Mengembalikan Mangrove Jakarta

Penulis: Siti Retno Wulandari Pada: Sabtu, 30 Des 2017, 11:10 WIB Humaniora
Mengembalikan Mangrove Jakarta

MI/Siti Retno Wulandari

KISARAN 1960, kondisi mangrove di Provinsi DKI Jakarta terbilang masih baik. Luasannya pun mencapai angka 1.200 hektare, tetapi perlahan tumbuhan tersebut mulai hilang, berganti tambak juga permukiman. Tak heran jika kini abrasi meningkat.

Kini luasan mangrove di Ibu Kota hanya berkisar 326 hektare dengan lebar maksimal 300 meter dihitung dari garis pantai ke darat. Padahal, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Bidang Silvikultur, Cecep Kusama, mengatakan baiknya lebar minimal ialah 1 kilometer. Namun, hal itu sudah semakin sulit dilakukan karena alih fungsi lahan yang semakin masif.

“Lahan mangrove hilang karena alih fungsi ke tambak atau permu­kiman. Ini saja Pihak Kehutanan mulai menanam kembali hutan lindung DKI Jakarta pada tahun 1970-an, dan saat ini bisa dinikmati hasilnya,” tukas Cecep Kusmana seusai menjadi narasumber atas diskusi tentang rehabilitas mangrove bersama The Nature Conservancy (TNC) di Jakarta, Selasa (12/12).

Cecep pun berusaha meyakinkan setiap pemangku kepentingan juga kepada masyarakat luas untuk bersama-sama menjaga hutan mangrove yang serapan karbonnya lima kali lebih besar daripada hutan terestrial.

Pada 2013, ia bersama dengan beberapa pihak melakukan pelebar­an ekosistem mangrove di kawasan Arboretum Dinas Pertanian dan Kehutanan DKI Jakarta yang juga menjadi bagian Hutan Lindung Mangrove kawasan Pantai Indah Kapuk, menuju laut.

Sebelumnya, ia mencoba menggunakan jejeran ban sebagai pemecah ombak, tetapi hal tersebut tidak berhasil. Akhirnya metode Rubble Mound digunakan, dibuat dari susunan batu yang alasnya berupa lumpur geotek.

Cecep mengatakan metode tersebut ramah lingkungan karena batu serta lumpur merupakan material alamiah. Perluasan dilakukan sepanjang 100 meter ke arah laut dengan lebar 100 meter, dan total luasannya 1 hektare. “Saat ini sudah ada yang tingginya mencapai 5 meter. Kita kan enggak bisa memperluas ke darat, jadi ya ke laut. Ini kendalanya di biaya, karena besar sekali,” tukasnya.

Guludan
Selain memperluas menuju laut, Cecep menerapkan teknik guludan lantaran lahan yang terendam air cukup dalam berkisar 1,5 meter hingga 3 meter. Prosesnya dengan membuat petakan dengan lebar 4,5 meter, panjang sekitar 7 meter, dan tingginya sesuai kedalaman air.

Petakan tersebut dibuat dengan cerucuk bambu, kemudian petak tersebut diuruk dengan tumpukan karung berisi tanah. Di atas tumpukan tersebut diberi lagi urukan tanah dengan tanah curah sedalam kurang lebih 50 sentimeter dan berperan sebagai media tanaman.

Kini, di wilayah tersebut mang­rove sudah tumbuh besar dan kukuh. Kumpulan mangrove terlihat seperti kluster dengan jarak yang cukup lebar sehingga bisa dilewati perahu kano yang rencananya akan digagas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

“Kami ingin mendatangkan berbagai jenis mangrove dari berbagai daerah. Nantinya jadi kawasan ekowisata, pun bisa menjadi tempat studi dengan pengetahuan berbagai macam mangrove yang kami susun berdasarkan kluster,” ujar Jalu WIjayanto Hadi, Polisi Kehutanan yang mendampingi perjalanan bersama The Nature Conservancy (TNC) dan Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA) ke Hutan Lindung, Suaka Margasatwa, serta Arboretum.

Tumpukan sampah
Sayangnya hingga kini di wilayah Hutan Lindung Mangrove tersebut keberadaan mangrove terancam tumpukan sampah. Makin ironis karena tumpukan sampah ini menjadi tempat monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) mengais makanan.

Sampah, kata Cecep, pada enam tahun lalu tebalnya mencapai 12 meter ke bawah. Hal itu bisa berpengaruh pada kondisi kesehatan mangrove.

“Merugikan mangrove, menghilangkan media tumbuh, menutupi akar mangrove, mencekik mangrove, sehingga akarnya sulit bernapas, lama-kelamaan mati. Sampah plastik tidak bisa terdekomposisi, sehingga tidak bisa menjadi media tumbuh,” pungkas Cecep.

Sementara itu, Jalu mengatakan pihaknya sudah membuat jalur sampah yang terbuat dari ikatan bambu dan jaring, supaya sampah tidak masuk ke kawasan. Akan tetapi, begitu dibersihkan, besok akan datang lagi, sampah tersebut berasal dari Muara Angke juga Cengkareng Drain.

Perilaku monyet yang mencari makan pada tumpuk-an sampah, merupakan perubahan perilaku hewan primata tersebut.

“Terbiasa diberi makan oleh masyarakat, begitu tidak diberi, ya dia akan mencari sendiri. Padahal, makanan alaminya itu buah pidada,” ujar Jalu. (Wnd/M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More