Fesyen yang Mencintai Alam

Penulis: SITI RETNO WULANDARI wulan@mediaindonesia.com Pada: Minggu, 17 Des 2017, 00:31 WIB Pesona
Fesyen yang Mencintai Alam

DOK IFI

GAMIS berwarna kuning kunyit itu tampil bernuansa etnis dengan material tenun di bagian depan. Sebagai pelengkapnya ialah cape pendek yang juga berbahan tenun, tetapi dalam motif garis vertikal. Motif tenun dan warna- warna alam yang digunakan itu rupanya merepresentasikan keindahan alam dan budaya Lombok, Nusa Tenggara Barat. Rinjani, demikian tema yang dibuat sang desainer, Tahani Eramorfi s, untuk koleksi kelulusannya dari Islamic Fashion Institute. Selain Tahani, peragaan yang berlangsung di Click Square, Bandung, Selasa (5/12), itu juga menampilkan koleksi dari lima lulusan batch 2 IFI lainnya.

Mereka ialah Ike Sulaeman, Nisrin Rizkiah Basalamah, Ai Sulitiani, Putri Mardika Rulistiani, dan Naurah Putri Supratman. Keenam lulusan itu berupaya mewujudkan tema besar yang dipilih IFI, Revati. Dengan terinspirasi dari isi Surah Huud ayat 61, tema tersebut merupakan seruan agar manusia mengolah sumber daya alam dengan tujuan kemakmuran dunia dan akhirat. Sisi religius memang kental sebab IFI memang memosisikan diri sebagai sekolah fesyen muslim. Bagi Tahani, gambaran sumber daya alam yang harus diolah demi kemakmuran jangka panjang itu, salah satunya, ada di Lombok, termasuk di wilayah Gunung Rinjani.

Untuk melengkapi keindahan itu, ia juga mengangkat sisi budaya, yakni baju khas suku Sasak, lambung. Baju lambung umumnya berupa padanan blus seperut dengan potongan leher V dan lengan pendek. Baju itu bisa dikenakan dengan padanan kain hitam ataupun kain tenun berwarna-warni. Ada pula kain tenun yang disampirkan di dada ataupun dililitkan di pinggang. “Jadi, baju lambung saya bentuk menjadi model outer dan cape sementara untuk gaunnya bersiluet A sehingga menghadirkan kesan sederhana, tetapi elegan,” imbuh Tahani kepada Media Indonesia, Rabu (13/12).

Model aksen dengan kain yang menjulur juga terlihat di koleksi Ai Sulistiani dan Ike Sulaeman. Namun, dalam koleksi Ike, kainkain berhias bordir bermotif fl ora. Potongan busananya sendiri berupa gamis, dengan rok lebar ataupun lipit yang dipadankan dengan bolero
maupun coat dengan potongan asimetris ataupun bersudut tajam. Ike memilih palet warna hitam, putih, dan oranye. Ike yang mengambil inspirasi dari upacara minum teh Jepang menjelaskan dirinya mengadopsi potongan kimono. Akan tetapi, ia tidak meniru persis. Ike memodifikasi dengan menaruh bukaan pada bagian belakang.

Seperti terlihat pada rancangan berwarna abu dan hitam, pada bagian atasan tampak detail garis yang ternyata merupakan lipitan. Lalu dipermanis dengan ornamen berupa daun teh yang dibuat melalui teknik bordir. “Bahan dasarnya linen lalu saya buat pleats untuk memberikan kesan bambu yang identik dengan ruangan di Jepang, pun sebagai tempat upacara minum teh berlangsung,” katanya.

Gaya Maroko
Tak hanya lulusan IFI yang berkesempatan untuk mempresentasikan karyanya, tetapi juga ada perancang ternama di dunia busana modest, Irna La Perle. Bertajuk Morocco fusion, Irna terinspirasi pada kaftan Maroko yang kemudian dipadukan dengan gaya khasnya gaun dengan nuansa lembut seperti dusty pink. Ada pula outer dengan detail ornamen keemasan pada bagian pinggirnya, berpadu gaun dusty pink terlihat mewah, tetapi tetap sederhana. Irna menggunakan material berupa organza, tule, dan jacquard dan juga bubuhan mutiara serta swarovski. Permainan pada bagian pinggang juga banyak terlihat sehingga meninggalkan efek mengembang pada bagian bawahnya. (M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More