Larangan Parkir Matikan Denyut Jalan Jaksa

Penulis: Yanurisa Ananta Pada: Rabu, 20 Des 2017, 10:10 WIB Megapolitan
Larangan Parkir Matikan Denyut Jalan Jaksa

DOK MI/ANGGA YUNIAR

“KAMAR-KAMAR tolong diberesin ya, saya mau foto-foto buat promosi online (daring),” ujar Victoria Wong, 52, pemilik Memories Cafe di Jalan Jaksa 17, Jakarta Pusat, kepada pegawainya, saat Media Indonesia tiba di kafenya, Senin (18/12).

Victoria berniat mempromosikan lewat daring kamar penginapan miliknya. Maklum, bisnis kafe dan penginap­an yang ia jalani sejak 1987 itu mulai meredup.

Masih segar dalam memori Victoria saat-saat usahanya menjadi bintang bagi para backpacker mancanegara. Biasanya para bule singgah dulu beberapa hari di Jalan Jaksa sebelum melanjutkan perjalanan ke kota lain di Indonesia.

Jalan Jaksa dipilih lantaran tarif hotel dan losmennya terbilang murah. Victoria sendiri mematok harga penginapan Rp175 ribu-Rp200 ribu semalam. Kala malam, kehidupan benar-benar hidup. Meski musik hidup bertabrakan dari kafe sisi kiri dan kanan, suasana tetap harmonis.

Waktu itu, begitu masuk dari Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, langsung terdengar lagu bergenre reggae, sekitar 50 meter ke depan terdengar lagu-lagu lawas yang dinyanyikan dari atas panggung mini. Lepas dari sana, lagu-lagu rock terdengar sayup dari dalam kafe yang agak tertutup dengan gaya rusty. Jalan ke depan lagi, suguhan lagu-lagu balada mencuat dari Romance Cafe.

Lampu-lampu menghiasi jalan yang hanya sepanjang 400 meter. Papan-papan menu berdiri di depan kafe dengan beragam promo. Turis mancanegara begitu leluasa memilih hiburan, makanan, dan minuman, yang mereka suka.

Kini, suasana gegap gempita penuh keceriaan tak lagi berdenyut di Jalan Jaksa. “Sekarang ini hancur-hancuran. Mestinya pemerintah mendukung kawasan industri pariwisata.
Kita kayaknya enggak dapat dukungan deh,” keluh Victoria.
Larangan parkir di jalan selebar 6 meter itu menjadi bencana bagi usaha mereka. Pemprov DKI melarang parkir karena alasan menambah macet. Menurut Victoria, dengan atau tanpa kendaraan parkir, Jalan Jaksa memang macet menjelang sore hari.

“Usaha di sini memang tidak punya lahan parkir. Seharusnya diperbolehkan parkir di jalan. Tamu malas datang kalau tidak ada tempat parkir,” lanjutnya.

Kondisi memprihatinkan ini mulai terjadi sekitar 1,5 tahun lalu. Omzet usaha terjun bebas 75%-90%. “Biasanya tamu sampai keluar-keluar gitu. Rabu, Jumat-Sabtu orang mampir dulu nungguin macet berlalu. Sekarang ampun deh susahnya,” imbuh Victoria.


Kurangi musik hidup

Victoria mencoba mengirit pengeluaran dengan mengurangi musik hidup hanya pada Rabu, Kamis, dan Jumat. Sebelumnya, musik hidup berlangsung seminggu penuh. Meski Victoria sudah mengurangi intensitas musik hidup, usahanya masih saja kembang kempis.

“Kalau sama sekali enggak ada musik, suasana seperti kuburan. Ada musik juga belum tentu ramai. Jadi gambling kita ini,” ujarnya. Victoria pun berencana menjual rumah dan tanah seluas 429 meter persegi miliknya seharga Rp30 miliar. Sudah dua bulan ia mempromosikan penjualan, tetapi belum kunjung terjual.

Tinggal beberapa kafe yang masih bertahan. Lainnya sudah gulung tikar. Sebutlah Romance Cafe, Obama Cafe, Papa’s Cafe, Alis Bar, Betawi Cafe, dan Absolut Cafe, sudah tutup pintu.
“Para pemilik kafe mau jual usaha mereka. Romance Cafe belum kejual. Obama Cafe dan Papa’s Cafe sudah dibeli sama pihak Hotel Morrisey,” ungkap Ani, 42, pemandu wisata di Jalan Jaksa.

Ia juga mengeluhkan sepinya pengunjung. Tamu yang datang hanya tinggal 20%. “Sekarang ini bule-bule langsung direct flight seiring dengan banyaknya bandara internasional,” cetusnya.

Nasib Equal Park yang berada di ujung Jalan Jaksa masih lumayan. Komunitas reggae cukup solid dan setia menunggu penyanyi mereka setiap malam minggu. Namun, pihak pengelola mengakui daya beli tamu sudah berkurang.

“Omzet kami berkurang 15%-20% dari sebelumnya. Tamu sih pasti selalu ada tapi nonton band doang. Menurun daya belinya,” tandas Yuri, pengelola Equal Park.

Untuk menghidupkan kembali Jalan Jaksa, Pemprov DKI telah memberi izin festival seperti 2015. Sejumlah flyer festival dengan tema reborn dan etnic festival sudah tersebar. Festival direncanakan 22-23 Desember pukul 09.00-22.00. Jalanan akan ditutup selama jam tersebut.

Beragam penampilan kesenian Betawi, musik, dan bazar akan digelar. Lurah Kebon Sirih Indarto mengaku sudah tersedia anggaran festival setelah vakum setahun. Namun, belum ada langkah konkret penyediaan lahan parkir untuk kafe-kafe. (J-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More