Semangat Puputan

Penulis: Ono Sarwono Pada: Minggu, 17 Des 2017, 10:20 WIB PIGURA
no-image.jpg

TEMA yang diambil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam memperingati Hari Antikorusi Sedunia ialah Puputan! Lawan korupsi. Peringatan dengan berbagai agenda yang digelar di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, pada 9 Desember itu melibatkan sejumlah komunitas antikorupsi di Bali. Kabiro Humas KPK Febri Diansyah menyatakan puputan diangkat sebagai tema acara untuk merepresentasikan semangat, kesediaan, kerelaan, tanpa pamrih, dan pengorbanan dalam perjuangan melawan korupsi. Istilah puputan itu terpatri dalam sejarah perjuangan heroik rakyat Bali kala mengusir kolonial Belanda.

Perang puputan itu ditandai dengan semangat bertempur habis-habisan, mengorbankan jiwa raga hingga tetes darah penghabisan, demi mempertahankan wilayahnya. Dalam konteks memerangi korupsi, semangat puputan itu tentu sangat pas sebagai roh perjuangan. Tanpa tekad dan aksi luar biasa semua komponen bangsa, mustahil korupsi bisa lenyap dari peradaban negeri in.

Nitis untuk berdarma
Dalam cerita wayang, puputan itulah yang menjiwai Anoman selama hidupnya mengeksekusi misi memberangus segala bentuk keangkaramurkaan di marcapada. Anoman konsisten menjalani darma suci itu sejak mengabdi kepada Sri Rama Wijaya hingga zaman Sri Bathara Kresna.

Alkisah, roh Rama, Sinta, dan Leksmana yang tenteram di alam nirwana tiba-tiba kepanasan tersulut bubrah-nya tatanan kehidupan di dunia. Busuknya peradaban itu akibat para elite dan pemimpin tiada jeda berpacu dan berlomba menyunggi-nyunggi materi.

Kekuasaan dan kedudukan bukan menjadi panggung pengabdian murni yang murakabi, melainkan malah dijadikan tunggangan memuaskan keserakahan. Tidak ada lagi anutan, yang menggelora kekemarukankekemarukan. Sukma Rama menyelami bahwa roh Rahwana bersama seluruh roh prajurit Alengka yang menjadi biangnya.

Roh-roh hitam itu klambrangan (menyelinap ke segala penjuru) sejak kematian mereka dalam perang brubuh (akhir) Alengka. Mereka mencari tempat, merasuki wadak-wadak untuk melampiaskan nafsu kiri. Serta-merta jiwa kesatria Rama dan Leksmana bangkit.

Namun, karena mereka tidak lagi berada di alam fana, satusatunya jalan untuk kembali berdarma harus menitis. Keduanya lalu mencari titah yang pantas untuk ‘kendaraan’ mengisas Rahwana dan antek-anteknya. Titah yang mereka pilih ialah yang sedang memayuhayuning bawana, yang memperjuangkan ketenteraman dunia.

Roh Rama masuk ke wadak Raja Negara Dwarawati Sri Bathara Kresna, jiwa Leksmana manjing (masuk) ke kesatria Pandawa Arjuna. Tidak ketinggalan, roh Sinta ikut mangejawantah bersemayam dalam diri Sembadra. Selain mereka, Anoman juga gerah melihat merajalelanya roh Rahwana dan balanya.

Ia senapati utama Rama, titisan Bathara Wisnu, dalam perang merebut Sinta dari cengkeraman Rahwana. Anoman pulalah yang mengubur Rahwana dengan Gunung Ungrungan. Bedanya dengan Rama, Anoman berusia panjang. Setelah rampungnya era Ramayana, ia dikisahkan masih hidup hingga zaman kekuasaan Kresna di Dwarawati. Dewa masih memberikan tugas kepada Anoman untuk kembali mengabdi kepada titisan Bathara Wisnu berikutnya, yaitu Kresna..

