Ajak Ibu-Ibu Berdaya Diri, bukan Ngerumpi

Penulis: Administrator Pada: Kamis, 21 Des 2017, 08:15 WIB Inspirasi
Ajak Ibu-Ibu Berdaya Diri, bukan Ngerumpi

MI/BENNY BASTIANDY

BUKAN perkara mudah meyakinkan kalangan perempuan untuk bisa tampil lebih percaya diri dalam berbagai kesempatan, apalagi bagi perempuan yang sehari-harinya hanya beraktivitas di rumah mengurus rumah tangga, suami, atau anak.

Dulu, kondisi itu sangat dirasakan Idah Paridah.

Namun, sekarang berbalik, karena tuntutan aktivitas, Idah akhirnya bisa menepis rasa malu ikut berkecimpung mengurusi berbagai hal.

Ilmu itu ia tularkan ke ibu-ibu di Kampung Babakan Anyar RT 03/09 Desa Pamuruyan, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Ia mengajak mereka aktif dalam berbagai kesempatan.

"Intinya sih, kalau sedang berkumpul itu, ibu-ibu jangan banyak ngerumpi, tapi manfaatkan waktunya untuk hal-hal yang bermanfaat," kata Idah.

Hasilnya sudah terlihat.

Berbagai ilmu yang diperoleh Idah selama bergabung dengan Pekka, sedikit demi sedikit diberikan kepada kalangan ibu rumah tangga di tempat tinggalnya melalui pemberdayaan.

Misalnya Idah mengajarkan ibu-ibu cara membuat anyaman karpet yang berbahan dasar bekas bungkus kopi.

"Sekarang kami punya kelompok. Namanya Kelompok Abadi. Anggota 13 ibu rumah tangga di sini. Kita ajarkan mereka berbagai keterampilan," ujarnya.

Hanya saja, membuat keterampilan itu butuh modal. Selama ini, kata Idah, modal keterampilan yang digunakan hanya mengandalkan niat dan keinginan.

"Misalnya saya selalu imbau kepada ibu-ibu, kalau punya bekas bungkus kopi atau lainnya, dikumpulkan saja. Nanti kita buat sebuah karya, seperti dijadikan anyaman karpet, anyaman tas, ataupun membuat keset. Untuk membuat keset, kita kesulitan di bahannya," kata dia.

Idah mengatakan antusiasme kalangan ibu rumah tangga di tempat tinggalnya mengikuti pemberdayaan cukup tinggi.

Apalagi hampir sebagai besar warga di Kampung Babakan Anyar RT 03/09 merupakan para pendatang.

"Di sini itu terdapat 85 kepala keluarga atau 568 jiwa. Di RT kami paling padat penduduknya jika dibandingkan dengan di RT lain," jelasnya.

Keterbatasan dana

Berbagai keterbatasan pendanaan dalam upaya memberdayakan kalangan perempuan tak lantas membuat Idah putus asa.

Pasalnya Idah mengaku hanya ingin melihat kalangan perempuan itu betul-betul bisa mandiri dan tak selalu tergantung dengan penghasilan suami.

"Kita sebagai perempuan harus tangguh. Alhamdulillah nanti tahun depan katanya kelompok kami akan mendapatkan bantuan permodalan dari DP3A (Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak)," tegasnya.

Idah saat ini dikenal cukup vokal menyerukan aspirasi untuk kalangan perempuan.

Misalnya pada momen pembahasan musyawarah perencanaan dan pembangunan desa (musrenbangdes) maupun pembahasan APB-Des, Idah menjadi wakil masyarakat, khususnya kalangan perempuan, untuk memperjuangkan keberpihakan anggaran terhadap perempuan.

"Jika nanti sudah jadi perdes (peraturan desa), harus ada keberpihakan bagi perempuan," tegasnya.

Satu hal yang saat ini masih jadi bayang-bayang kekhawatiran Idah dan warga di sana ialah lahan yang ditempatinya jadi permukiman penduduk.

Menurut Idah, mereka saat ini menyewa lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI). Jika nanti pembangunan double track sudah berjalan, Idah memastikan permukiman mereka bakal tergusur.

"Tapi kami sih pasrah saja. Tapi kami akan minta ke pemerintah agar bisa ditempatkan lagi sekitar Desa Pamuruyan. Kalau nanti kami berpencar ke tempat lain, nanti cukup rumit juga mengurusi data kependudukan. Jangankan untuk satu RT, mengurusi satu KK saja kan sangat susah," tandasnya. (Benny Bastiandy/M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More