Merayakan Indahnya Natal di Serambi Mekkah

Penulis: Ferdian Ananda Majni Pada: Sabtu, 23 Des 2017, 13:39 WIB Features
Merayakan Indahnya Natal di Serambi Mekkah

ANTARA FOTO/Ampelsa

DI sebuah warung kopi seorang pria berkulit gelap menyeruput secangkir kopi pancung. Ia baru selesai salat zuhur di masjid, peci putih masih melekat di kepalanya. Siang itu, Rabu (23/12), ia merasa gerah dan lelah. Terlebih matahari begitu terik memancarkan sinarnya di Banda Aceh.

Hasan, pria tersebut, salah seorang pedagang yang tinggal di Kampung Mulia, Banda Aceh. Telah menjadi kebiasaannya, saat istirahat siang ia menikmati kopi di salah warung kopi yang berhadapan langsung dengan Gereja Methodis Indonesia (GMI), di Peunayong, Banda Aceh.

Warung kopi ini menjadi tempat ia melepaskan penat, sebelum melanjutkan rutinitasnya. Di sana, ia berbaur dengan teman-teman lain. Beberapa temannya juga non muslim. Mereka begitu akrab bercerita tentang pekerjaan masing-masing dan perkembangan ekonomi di Aceh.

"Saya sering ngopi di sini, mereka itu sudah seperti saudara, kita ngobrol tidak ada masalah meski berbeda agama. Yang terpenting tetap menjaga dan saling menghormati saja," katanya.

Meski di Serambi Mekkah ini lebih kental dengan syariat Islam, namun tidak ada masalah soal keberadaan pemeluk agama lain. Hubungan sosial berlangsung dengan baik saling menghargai tanpa menganggu satu sama lain. Bahkan ia berharap, seluruh masyarakat di Banda Aceh khususnya, untuk saling menjaga keamanan menjelang pelaksanaan Natal mendatang.

"Itu adalah hari ibadah mereka kita tidak boleh mengganggu. Begitu juga dengan kami yang umat muslim. Selama ini baik hari raya Idul Fitri maupun acara-acara besar Islam lainnya, non muslim di sini sangat menghormati. Yang terpenting kita tidak ada menganggu," tuturnya lagi.

Toleransi beragama dalam menjalankan kesehariannya juga dilakukan Usman. Ia telah bekerja lebih dari 5 tahun di salah satu bengkel milik umat kristiani Peunayoung, Banda Aceh. Selama itu, tidak ada hambat saat ia harus melakukan ibadah salat di sela pekerjaannya tersebut.

"Meski pemilik bengkel ini non muslim, tidak ada larangan atau hambatan dari pemilik bengkel untuk melakukan ibadah. Mereka mengerti jika saya harus meninggalkan pekerjaan jika waktu salat tiba," ungkapnya.

Selain itu, ia juga diundang berkunjung ke kediaman pemilik bengkel itu saat hari besar atau perayaaan natal. Begitu pula saat lebaran tiba, ia menyambut kedatangan teman-temannya yang non muslim ke rumahnya.

"Tentu ini sangat berarti, kami saling menjaga dan menghormati keyakinan masing-masing. Perbedaan tidak menghambat persaudaraan dan hubungan kami. Jika Lebaran mereka menutup bengkelnya, saya juga dapat THR," jelasnya.

Di lain kesempatan, Hotli Simanjutak, seorang jurnalis di Banda Aceh mengaku setiap perayaan Natal, keluarganya selalu menyambut dengan sukacita. Tentunya dalam meningkatkan intensitas dan nilai ibadah tersebut.

"Perayaan Natal kami masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Seperti membuat persiapan membuat kue-kue, tapi yang pasti intensitas ibadah meningkat. Jika misalnya ibadah Minggu saja, sekarang Rabu malamnya juga ada ibadah, karena ada ibadah dengan keluarga, ibadah dengan marga dan lainya," ungkap Hotli.

Hotli mengaku menjalankan ibadahnya di Gereja HKBP di Peunayoung. Bahkan jelang perayaan Natal, hampir setiap malam ada pelaksanaan ibadah di gereja. Meski demikian, perayaan Natal di Banda Aceh tidak terlihat dengan hiasan ornamen natal di pusat-pusat keramaian.

"Jika di Aceh memang tidak ada tanda-tanda kemeriahan Natal. Jadi kami hanya melakukan hiasan dan penyambutan Natal di rumah masing-masing dan gereja, pastinya pohon natal sudah dipasang," sebutnya.

Hotli menyebutkan sejauh ini toleransi beragama di Banda Aceh cukup mengembirakan. Pasalnya gereja-gereja yang ada di Banda Aceh terletak di daerah yang mayoritas muslim. Namun, setiap perayaan Natal selalu berjalan normatif sehingga umat kristiani tentram dalam beribadah.

"Gereja-gereja di sini terletak di lingkungan mayoritas muslim. Sampai sejauh ini tidak ada halangan orang untuk beribadah, tidak paksaan untuk menghentikan kegiatan perayaan Natal. Sepanjang itu dilakukan di gereja tidak di tempat umum tidak ada gangguan dari masyarakat," ujarnya.

Warga Keutapang, Banda Aceh ini menyebutkan, perayaan Natal di Aceh terasa berbeda. Pasalnya, nilai ibadahnya lebih tinggi dibandingkan melaksanakan Natal di daerah lainnya.

"Kita kan minoritas, ketika melaksanakan ibadah di suatu tempat, justru nilai ibadahnya terasa lebih bermakna, karena jauh dari keluarga besar. Jika di Medan, kita sudah terbiasa melihat pohon natal. Jadi perasaannya biasa saja. Tapi di Aceh pasti akan rindu melihat pohon natal, rindu dengan acara keluarga, tidak seperti di daerah lain. Maka makna Natal di Aceh lebih meresap dan mendalam," terangnya.

Hotli mengaku sangat manusiawi, jika berada di tempat yang minoritas pastinya ada kekuatan lebih yang muncul. Artinya persaudaraan non muslim justru meningkat pada perayaan Natal.

"Memang kebayakan warga non muslim pendatang, jadi mereka yang merayakan Natal di sini lebih terasa kekeluargaaan, rindu keluarga tidak bisa pulang. Jadi mereka sesama Kristen makin kompak," lanjutnya.

Hotli juga kerap mendapatkan ucapan selamat Natal dari tetangga dan teman-teman muslim di Aceh. Bahkan, ia merasakan adanya perasaan peduli dari masyarakat mayoritas muslim.

"Jangan jauh-jauhlah, misalnya ketika tetangga tahu sudah Natal, mereka mengucapkan Natal dan bertanya tidak pulang kampung. Mereka paduli, tapi ucapan ofisial dari pihak kampung memang tidak pernah," paparnya.

Selain belajar tentang Natal di sekolahnya, Hotli juga mengajarkan tentang hari-hari besar Islam pada anak-anaknya. Karena memang hal semacam itu diperlukan, agar kelak mereka bisa memahami dan menghargai perbedaan agama dan keyakinan.

"Saya juga mengajarkan hal-hal yang saya ketahui tentang hari besar Islam, seperti Idul Fitri. Jadi mereka paham," tandasnya.

Hotli menegaskan tidak ada gangguan terhadap umat kristiani dalam menjalankan ibadah Natal di gereja-gereja. Oleh karena itu, kondisi aman dan damai seperti ini terus bisa dipupuk dan dijaga sesuai dengan pesan damai dari perayaan Natal. (OL-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More