Sembadra diculik
Dalam kisahnya, Prabu Godayitma alias Dasakumara (roh Rahwana) menjadi raja di Negara Tawanggantungan. Ia memerintahkan para prajuritnya untuk merasuki siapa saja di marcapada.

Tujuannya mengobrakabrik tatanan dunia. Pada sisi lain, Godayitma sendiri masih
mengumbar nafsunya pribadi, memperistri putri titisan Bathari Sri Widowati. Setelah Sinta meninggal, Sri Widowati menitis kepada Dewi Sembadra. Godayitma memerintahkan anaknya, Megayitma (roh Indrajit), menculik adik Kresna yang telah menjadi istri Arjuna tersebut.

Pada suatu hari, Dwarawati gempar. Gara-garanya Sembadra hilang tiba-tiba tanpa jejak di taman kaputren. Kresna, yang waskita, mengetahui persis apa yang terjadi. Ia lalu menyuruh adik sepupunya, Arjuna, menemukan kembali Sembrada. Berbekal informasi dari mbok
emban Cangik dan Limbuk tentang awal hilangnya sang dewi, Arjuna langsung bergerak cepat.

Dengan bekal pusaka lenga jayengkaton, ia bisa melihat Sembadra dalam keadaan tidak sadarkan diri digendong secara gaib dalam kancing gelung sosok halus bermuka setengah raksasa bernama Megayitma.

Dengan mengerahkan ajian sepi angin, Arjuna mampu terbang dan melesat mengejar pencuri. Arjuna berhasil merebut Sembadra tanpa sepengetahuan Megayitma. Mereka kemudian kembali ke Dwarawati.

Anoman yang mengikuti laku Arjuna mengubah dirinya mirip dengan Sembadra dan kemudian masuk ke kancing gelung Megayitma. Proses Anoman menyamar itu juga tidak diketahui sang pencuri.

Megayitma, yang merasa tidak ada kesulitan apa pun menjawab tugas dari ayahanda, langsung masuk ke Istana Tawanggantungan. Di depan sang raja, Megayitma melaporkan keberhasilannya menculik Sembadra dengan mulus. Betapa bungahnya Godayitma. Lalu, sambil terkekeh kegirangan, ia meminta Sembadra.

Megayitma seketika menghaturkan sembah dan kemudian mengeluarkan ‘sosok’ yang ia simpan dalam kancing gelungnya. Namun, betapa kagetnya, karena yang ada ialah Anoman. Godayitma nyaris terjengkang dibuatnya. Ia marah luar biasa mendapati musuh bebuyutannya itu berada di depannya.

Ditambah bumbu dendam, Godayitna langsung melabrak. Dengan gagah berani, Anoman menghadapi gempuran lawan. Singkat cerita, ia berhasil merangket roh Dasamuka. itu hingga tidak berkutik.

Butuh jiwa Anoman
Kisah itu merupakan simbol rusaknya peradaban akibat merajalelanya roh Rahwana dan balanya yang memasuki para titah. Secara fi sik Rahwana memang telah tiada, tapi rohnya terus bergerak dan mencari mangsa dari zaman ke zaman untuk mengumbar keangkaramurkaan. Dalam konteks kebangsaan, masih maraknya praktik korupsi di negeri ini disebabkan masih banyaknya orang yang kosong jiwanya, minus spiritualnya. Mereka menjadi rumah nyaman bagi ‘roh-roh Rahwana’ yang rakus. Mereka menjadi para pengabdi kenikmatan duniawi. Pertanyaannya, bagaimana memberantasnya?

Dibutuhkan para kesatria seperti Anoman, wanara putih yang melambangkan jiwa yang bersih dan suci. Hanya Anoman (kesucian)-lah yang bisa melenyapkan Rahwana (kerakusan dan ketamakan). sanya dengan semangat puputan, yaitu mesti dengan cara-cara extraordinary atau habis-habisan. (X-7)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More