[CERPEN] Tender Baru

Penulis: Yuli Duryat Pada: Minggu, 17 Des 2017, 10:05 WIB Weekend
[CERPEN] Tender Baru

MI/Pata Areadi

SEPERTI tak menjejak tanah, seluruh tubuhku mati rasa. Udara begitu dingin, aku turun dari bus mini bercat melintang. Nomor 17A Mong Kok. Aku memandang eskalator panjang di depanku dengan tatapan kosong, menyelusuri geraknya dengan hati waswas.

Suara tok-tok sepatu suster berseragam merah jambu masih terngiang-ngiang di telingaku, sibuk berjejalan dalam pikiran. Bau obat yang mereka bawa menempel di hidung seolah bercokol di sana, meskipun jarakku kini terbentang berpuluh kilometer.

Rasanya, aku ingin menggantikan apa yang harus Lion derita. Dia masih terlalu muda kalau harus menerima beban begitu berat.

Tapi lihatlah anak kecil yang kini aku genggam tangannya erat-erat, tidak ada rasa takut atau sedih tersirat di wajahnya. Dia bahkan belum mengerti apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Menatapnya yang begitu polos membuat hatiku tercabik.

Aku menelpon suamiku ketika masih berada di Eye Hospital Kowloon City, tapi nomor hapenya tidak bisa diakses, mungkin dia sedang sibuk. Kami berjalan menyusuri lorong menuju MTR Mong Kok East.

Suara tik tok sepatu pengunjung mengusikku persis seperti suara sepatu suster di rumah sakit beberapa jam yang lalu. Rasanya aku ingin melempar mereka dan menyuruh untuk berjalan dalam senyap, suara langkah mereka sangat menggangguku.

Kalau saja tak malu dianggap gila dan digelandang polisi berseragam biru karena membuat keonaran di tempat umum, aku akan berteriak kencang sekadar untuk mengurangi rasa sakit di dadaku barang sedetik.

Tidak berapa lama, kami telah menyentuhkan kartu octopus atau kartu tiket prabayar ke atas mesin tiket dan masuk ke dalam stasiun tujuan Lo Wu/Lok Ma Chau.

Ah, mengapa hari ini begitu banyak orang. Bukankah ini jam sebelas siang di hari kerja, ah aku ingin sekali keluar dari kenyataan bahwa kota ini sangat padat penduduknya dan hidup sendirian saja di dalamnya.

Seharusnya kami turun di Fanling, tapi kami kebablasan. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi belanja di Sheung Shui, bukankah tadi pagi gairah masakku meluap dan ingin membuatkan mie pangsit untuk Lion.

Baiklah, aku akan turun di pasar tradisional untuk membeli bahan-bahan mie pangsit. Lagi-lagi harus siap berjejalan dengan pengunjung lain di pasar, tapi itu tak seberapa bila dibandingkan dengan begitu berharganya senyum Lion setiap menikmati mie pangsit butanku.

“Ibu kau lihat, ada pedagang ubi panggang. Aku mau ubi panggang, aku mau ubi panggang, Bu.” Lion berteriak girang dan berlari keluar kereta, membuatku sibuk mencegahnya berlari agar tak menabrak penumpang lain.

Tak jauh dari tempat kami menempelkan octopus, bus nomor 270A yang membawa banyak penumpang menuju stasiun berdecit, diteruskan suara pintu depan dan tengah terbuka secara bersamaan.

Aku tidak bisa menahan gemuruh rasa yang berkecamuk dalam dadaku. Aku tidak bisa tenang saat tatapan mataku berbenturan dengan Lion yang berkedip memohon dibelikan ubi panggang.

Tepat di sebelah setopan bus Sheung Shui yang letaknya sejajar dengan stasiun, pasutri paruh baya menjajakan dagangan yang diaduk dengan bilah panjang, dalam wajan hitam besar berisi batu kecil di atas bara. Ubi, buah sarangan/Chinese chestnut, telur puyuh, mengepulkan bau yang khas.

Asap merebak sekitar, menyembulkan hangat nyaman di tengah udara bulan Desember yang beku. Suasana begitu ramai, banyak warga dari Tiongkok beriring memenuhi jalanan. Sebagian membawa koper-koper besar dan berdandan tebal. Sebagian sibuk dengan rombongannya, berbicara dalam bahasa Mandarin.

Aku menarik Lion untuk berdiri dengan jarak yang agak jauh dari tempat mereka turun. “Ibu, boleh ya.” “Tentu saja, tunggu sebentar, ibu ambil uang dulu.”

Aku tersenyum ke arah Lion dan mengambil uang dalam tas kecil, sambil membenahi jaket panjangku yang tersingkap angin. Ia sudah menerobos kulit betisku hingga membuatku merinding, angin yang tidak punya sopan santun. “Ayo.” Aku menyerahkan uang dan menerima bungkusan berwarna coklat dari penjual, menarik tangan Lion untuk segera menyingkir dari tempat yang juga berselimut asap rokok itu.

Aku mengurungkan niat belanja di pasar tradisional dan mengajak Lion naik bus lagi, ah gairah memasak yang pagi tadi menyembul-nyembul kian tipis dimakan kecamuk dalam dadaku. Oh, Tuhan, sebegitu sayangkah Kau kepadaku sehingga menumpukkan beban ini di atas pundaku, jangan Kau kira Kau akan berhasil membuatku lemah. Aku menarik bibirku ke samping.

