Melakoni Kehidupan Berdamai Dengan Kenyataan

Penulis: Syifa Fauziah Pada: Jumat, 22 Des 2017, 19:55 WIB Features
Melakoni Kehidupan Berdamai Dengan Kenyataan

ist

SESEKALI Vina Praseptia mengelap peluh yang menetes di keningnya. Wajahnya terlihat lelah setelah seharian menyusuri jalan-jalan ibu kota dengan sepeda motornya.

Ketika kelelahan sudah tak bisa bersahabat, ia pun segera menepi dan kemudian duduk seraya beristirahat untuk mengembalikan lagi tenaganya. Namun, sesekali tangannya tetap sibuk dengan telepon seluler yang tak lepas dari genggamannya.

Vina hanyalah satu dari begitu banyak sosok perempuan yang ikut memeras keringat demi menghidupi keluarganya. Istri yang bekerja bukan fenomena baru di masyarakat. Dengan penuh kerelaan, Vina pun melakoni garis hidupnya dengan menjadi pengemudi ojek daring.

Sebagai kebanyakan perempuan lain, sebagai istri tentunya ia juga ingin tinggal di rumah, berleha-leha manja dengan perut kenyang, mencoba berbagai menu baru untuk sajian di waktu makan, dan menyaksikan proses tumbuh kembang buah hatinya.

Namun, keinginan itu sering tidak sejalan dengan kenyataan. Harga kebutuhan pokok dan kebutuhan ego melebihi apa yang bisa diperoleh sang tulang punggung keluarga, defisit pun kerap terjadi.

“Tidak perlu menghabiskan banyak waktu berdebat dengan orang lain, tentang peran ibu dan istri yang seharusnya dijalani. Karena pada faktanya, setiap orang memiliki garis masing-masing dalam berkeluarga. Lebih baik memikirkan apa yang bisa dilakukan untuk keluarga kita. Untuk saya, inilah cara terbaik,” tandas Vina.

Atas alasan itulah Vina mulai menyingsingkan lengan bajunya. Pekerjaan pun dicari mulai sebagai penjual di online shop, buruh, dan sales, sampai pekerjaan yang umumnya dikerjakan pria, yakni pengemudi ojek daring.

Vina menyadari tak bisa terlalu menggantungkan harapan pada suaminya. Ia pun bertekad meringankan beban rumah tangganya. Dua bulan sudah ibu dari dua anak yang masih kecil ini setia menyatukan tawa, doa, dan keramahannya di jalanan untuk mencari nafkah.

Beban hidup Vina memang sudah sangat berat. Bukan cuma kebutuhan sehari-hari, tapi juga bagaimana berdamai dengan kenyataan bahwa anak keduanya menderita thalassemia dan sinusitis. Ia harus mendapatkan penumpang sebanyak mungkin demi bisa memenuhi biaya pengobatan sang buah hati.

Mengurus rumah? Sudah pasti. Aktivitasnya sebagai pengemudi ojek daring tak lantas membuat ia melupakan tanggung jawab utamanya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Hal apapun tidak cukup menarik baginya jika belum tuntas apa yang menjadi pekerjaan utamanya di rumah. Entah menyapu, mengepel, memberi makan anak, mencuci baju, sampai memasak nasi.

“Kebutuhan pengobatan untuk anak saya sebulannya cukup besar. Selain itu saya juga menanggung mertua. Jadi penghasilan suami sebulannya kurang mencukupi,” ujar perempuan berusia 31 tahun tersebut, beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan, hanya dengan menjadi pengojek daring inilah bisa memenuhi kebutuhannya yang besar. Selain fleksibilitas jam kerjanya, ia tetap bisa melakukan perannya sebagai seorang istri dan ibu. Pendapatan per bulan dari hasil kerja kerasnya terbilang lumayan, antara Rp3 juta-Rp5 juta.

"Saya mulai narik dari pukul 06.00–09.00 WIB untuk pagi hari dan dilanjutkan dari pukul 15.00–22.00 WIB," ungkapnya. “Disela-sela waktu saya bisa mengurus keperluan suami kerja, keperluan anak pertama saya sekolah, dan mengerjakan pekerjaan rumah."

Yang lebih hebat lagi, ternyata Vina masih mampu menjalani tugas sosial sebagai petugas jumantik (juru pantau jentik) untuk rumah-rumah di wilayah sekitar kediamannya.

"Saya senang dan bahagia bisa menjalani semua ini. Awalnya sangat berat bahkan ada kecemasan ketika mulai melakoni jadi pengojek. Terlebih ada bayangan order fiktif, penumpang jahat yang ingin merampas motornya, hingga kondisi anak di rumah," ungkapnya perempuan yang berdomisili di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan ini.

Vina mengaku sesekali mengusap air matanya ketika tiba di rumah saat tengah malam. Ketika melihat buah hatinya terlelap tidur tanpa tahu aktivitasnya seharian, ia kadang didera rasa bersalah.

Namun, fakta kehidupan membuatnya tersadar. "Saya harus kuat dan tetap bisa mencari rejeki yang halal. Saya tak pernah menolak rejeki kendati harus mengantar penumpang hingga Bogor atau Tangerang," paparnya.

Suka duka menyusuri jalanan dengan segala pernak perniknya dianggap Vina lebih mendewasakan dirinya. Semua kelelahan langsung sirna ketika sesampainya di rumah bisa bercanda dengan buah hatinya.

Senyum dan tawa merekalah yang menjadi obat mujarab, sekaligus doping penyemangatnya. "Saya masih beruntung, karena masih banyak orang yang tak seberuntung saya. Jadi, kita syukuri saja apa yang didapat. Rejeki itu dari Allah," ungkapnya tulus. (OL-4)

Penulis adalah peserta Pelatihan Penulisan Kementerian PUPR.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More