Mitigasi Bencana di Indonesia Timur Belum Maksimal

Penulis: Indriyani Astuti Pada: Sabtu, 16 Des 2017, 21:44 WIB Nusantara
Mitigasi Bencana di Indonesia Timur Belum Maksimal

ANTARA FOTO/Khairun Nisa

MITIGASI bencana di wilayah Indonesia timur cenderung lebih lambat dibandingkan dengan Indonesia bagian barat.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, pada saat bencana alam terjadi seperti gempa, selalu terjadi kerusakan karena mitigasi bencana minim.

Menurutnya bangunan-bangunan yang dibangun serta tata ruang belum mempertimbangkan ancaman gempa. Itu, ujar Sutopo, yang sering kali menyebabkan korban jiwa dan kerugian.

Di Indonesia, sambungnya, hampir setiap tahun terjadi gempa. Tidak terkecuali di wilayah Indonesia bagian timur. Terkait penanganan dan mitigasi bencana misalnya tsunami, diakui Sutopo untuk wilayah Indonesia Timur cenderung lambat.

"Infrastruktur untuk mitigasi tsunami masih sangat minim. Jaringan seismograf, sirine juga sangat minim,' ujar Sutopo saat konferensi pers penanganan Gempa 6,7 SR yang mengguncang selatan Jawa di Graha BNPB, Sabtu (16/12).

Selain infrastruktur, Sutopo mengatakan sumber daya manusia di wilayah Indonesia timur juga terbatas. Oleh karena itu, BNPB meminta agar Indonesia memberikan perhatian yang besar untuk melakukan riset-riset kegempaan dan tsunami di Indonesia bagian Timur.

"Baik peningkatan mitigasi maupun kapasitas aparat pemerintah daerah setempat dan masyarakat yang perlu ditingkatkan," pungkasnya.

Dia menyampaikan Indonesia rawan terjadi gempa kecuali Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Sebab, banyak wilayah Indonesia berada di zona subduksi atau pertemuan lempeng yang setiap tahunnya mengalami pergeseran. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More