Zuhairi: Indonesia Bisa Mediasi Konflik Faksi Internal Palestina

Penulis: MICOM Pada: Rabu, 20 Des 2017, 17:14 WIB Polkam dan HAM
Zuhairi: Indonesia Bisa Mediasi Konflik Faksi Internal Palestina

AFP

INDONESIA dinilai dapat berperan sebagai mediator dalam proses rekonsiliasi dan persatuan internal faksi-faksi di Palestina antara kubu Hamas dan Fatah sebagai upaya memperjuangkan kemerdekaan Palestina secara berdaulat.

"Konflik internal Palestina antara kubu Fatah dengan Hamas menyulitkan proses perdamaian antara Palestina dan Israel," ujar Intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) Zuhairi Misrawi dalam diskusi "Palestina Pasca-Keputusan Trump" di Jakarta, Rabu (20/12).

Ia mengatakan Palestina harus didorong untuk mempunyai sikap yang independen tanpa intervensi pihak manapun yang dimulai dengan proses rekonsiliasi dan persatuan di dalam internal faksi-faksi di Palestina.

"Kita tahu bahwa ada perbedaan antara faksi Hamas dengan Fatah. Hamas yang didukung oleh Qatar dan Iran, sedangkan Fatah didukung oleh Mesir maupun Arab Saudi," ucapnya.

Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia dapat berperan dalam rekonsiliasi untuk membentuk satu Palestina. "Poin penting terkait rekonsiliasi yaitu soal konstitusi, senjata, dan pengakuan terhadap Israel. Kita tahu bahwa Hamas itu merevisi bahwa mereka mengakui Israel dengan batas wilayah tahun 1967," kata dia.

Selain itu, ia mengungkapkan jalan menuju kemerdekaan Palestina semakin terjal karena Amerika Serikat telah mengambil sikap yang mencederai salah satu klausul pembahasan dalam proses perdamaian khususnya poin tentang Jerusalem.

Dengan demikian Amerika Serikat tidak dapat lagi dipercaya sebagai mediator perdamaian, karenanya perlu dicari mediator baru yang dapat bersikap adil dalam proses perdamaian Israel-Palestina.

"Kalau tidak ada mediator baru, maka pertikaian antara Israel dan Palestina
tidak akan berakhir," ujar dia.

Disamping itu, lanjutnya, negara-negara Arab dan dunia Islam tidak mempunyai suara yang bulat terkait Palestina karena terkait kepentingan politik masing-masing negara.

"Hal itu bisa terlihat saat KTT Luar Biasa OKI di Istanbul, Turki beberapa waktu lalu. Arab Saudi hanya mengirimkan wakil menteri ke konferensi tersebut, begitupun juga dengan Mesir yang hanya mengutus Menlu nya.

Padahal negara-negara lain yang hadir di KTT tersebut diwakili langsung oleh kepala negara," ujarnya.

Indonesia dapat berperan mendorong negara-negara Arab dan dunia Islam menjadi satu suara terkait Yerusalem. "Terkait masalah Yerusalem, Indonesia dapat diterima oleh Arab Saudi, Iran,
maupun Turki. Kita tahu bahwa Arab Saudi berseberangan dengan Iran dalam beberapa hal," kata dia.(OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More