Obituari untuk Mbah Sri Soekanti

Penulis: Galih Agus Saputra, Mahasiswa Jurnalistik Universitas Kristen Satya Wacana Pada: Jumat, 22 Des 2017, 15:45 WIB Humaniora
Obituari untuk Mbah Sri Soekanti

Ist

BAU Pesing, pengap, dan apek. Setidaknya itulah suasana terakhir ketika saya berkunjung ke rumah Sri Soekanti, di Nanggulan, Salatiga, Jawa Tengah. Aktivis perempuan dan seniman Dewi Candraningrum yang mengajak saya berkunjung ke sana, pada 20 Agustus 2016.

Lantas, siapakah Sri Soekanti?

"Ia jugun ianfu termuda di Asia-Pasifik," kata Dewi.

"Jugun ianfu? Siapa lagi itu?" gumam saya dalam hati.

Sembari menempuh perjalanan bersama Dewi menuju rumah Sri, saya buka mesin peramban di gawai yang saya miliki. Langsung saya ketik di mesin peramban, dimulai dengan kata kunci "jugun ianfu".

"Dasar pemuda ahistoris," gumam saya lagi.

Sontak, mata saya terbelalak kala melihat beberapa pilihan yang muncul pada mesin peramban. Kiranya, seperti inilah penjelasan yang muncul pada artikel yang saya lupa judulnya itu.

Jugun Ianfu merupakan sebutan bagi para perempuan yang dipilih tentara Jepang untuk memuaskan birahi.

Kala itu para petinggi militer Jepang ingin membuka pusat rekreasi untuk para tentara yang bertempur di lini depan. Hal itu mereka yakini berguna untuk menjaga tata tertib dan mental para tentara.

Padahal, pusat rekreasi hanyalah tipu muslihat untuk bordil militer.
Perempuan di rumah bordil tersebut, rata-rata diculik dari rumah atau di sawah. Mereka dipaksa memuaskan birahi para tentara setiap hari, dan diberi hari libur hanya ketika menstruasi.

Tentara Jepang sebenarnya juga merekrut anak-anak dan laki-laki dewasa untuk dijadikan Romusha. Tapi perlakuan terhadap para perempuan sangat berbeda dibandingkan terhadap laki-laki. Mereka, para perempuan itu, bakal ditusuk bayonet jika nafsu tentara Jepang tak terpenuhi.

Itu semua terjadi sejak pertama kali Jepang tiba di Indonesia pada 1942 dan berakhir pada 1945.

Singkat cerita, tiba lah saya di gang depan rumah Sri dengan suasana hati yang perlahan mulai kacau.

"Sri adalah salah satu ekses atas kemerdekaan negeri ini," saya bergumam kembali dan sempat hampir menitikan air mata tapi tidak jadi.

Sri Soekanti, atau Mbah Sri, kata Dewi, diculik tentara Jepang saat berusia 9 tahun. Sri kecil diperkosa salah seorang serdadu Jepang, dan akibat perlakuan tersebut, ia divonis tidak dapat memiliki keturunan seumur hidup karena rahimnya rusak.

"Pilu hati ini," gumam saya lagi, yang entah sudah keberapa kali, setelah mendengarkan cerita Dewi.

Setelah setahun lebih berlalu, pilu itu kembali menghampiri, ketika saya mendengar Mbah Sri sekarang telah pergi. Rabu (20/12) pagi lalu, Dewi menelepon untuk memberi kabar kepergian Mbah Sri.

Ah, Mbah Sri, bingung saya mengatakan isi hati ini. Pilu di satu sisi, namun bahagia di sisi lain karena kau telah pergi. Pergi ke tempat yang selama ini menjadi penantian kami yang masih hidup di bumi.

Pergi lah kau Mbah Sri.
Maafkan saya, yang telah belasan tahun hidup di negeri ini, namun tak banyak mengerti penderitaan yang kau alami.
Maafkan saya lagi, Mbah Sri, karena telah lancang menulis obituari ini.
Hanya dari sinilah saya mengantarkan kau pergi.
Sekali lagi, selamat jalan, Mbah Sri.
Berkatilah selalu, kami yang hidup di negeri ini.
(X-12)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More