Belajar Jujur di Festival Antikorupsi

Penulis: GALIH AGUS SAPUTRA mediaanak@mediaindonesia.com Pada: Minggu, 17 Des 2017, 02:00 WIB MI Anak
Belajar Jujur di Festival Antikorupsi

DOK GALIH

KINI sobat Medi juga bisa belajar bareng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), lo. Dalam Festival Anak Jujur 2017 yang dikemas melalui sosiodrama itu, Sobat Medi dapat mengenal berbagai macam persoalan agar tidak berbuat curang. Sobat Medi diajak bermain peran, berdiskusi, dan mengenali berbagai macam permasalahan, serta mengupas nilai kehidupan saat terlibat dalam sosiodrama. Tidak lupa pula, Sobat Medi diajak mencari solusi atas permasalahan sosial yang kerap terjadi di lingkungan sekitar. “Tujuannya supaya tertanam pengalaman membiasakan yang baik dan berani berbeda di jalan yang benar,” kata Bapak Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, seusai membuka Festival Anak Jujur 2017, di Gedung Merah Putih KPK, Sabtu (2/12).

Jujur dari rumah, sekolah, dan lingkungan
Dalam sosiodrama Festival Anak Jujur 2017, sobat Medi dapat belajar menyinergikan tiga pilar utama lingkungan pendidikan yang terdiri dari rumah, sekolah, dan lingkungan. Dalam tiga pilar utama itu pula, sobat Medi dapat mengasah tiga komponen penting karakter diri mulai dari pengetahuan yang baik (moral knowing), perasaan yang baik (loving good), dan perilaku yang baik (moral action). Menurut Sutradara Sosiodrama Festival Anak Jujur 2017 Pak Willem Bevers, segala materi yang diberikan kepada sobat Medi itu tujuannya untuk memberitahukan bagaimana asyik dan serunya menjadi anak jujur.

“Total ada tiga cerita sosiodrama yang diikuti anak-anak dalam festival. Sebenarnya ada banyak nilai yang terkandung dalam tiga segmen tersebut, tapi garis besarnya cuma satu, yaitu kejujuran,” tuturnya. Sobat Medi dipandu Kakak Koordinator Lapangan Dayat Madany saat bermain dalam tiga segmen sosiodrama Festival Anak Jujur 2017. Kata Kak Dayat, sosio drama itu sangat baik untuk dijadikan metode pembelajaran karena dari sini Sobat Medi tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga memiliki pengalaman langsung yang lebih konkret. “Melalui metode pembelajaran ini, kita ingin menghadirkan tiga segmen untuk anak-anak agar mereka dapat memperoleh pengalaman dari tempat yang satu ke tempat yang lain, dan bagaimana seharusnya problem-problem keseharian itu mereka hadapi,” tuturnya.

Belajar bersama Krisna dan Damar
Tiga segmen sosiodrama Festival Anak Jujur memiliki set area masingmasing. Segmen pertama yang bercerita tentang Krisna dan Damar berlangsung di kelas, kemudian segmen kedua yang bercerita tentang Putri, bersama ibu dan adiknya berlangsung di sebuah ruang tamu. Sementara itu, kisah seorang pelatih sepak bola bersama dua orang muridnya berlangsung di sebuah taman. Dalam segmen pertama, sobat Medi akan berperan menjadi murid seperti di bangku sekolah pada umumnya. Namun, pada kesempatan ini, sobat Medi memiliki dua orang teman bernama Krisna dan Damar. Damar suka membully Krisna karena sering terlambat masuk kelas.

Ia mengatakan Krisna itu sering telat masuk kelas karena kakinya pincang dan jalannya lambat. Padahal, di sisi lain, Krisna menganggap Damar juga punya kekurangannya sendiri, yaitu tompel besar berwarna hitam di mukanya. Singkat cerita, Damar mengaku bersalah atas perbuatannya terhadap Krisna begitu juga sebaliknya. Akhirnya, mereka saling meminta maaf hingga kemudian menjadi sahabat. Apa yang sobat Medi dapat petik dari kisah ini adalah, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masingmasing. Oleh karena itu pula, sebaiknya Sobat Medi saling menghargai satu sama lain dan tidak saling menjatuhkan dalam sebuah hubungan pertemanan.

Bermain di rumah Putri
Sosiodrama segmen kedua bercerita tentang Putri, yang tinggal di sebuah rumah bersama ibu dan adiknya. Dalam segmen ini sobat Medi berperan sebagai teman Putri yang datang berkunjung ke rumahnya. Pada kesempatan tersebut, sobat Medi akan menyaksikan bagaimana Putri mengajak adiknya bersekongkol untuk berbohong pada ibunya. Persekongkolan itu diatur Putri agar ibunya tidak tahu kalau vas bunga kesayangannya telah dijatuhkan Putri sampai pecah. Akan tetapi, adik Putri tidak mau diajak berbohong. Ia tetap bercerita soal vas bunga itu pada ibunya, dan kebohongan Putri pun terbongkar.

Dari cerita ini, sobat Medi dapat mengerti bahwa bagaimanapun juga berbohong itu tidak benar dan tidak dapat disembunyikan. Sobat Medi tidak perlu takut akan kesalahan masingmasing karena dapat mempertanggungjawabkannya. Seperti Putri, yang pada akhir bercerita terus terang atas perbuatannya dan meminta maaf pada ibu dan adiknya.

Sepak bola bersama Denis dan Adit
Pada segmen ketiga Festival Anak Jujur 2017, sobat Medi diajak bertemu dengan Kakak Rio. Ia pelatih sepak bola yang pada kesempatan ini mengajak sobat Medi bermain sepak bola di taman. Namun, pada saat sobat Medi asyik bermain, muncullah Denis dan Adit. Mereka ini adalah anak-anak yang selama ini dilatih Kak Rio. Denis dan Adit tidak mau bermain bersama karena sobat Medi tidak mengenakan pakaian dan sepatu sepak bola. Padahal Kak Rio tidak mempermasalahkan hal itu karena pada kesempatan tersebut bukan saatnya latihan, melainkan hanya permainan biasa.

Melihat keadaan seperti itu, Kak Rio kemudian membujuk Denis dan Adit untuk bermain bersama sobat Medi. Ia berkata pada Denis dan Adit bahwa pilih-pilih atau membeda-bedakan teman karena identitasnya masingmasing itu tidak baik. Denis dan Adit akhirnya paham akan hal tersebut hingga kemudian bersedia bermain sepak bola bersama meskipun sobat Medi tidak mengenakan pakaian dan sepatu sepak bola. Denis dan Adit akhirnya paham akan kebersamaan di dalam sebuah perbedaan.

Dalam Festival Anak Jujur 2017, sobat Medi juga dapat mencari teman sebanyak-banyaknya di samping dapat memetik sejumlah pengalaman berharga melalui sosio drama. Sebab, Festival Anak Jujur 2017 melibatkan ribuan peserta yang terdiri dari pelajar, guru, komunitas, regulator, keluarga, dan media se-Jabodetabek. Tidak hanya itu, Festival Anak Jujur juga terbuka bagi masyarakat umum dan sekolah nonformal (komunitas homeschooling). (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More