Aku mengantri di setopan bus yang tak jauh dari tempat kami itu, untuk naik bus nomor 279X. Oh Lion, setiap aku melihatnya, rasanya aku tak membutuhkan apa pun selain senyumnya. Senyuman ajaib pengobat segala lara. Aku menggendong bocah kecil itu dan memeluknya erat. “Ibu, aku sesak nafas.” Rintihnya.

Aku mengendurkan pelukanku dan meminta maaf padanya. “Kau mau makan sushi, Sayang?” “Ya, Ibu.” “Gimana kalau hari ini kita ke Okihari?” “Hm.” Lion tersenyum riang, dia sangat suka makan di restoran Jepang satu ini, bukan semata-mata karena dia suka sushi, tapi justru dia lebih tertarik menangkap makanan yang berputar di meja panjang melingkar.

Dia selalu asik menangkap banyak-banyak makanan meskipun pada akhirnya akulah yang harus menghabiskan makanan yang ia ambil. Aku senang melihatnya tertawa, bebanku akan luntur begitu aku melihat wajahnya yang riang meski hanya sementara.

Heh, Tuhan, aku berterima kasih pada-Mu karena Kau telah memberi Lion untukku. Dia adalah segala rasa bagiku. Kami menaiki bus menuju mall Fanling yang tidak begitu besar.

Lion dengan antusias memencet bell tanda pemberhentian bus ketika kami sudah sampai di bawah bangunan berwarna silver itu. Ramai orang membeli buah murah di pinggir jalan, tepat di pemberhentian bus berwarna hijau tak jauh dari eskalator yang menghubungkan jalan dengan jembatan kecil menuju mall. Meski bukan hari libur, pengunjung penuh sesak memenuhi jembatan tersebut.

Seharusnya aku memilih jalan alternative di bawah mall, dengan menyebrangi jalan yang dilalui bus. Walau kesal, tapi rasanya aku ingin berada dalam keramaian, meskipun terkadang keramaian membuatku semakin kesepian.

Aku belum memberitahukan kabar Lion pada suamiku, aku tidak mau membebaninya, sementara dia sedang bekerja di Tiongkok. Setelah telponku di rumah sakit, aku tidak berniat untuk menelponnya lagi. Sudah hampir tiga bulan ini dia belum pulang. Dalam telponnya yang terakhir, dia memberitahukan kalau dia menerima tender baru dari kantornya. Aku memaklumi karena dia sudah sangat sering menerima tender dan dia adalah orang kepercayaan bosnya.

“Ibu, ada air jatuh di pipimu, apa itu air AC yang jatuh seperti tadi pagi di rumah sakit? Kita harus beri tahu koki di sini.” Lion mengulurkan selembar tissue ke arahku untuk mengelap pipiku yang basah.

“Oh, terima kasih, Sayang. Biar ibu saja yang bilang padanya ya.”

“Biar Lion saja, Bu. Lion kan mau belajar berani biar bisa menjaga Ibu.” Dia sudah turun dari tempat duduknya dan menemui satusatunya pelayan yang mengenakan jas. Dia tidak tahu kalau air di wajahku adalah air yang keluar dari mataku sendiri.

Aku memperhatikannya dari tempatku duduk dan menggangguk pada pelayan yang seketika memandang ke arahku. Satu menit kemudian Lion berlari dan duduk kembali di depanku, kembali sibuk dengan piring-piring kecil berisi sushi yang berbeda setiap piringnya. Mulutnya penuh. Pelayan di hadapan kami yang memakai celana hitam, kemeja, celemek, dan ikat kepala putih tersenyum memandang wajah lucu Lion, kemudan kembali sibuk membuat sushi dan mengisi piringpiring yang kosong di hadapannya.

Sejenak aku memperhatikan pelayan yang berwajah menyenangkan tersebut, juga gerak tubuhnya yang cepat dan cekatan. Pelayan yang barusan Lion temui menghampiri kami.

“Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan di restoran kami, kami akan segera memperbaiki pendingin udara di sini.” Dia membungkuk di depanku dan meminta maaf, aku hanya mengangguk meskipun aku tahu kalau dalam ruangan tersebut tidak menyalakan pendingin ruangan dan justru sebaliknya penghangat ruangan.

Aku kembali memperhatikan Lion dan tidak menyadari laki-laki di hadapan kami tetap berdiri untuk beberapa jenak, memperhatikan kami makan, baru kemudian dia meninggalkan kami. Di luar restoran, pengunjung mulai penuh mengantri, seorang resepsionis melayani mereka dengan ramah dan memberikan kertas kecil tertera nomor antrean.

Sesekali ketika pengunjung keluar dan pelayan lain sudah membersihkan bekas duduk mereka, resepsionis berparas cantik itu memanggil pengunjung yang mengantri di luar untuk masuk. Dari arah pintu, muncul seorang perempuan yang menggendong anak kecil seumuran Lion.

Dia memanggil manja kepada seorang laki-laki yang wajahnya masih tertutup tirai pintu, ketika dia memajukan langkahnya, aku terkesiap. Wajah yang sangat familiar bagiku, aku lihat mata laki-laki itu menyapu isi ruangan sebelum menyapu wajahku, terkejut.

Suamiku, ia menggandeng seorang yang terlihat dari cara dandan dan bicaranya adalah warga Tiongkok itu untuk masuk. Jadi itu tender baru yang dibicarakan suamiku di Tiongkok selama ini. Dan apa panggilannya tadi pada suamiku, “Lokung.”

Terdengar panggilan bernada sayang yang berarti ‘suami’ itu mengiris hatiku. Aku seketika itu mengurungkan niatku untuk menceritakan Lion yang menderita ablasio retina dan terancam buta kepada suamiku.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More