Semangat Kebersamaan dari Street Artists

Penulis: ABDILLAH M MARZUQI abdi_zuqi@mediaindonesia.com Pada: Minggu, 17 Des 2017, 00:01 WIB Tifa
Semangat Kebersamaan dari Street Artists

MI/ABDILLAH M MARZUQI

JEMARI tangannya begitu luwes dengan kaleng pewarna semprot. Ia tampak begitu nyaman dengan kaleng itu. Tak terlihat bagaimana ia berpikir untuk menyikapi tembok yang membentang di hadapannya. Seolah semua telah ada dalam pikirannya. Yang ia butuhkan hanyalah sebuah saluran untuk mewujudkan ide dalam kepalanya menjadi bentuk nyata berwarna di tembok. Hanya itu. Sembari beberapa kali ia masih memberikan salam hangat untuk para teman yang memberikan apresiasi. Sejenak bersalam dan bersapa, ia kembali dengan kalengnya. Sedang musik masih terus menghentak, begitupun Rubso masih menghentakkan idenya untuk keluar melalui seprotan-seprotan panjang.

Rubso ialah salah seorang seniman yang berturut dalam Street Dialin ke-11 yang digelar pada 12-18 Desember 2017. Ia mengaku tidak punya konsep untuk gambarnya di dinding Third Eye Space. Ia hanya mengikuti bagaimana ide meluncur keluar. Ia hanya harus mengikutinya. “Enggak ada konsep. Mengalir saja,” ujar Rubso ketika ditanya tentang konsep karyanya. Street Dialin merupakan sarana berkumpul, berkomunikasi, bertukar budaya, mendukung, dan merayakan eksistensi kultur grafiti. Tahun ini, acara yang diinisiasi Gardu House itu akan semakin ramai karena dilaksanakan di dua tempat utama dan tiga galeri berbeda. Area gambar dan titik kumpul di Jalan Jatayu dan Gudang Sarinah Ekosistem. Ruang pamer berlokasi di D’Gallery, Third Eye Space, dan Ruru Galery.

Menurut Gardu House Kadiv Party Collective Exhibition Budi Cole, terdapat dua gagasan, pertama ialah memunculkan tantangan bagi para seniman street artist. Para seniman yang terbiasa dengan medan gambar besar di luar ruangan ditantang untuk bisa menciptakan karya dengan medium kanvas. “Gagasan intinya yang pertama adalah bagaimana kita men-challenge teman-teman street artist yang biasa gambar di jalan untuk bikin dan nampilin sesuatu yang baru di atas kanvas. Biasanya di jalanan itu kan seliar mungkin bikin yang besar-besar. Cuma kali ini kita tantang sama Gardu House, kita pamerin di galeri-galeri mapan,” terang Budi.

Lokasi Third Eye Studio supaya mendapatkan sudut pandang baru dari sisi fotografi. Berbeda dengan D Gallery yang berada di dekat Jalan Barito, pihaknya ingin melihat potensi street art maupun grafiti ketika masuk ke ruang galeri. Gagasan kedua ialah untuk memunculkan nama-nama seniman grafiti baru. Masih banyak potensi seniman yang belum banyak dikenal. Padahal karya mereka tidak kalah dengan nama-nama yang terlebih dulu tenar. “Gagasan kedua ialah bagaimana teman-teman di Gardu House memunculkan nama-nama baru di dunia street artist khususnya grafiti,” tegasnya.

Kolaborasi antarseniman
Street Dialin tak hanya menawarkan kegiatan live painting dari para seniman, tetapi ada juga bazar seni dan penampilan musik dari band subkultur Tanah Air. Street Dialin kali ini malah lebih meriah dengan berbagai kegiatan, seperti pameran, program kampung, kegiatan lintas komunitas, dan skate. Street Dialin pertama kali diadakan pada 2011 sebagai ajang berkumpul dan bertransaksi barang-barang kebutuhan grafiti di Jakarta dan sejumlah kota lain di Indonesia. Awalnya memang hanya berupa bazar seputar grafiti. Seiring dengan berjalannya waktu, Street Dialin melebarkan sayap. Salah satunya dengan berkolaborasi karya antarseniman grafiti dengan live music hingga mengampanyekan grafiti kepada masyarakat sebagai sarana mempercantik lingkungan.

Para seniman yang hadir tak hanya dari dalam negeri saja, tetapi juga datang dari berbagai negara, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Singapura, Jerman, Belgia, dan Selandia Baru. Gardu House merupakan sebuah artspace yang didirikan pada 2010 oleh para pelaku grafiti yang tergabung dalam kelompok Artcoholic. Seiring dengan berjalannya waktu, Gardu House bertransformasi menjadi kanal komunikasi dan berkarya bagi komunitas grafiti di dalam dan luar negeri. Kini, Street Dealin memasuki usia penyelenggaraan yang ke-11. Festival street art dan grafiti ini semakin mengukuhkan namanya dengan hadirnya para seniman Indonesia dan mancanegara. Program pun dibuat lebih berwarna, seperti menggambar di kampung, pameran kolektif, edukasi, dan kumpul lintas komunitas.

Untuk pameran kolektif, sebanyak 17 seniman grafiti yang terlibat di Street Dealin ke-11 akan diundang untuk memamerkan karya mereka di ruang pamer atau galeri. Setiap seniman memproduksi tiga karya untuk dipajang di tiga galeri berbeda, yakni D’Gallery, Third Eyes Space, dan RURU Gallery. Selain itu, masih ada pameran Two Wheels, yakni proyek kerja sama dengan komunitas motor. Sebanyak 20 seniman terlibat dalam program, empat seniman bakal tampil live menunjukkan keahlian mereka, dan tiga karya film ditayangkan.
Program edukasi diisi dengan pemutaran film, diskusi pertukaran budaya, dan lokakarya komunitas. Tahun ini pembahasannya adalah lintas komunitas sebagai ajang berkumpul, berkoneksi, dan berkembang bersama.

Pada puncak acara, Pesta Big Bang! yang dimaksudkan sebagai acara kumpul lintas komunitas. Big Bang! ialah acara puncak dari Street Dealin ke-11 yang menjadi ajang selebrasi untuk komunitas grafiti. Di sini para pegiat street art dan grafiti dapat bertemu dan menyaksikan pesta grafiti, musik hip hop, pertunjukan skate, dan peragaan busana. “Kita mengedepankan asas senang-senang. Yang paling penting senang-senang. Teman-teman dari luar kota datang, rasain kesenanganya, rasain festivalnya. Itu sebenarnya hal yang diutamakan jika dibandingkan dengan yang lain,” pungkas Budi. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More