Jelajah Sejarah Kuala Lumpur

Penulis: Rizky Noor Alam rizkynoor@mediaindonesia.com Pada: Minggu, 24 Des 2017, 03:29 WIB Travelista
Jelajah Sejarah Kuala Lumpur

MI/ RIZKY NOOR ALAM

Siang itu, saya turun dari taksi online di Merdeka Square (Dataran Merdeka), pusat Kota Kuala Lumpur, Malaysia. Lapangan bersejarah bagi warga Malaysia tersebut nampak dipenuhi para pelancong. Sayangnya, pemandangan terganggu pembangunan panggung-panggung untuk sebuah acara pertunjukan musik. Merdeka Square memiliki arti penting sesuai namanya, pada tengah malam 31 Agustus 1957, Union Jack milik Inggris diturunkan di sana, digantikan Jalur Gemilang, bendera Malaysia, pertanda kemerdekaan negeri jiran tersebut.

Di seberang Merdeka Square terdapat gedung kuno warisan akhir abad ke-19, Sultan Abdul Samad, apik terawat dan menjadi latar belakang foto favorit para turis. Bangunan krem itu berarsitektur unik dengan menara-menara berkubah di bagian tengahnya. Mulai dibangun pada 1837, sang arsitek, AC Norman dan R AJ Bidwell menerapkan gaya Renaisans Klasik, tetapi saat proyek pembangunan diambil alih Charles Edwin Spooner, gaya arsitekturnya diubah menjadi Indo-Sarasenic (Mughal). Ada pula pengaruh dari Muir Central College di Allahabad, India, serta Big Ben di London, Inggris.

Setelah selesai diba­ngun, difungsikan sebagai Kantor Administrasi Kolonial Inggris. Namun, setelah Malaysia merdeka, namanya diubah menjadi Bangunan Sultan Abdul Samad pada 1974, diambil dari nama Sultan Selangor yang meme­rintahkan pembangunannya. Kini, difungsikan sebagai kantor Kementerian Komunikasi, Informatika, dan Kebudayaan Malaysia.

Masjid Jamek
berlatar sungai nan apik Seusai menikmati arsitektur bersejarah, saya berjalan kaki ke bagian belakang bangunan dan menjumpai Masjid Jamek yang punya nama resmi, Masjid Sultan Abdul Samad Jamek, masjid besar yang pertama kali diba­ngun di Kuala Lumpur. Lokasinya di persimpangan dua sungai, Sungai Klang dan Sungai Gombak. Masjid ini mulai dibangun pada 23 Maret 1908 oleh Sultan Selangor saat itu, Sir Alaeddin Sulaiman Shah, dibuka pada 23 Desember 1909. Masjid berarsitektur Mughal ini didesain AB Hubback. Bangunan masjid nampak terawat apik meskipun ada beberapa bagian yang sedang direnovasi. Aliran su­ngai yang mengelilinginya bersih dan terawat.

Pemerintah Kuala Lumpur bisa dibilang sukses menata lingkungan sekitar Merdeka Square, Bangunan Sultan Abdul Samad, dan Masjid Jamek. Wisatawan dapat dengan nyaman melakukan historical walk atau pelacongan sejarah di kawasan ini. Tersedia trotar nyaman dan bersih, bahkan di pinggiran sungai sekitar Masjid Jamek, tersedia bangku-bangku taman agar wisatawan dapat duduk dan menikmati suasana, patut dicontoh Jakarta!

Para Dewa di Kuil Sri Mahamariamman
Dari Masjid Jamek, saya melanjutkan penjelajahan sejarah ke kuil Sri Mahamariamman, dengan jalan kaki sejauh 750 meter. Sekitar 15 menit, saya tiba di kuil Hindu tertua di Kuala Lumpur, diba­ngun pada 1873 oleh K Thamboosamy Pillai untuk menjadi tempat ibadah para imigran India. Kuil ini terletak di kawasan pecinan Kuala Lumpur, tersembunyi karena terimpit bangunan pertokoan di sisi kanan dan kirinya. Namun, gerbang bangunannya yang menjulang tinggi dan berarsitektur India Selatan dengan bentuk gopuram atau menara 5 tingkat akan langsung menyita perhatian. Ada banyak patung dewa Hindu yang disusun bertingkat pada menara tersebut.

Tak ada tarif untuk masuk, tetapi pengunjung perlu menitipkan sandal atau sepatu pada petugas dengan biaya 5O sen ringgit atau sekitar Rp1.600. Masuk ke area kuil kita akan disuguhkan aula untuk pemujaan, di sisi kanan dan kirinya, terdapat dinding-dinding berhias relief-relief para dewa Hindu.

Relief-relief itu sangat berwarna dan indah. Meskipun bangunan lama, kuil ini masih apik terawat dan berfungsi sebagai rumah ibadah umat Hindu. Sekitar 300 meter dari sana, dengan berjalan kaki, kita akan sampai di Jalan Petaling, kawasan pecinan Kuala Lumpur. Lokasi ini jadi favorit turis belanja oleh-oleh murah meriah. Beragam kaus, sepatu, tas, dan gantungan kunci dijual dengan harga terjangkau. (Riz)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More