Siti Kewe, Cara Lain Menikmati Kopi Gayo

Penulis: Administrator Pada: Sabtu, 16 Des 2017, 11:00 WIB Humaniora
Siti Kewe, Cara Lain Menikmati Kopi Gayo

Penerbit: Swarnadwipa

PERBINCANGAN tentang kopi kian marak. Di kalangan kaum muda, ada semacam kecenderungan gemar ngopi di rumah, di kedai kopi pingiran jalan, di kota maupun di pelosok desa. Sebagian dari mereka telah pula mencoba bertaruh hidup menjadi petani dan pemasar, sedangkan yang lain memilih menjadi konsumen, penikmat, dan pengemar aneka jenis kopi.

Daerah dengan ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut ini memiliki perkebunan kopi terluas di Indonesia, yaitu sekitar 81 ribu hektare. Tanah Gayo ini berada di bagian tengah Provinsi Aceh, secara administratif dataran tinggi Gayo meliputi wilayah Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah serta Kabupaten Gayo Lues. Tiga kota utamanya, yaitu Takengon, Blang Kejeren, dan Simpang Tiga Redelong.

Novel perdana karya perempuan kelahiran Medan Sumatra Utara ini, mengambil lokasi se­tingan di kawasan Tanah Gayo. Tiga tokohnya menjadi poros utama mengaduk-aduk emosi di dalamnya. Bahasa yang diungkap cukup ringan sehingga mudah dimengerti dan kaya informasi serta memperlihatkan bakat alami penulis sebagai penulis berlatar jurnalis. Membaca setiap tulisan dalam buku ini, penulis ingin memperkenalkan komoditas uta­ma yang begitu memikat selera, kopi gayo, suku Gayo, Tanah Gayo, dan sejumlah destinasinya yang layak menjadi tujuan wisata.

Kemampuan mengemas cerita sarat nuansa Gayo ini, seakan Raihan yang bermarga Lubis telah dirasuki jiwa dan roh nya Reje Linge (Raja di kerajaan Linge-Gayo). Bagaimana tidak, sejumlah plot dialog disajikan dalam bahasa Gayo. Dialog-dialog itu dihidupkan kembali seakan menjadi tutur kesehariannya.

Di awal novel bisa ditebak relasi-relasi tentang suku Aceh, Gayo, dan Jawa. Tiga suku ini selalu menarik di bahas, pun novel ini tetap meneguhkan keharmonisan antarsuku-suku. Mereka menjalin kehidupan bersama dan menyatu di perdalaman Aceh.

Cerita tokoh utama Erwin tentang operasi militer di masa-masa reformasi yang akhirnya merembes ke sekitar kampung mereka. Erwin dengan tokoh aku bercerita tentang penculikan dan penembakan yang masih samar-samar, dan berita lain tersebar bahwa kampung-kampung mulai dijarah dan dibakar. Peristiwa itu semakin terang benderang ketika sekolah dan kantor pemerintahan ikut dibakar OTK, istilah yang amat populer di media massa kala itu untuk menyebut pelaku Orang tak Dikenal.

Konflik bersenjata memang menjadi sisi lain yang akan terungkap dalam novel Siti Kewe. Keadaan serba mencekam kala itu menyebabkan warga lari mengungsi. Namun karena butuh makan, para petani pun bersiasat. Di situlah kaum perempuan mengambil peran penting. Mereka turun mengurusi kebun, me­nyiangi pohon-pohon, membabat rumput hingga memanen kopi. Dalam novel ini Raihan Lubis juga menyisipkan pujian pada sosok perempuan Gayo.

Tidak hanya monoton pada kopi dan konflik bersenjata, cerita dalam novel ini juga dibalut dengan perdamaian antara GAM dan pemerintah, sehingga meng­akhiri rentetan huru-hara di Bumi Serambi Mekah. Meski begitu, penulis juga tidak lupa menyorot bencana maha dasyat Tsunami yang melanda Aceh pada 2004.

Preferensi literasi
Meninggalkan profesi sebagai jurnalis tidak membuat Raihan Lubis berhenti dari dunia tulis menulis, malah pengalamannya menjadi jurnalis berbuah bentuk menjadi sebuah buku novel berjudul Siti Kewe. Meski demikian, pergulatan untuk melahirkan novel ini sungguh luar biasa baginya.

“Saya harus berkelahi dengan waktu kerena kesibukan saya sebagai ibu tiga anak, ibu pekerja, dan seorang komuter pula. Perjalanan dari Bogor saban pagi harus saya tempuh selama lebih kurang satu setengah sampai dua jam, untuk tiba di kantor saya di Jakarta,” katanya.

Raihan menyebutkan, novel Siti Kewe terinspirasi dari pengalaman liputannya selama di Aceh. Saat ia masih berprofesi sebagai jurnalis sekitar 2000-an. Raihan menemukan banyak kisah yang saat itu tidak bisa ia tuliskan. Walaupun beberapa bagian dalam novel ini merupakan hasil imajinasi.

Antropolog Aceh, Teuku Kamal Fasya mengatakan membaca no­vel ini seperti merasakan wewangian biji kopi dan dinginya kaki Gunung Bur Ni Telong menyatu dengan napas keberagaman dan kerumitan masyarakatnya. Kisah sekompleks dan setua peradaban Gayo yang mesolitik dialog dalam noval ini merupakan keterampilan penulis untuk masuk ke lapisan karakter tokoh dengan ragam psikologis kesedihan, putus asa, perasaan hampa, dan cinta yang mengerjap-ngerjap.

“Kelahiran mantra-mantra dalam sebuah kebudayaan semata harus dimaknai secara simbo­lis. Di Aceh pesisir juga punya tradisi seperti Khanduri Blang, perayaan yang bersifat simbolis, sama halnya tradisi Rabu Abeh, di beberapa wilayah hal ini kadang berbenturan dengan konteks politis, sehingga dianggap bidah dan segala macam, padahal ini punya makna yang lebih besar dari apa yang terlihat di permukaan,” sebutnya. (FD/M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More