Menelusuri Jejak Toleransi di Kota Santri

Penulis: ABDILLAH M MARZUQI abdi.zuqi@mediaindonesia.com Pada: Minggu, 24 Des 2017, 03:00 WIB Weekend
Menelusuri Jejak Toleransi di Kota Santri

ebet

JOMBANG memang lebih dikenal sebagai kota santri, tetapi ternyata kabupaten yang terletak di Jawa Timur itu mempunyai tradisi yang sarat dengan nilai pluralitas, toleransi, dan kerukunan. Penduduk mayoritas memang beragama Islam. Namun jangan salah. Meski mayoritas beragama Islam, warga Jombang telah terbiasa memberikan ruang bagi pemeluk agama lain. Wilayah itu juga menjadi tempat lahirnya ormas Nahdlatul Ulama (NU) serta dikenal dengan banyak pesantren besar. Sebut saja Pesantren Tebuireng, Pesantren Rejoso, dan Pesantren Tambak Beras. Selain tiga pesantren tersebut, masih banyak pesantren lain yang namanya belum cukup akrab seperti Pesantren ­At-Tahdzib. Namun yang pasti, hampir setiap desa di Jombang terdapat pesantren.

Namun ternyata, di Jombang pula, terdapat dua gereja tua yakni GKJW Ngoro. Gereja itu yang menjadi saksi begaimana kehidupan plural di Kota ­Santri itu sekaligus menjadi bukti tingginya nilai toleransi yang diterapkan dalam lingkungan masyarakatnya.
Sekitar 5 kilometer arah utara dari Pesantren At-Tahdzib, terdapat sebuah gereja yang cukup tua. Bahkan gereja itu menjadi simbol dari penyebaran agama Kristen di Jawa Timur. Sepintas, gereja itu memang tidak terlalu istimewa selayaknya gereja-gereja lain yang difungsikan sebagai tempat peribadatan. Ada plang yang berisi informasi nama gereja. Ditambah lagi tanda salib. Namun uniknya terdapat tugu cukup besar yang berdiri kukuh di halaman gereja. Tugu itu berbentuk tiga tonggak beton berbentuk persegi panjang berdiri kukuh. Tonggak paling tengah mendapati bentuk paling panjang di antara kedua tonggak yang berada di samping. Sebelah depan tonggak persegi itu terdapat sebuah patung buku yang terbuka, sedangkan pada bagian atas terdapat merpati dengan sayap terkepak. Di bawah patung merpati terdapat bentuk rumah.

Tugu Baptis
Bagian depan tertulis peringatan HUT ke-150 Baptisan Tjikal Bakal GKJW 12 Desember 1843. Itulah Tugu Baptisan yang terdapat di Gereja ­Kristen Jawi Wetan (GKJW) Ngoro Jombang yang berdiri sejak 1853. Tugu itu juga sebagai peringatan pembaptis­an pertama yang dilakukan GKJW. Tidak semua GKJW mempunyai Tugu Baptis, menurut Pendeta Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Ngoro Yuedi Kumarianto. Tugu Baptis hanya ada di tiga GKJW, yakni GKJW Ngoro, GKJW Wiyung Surabaya, dan GKJW Majelis Agung Malang. “Tugu itu kan peringatan orang Jawa Kristen yang dibaptis di gereja di Surabaya. Itu memperingati enam orang Kristen yang berasal dari Jawa. Itu dipabtis pada saat itu 12 Desember 1843. Sebagian itu adalah yang dari Ngoro,” terang Pendeta Jemaat GKJW Ngoro Pendeta Yuedi ­Kumarianto.

Keberadaan komunitas Kristen di Ngoro dapat ditelusuri dari sebuah makam seorang penyebar agama Kristen bernama Coenraad Laurens Coolen. Bahkan cikal-bakal berdirinya GKJW pun tidak terlepas kaitan dengan masyarakat Kristen di Ngoro yang berada di bawah bimbingan Coolen. Coolen adalah seorang sinder blandong (pengawas kehutanan Belanda). Meski ia dididik secara keras agama Kristen, berkat pergaulan yang erat dengan penduduk desa, ia sangat paham dengan ilmu Jawa.

Pada 1827 Coolen berhenti dari jabatan sinder blandong dan meminta izin membuka hutan di Ngoro. Beberapa waktu lamanya, tempat ini menjadi sangat ramai. Coolen menjadi seorang pemimpin baru. “Jadi pertama yang kita ­ketahui bahwa yang namanya Tuan Coolen itu sebenarnya, kalau sekarang, orang Perhutani. Dia meminta izin pada saat itu ke pemerintah untuk membabat hutan untuk ­membuat perkebun­an. Dia dulu di Mojoangung. ­Kemudian dia pindah ke sini (Ngoro),” terang Pendeta Yuedi Kumarianto. Dari Ngoro lah kemudian komunitas Kristen menyebar sampai ke Mojowarno. “Ya memang awalnya dari sini,” tambah Yuedi.

Arak-arakan lampion
Meski berada di wilayah yang mayoritas beragama Islam, komunitas Kristen di Ngoro juga tidak kehilangan ruang untuk mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri. Natal tahun ini misalnya GKJW Ngoro bakal menghelat arak-arakan lampion pada 26 Desember 2017. Helatan itu telah berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu. Tradisi kerukunan dan to­leransi antarumat beragama juga tampak di Ngoro, salah satunya di Dusun Ngepeh. Kampung yang berpenduduk 1.400 jiwa ini dihuni terdapat tiga agama berbeda yang dianut warga setempat, yakni Islam, Hindu, dan Kristen. Meski berbeda agama, penduduknya yang mayoritas petani ini hidup rukun dan tidak tampak saling menonjolkan agama atau keyakinan masing-masing.

“Saya sudah tinggal di Ngepeh selama 30 tahun. Selama ini kerukunan tetap terjaga, tidak pernah terjadi gesekan,” terang salah satu penduduk Ngepeh Chrismianto Putra. Tiga agama yang dianut dan diyakini warga kampung lanjut Chrismianto pasti memunculkan perbedaan, belum lagi ditambah dengan perbedaan sekte atau aliran pada agama masing-masing. Namun, ­perbedaan keyakinan di Ngepeh tidak pernah memunculkan permusuhan antarpemeluk keyakinan. Hal itu, menurutnya, karena kerukunan dan toleransi telah mendarah daging dalam diri. Mereka sudah terbiasa dengan perbedaan.

“Tetap terjaga karena sudah tradisi,” tegas Chrismianto. Menurutnya, kerukunan antarumat beragama dari tiga kelompok pemeluk agama yang ada di kampungnya ­terjadi sejak zaman nenek moyang. Kerukunan itu ­terjalin dari sebuah kesadaran bersama. Sikap itu sudah muncul jauh sebelum istilah ­pluralisme ada dan kasus intoleransi ­bermunculan. “Dari dulu ­sampai sekarang itu orangtua kita sudah memberikan pelajaran toleransi,” pungkasnya. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More