Dikepung Banjir

Penulis: RIKO ALFONSO Staf Bahasa Media Indonesia Pada: Sabtu, 23 Des 2017, 23:31 WIB BIDASAN BAHASA
Dikepung Banjir

ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko

BANJIR. Fenomena alam yang satu ini memang kerap melanda hampir sebagian besar kota di Indonesia, terutama di akhir tahun. Pada tahun ini saja, di awal Desember, akibat serangan 2 angin siklon Cempaka dan Dahlia, sebagian besar wilayah Indonesia mengalami bencana, mulai hujan lebat, badai, angin kencang, tanah longsor, hingga banjir bandang. Tak terkecu­ali di wilayah ibu kota Jakarta dan sekitarnya. Di Jakarta, masalah banjir memang bukan barang baru lagi. Bahkan keberadaan banjir turut pula membawa masalah lain di Ibu Kota. Salah satunya yang dirasa kerap menjengkelkan warga Jakarta ialah kemacetan. Bagaimana tidak menjengkelkan. Saat hujan lebat datang, disusul banjir menggenangi sebagian besar jalanan Ibu Kota, warga Jakarta yang kebetulan berada di jalan pun harus menerima kenyataan pahit mengalami kemacetan yang waktunya hingga berjam-jam. “Kelar hidup lo,” demikian ungkapan seorang pengendara ojek online yang kebetulan mengalami musibah itu.

Kita sepakat, bencana banjir memang merupakan musibah. Biasanya, jika musibah datang, muncul kepanikan yang diiringi emosi. Sayangnya, emosi yang keluar dari kata-kata kadang tak terkontrol, hiperbolis, dan tanpa disadari menjauh dari nalar/logika. Ini cukup menarik untuk kita perhatikan. Kata-kata atau ungkapan masyarakat saat musibah datang biasanya terungkap dengan baik lewat tulisan atau rekaman dari media cetak, online, atau elektronik. Hal itu karena pers menyajikan semua ungkapan masyarakat itu ke dalam laporan beritanya. Akan tetapi, karena ungkapan yang diserap mengandung ‘kepanikan’, bahasa yang tersaji pun menjadi hiperbolis dan di luar logika. Salah satunya bisa kita temukan di bawah ini.

Pada berita mengenai banjir yang terjadi di DKI Jakarta di awal Desember lalu, media massa ramai-ramai mengeluarkan headline berita, ‘Jakarta dikepung banjir’. Ungkapan kalimat ini sepintas tak terlihat bermasalah. Tetapi, jika ditelusuri lebih dalam, ternyata kalimat ini bermasalah. Kata ‘kepung’ dengan kata turunannya ‘dikepung’ memiliki arti ‘mengitari hingga tidak lolos’. Jika menggunakan kata ‘dikepung’, artinya objek mengitari subjek. ‘Jakarta dikepung banjir’ bermakna ada banjir di (daerah) sekitar Jakarta. Jadi, yang terkena banjir ialah daerah sekitar Jakarta, semisal Bekasi, Depok, Bogor, atau Tangerang. Adapun Jakarta sendiri tidak banjir. Tentu saja kalimat ini menjadi tidak sesuai dengan fakta dan logika di lapangan yang menunjukkan bahwa hampir seluruh wilayah Jakarta saat itu terrendam banjir.

Headline berita tadi seharusnya dapat diubah menjadi kalimat ‘Jakarta Kebanjiran Lagi’ atau ‘Jakarta Terendam Banjir’. Frasa atau kalimat lain yang sering muncul dalam pemberitaan soal banjir, tetapi tidak sesuai logika ialah kalimat yang menggunakan kata ‘ketinggian’ dengan tidak tepat. Contohnya, pada judul berita, ‘Banjir Makassar, Ketinggian Air Capai 1,5 Meter’. Secara logika, kata ketinggian dipakai bila cara peng-ukurannya dimulai dari bawah ke atas. Adapun jika pengukurannya dimulai dari atas ke bawah, dipakai kata kedalaman. Untuk mengukur jumlah volume banjir, tentu saja seharusnya kita menggunakan kata kedalaman, bukan ketinggian. Jadi judul berita tadi seharusnya ditulis, ‘Banjir Makassar, Kedalaman Air Capai 1,5 Meter’.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More