama.

Sugriwa usul kepada Rama agar Anggisrana dijatuhi hukuman mati. Namun, Rama justru mengampuni.

Bukan itu saja, Rama malah memberikan beberapa pakaian dan sejumlah keping emas kepada Anggisrana. Setelah itu, Rama mempersilakan Anggisrana kembali ke Alengka menghadap Rahwana.

Pesannya, apakah Rahwana akan mengembalikan Sinta dengan baik-baik atau Alengka akan dibumihanguskan.

Waspada penyusup
Sesampainya di Istana Alengka, Anggisrana menyampaikan pesan Rama kepada Rahwana. Tanpa pikir panjang, Rahwana menghunus pusaka pedang mentawa dan kemudian menebas leher Anggisrana hingga tewas seketika. Sarpakenaka yang berada di sampingnya hanya tertegun sayu.

Hikmah menarik dari kisah itu ialah kepandaian Petruk menguak identitas buta yang menyamar sebagai keluarga wanara. Segala tipu muslihat yang dilakukan Anggisrana berhasil dilucuti sehingga terungkap kedoknya bahwa ia sesungguhnya musuh yang berusaha menghancurkan Rama.

Dalam konteks kekinian, poinnya ialah integritas sidang pengadilan terhadap mereka yang diduga melakukan tidak pidana. Jangan sampai sang pengadil terlena oleh kepiawaian pesakitan yang bermain drama atau bersandiwara untuk lolos dari jerat hukum. (X-7)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More